JENGGOTNYA KAMU
Jujur, aku nggak suka jenggotmu. Tapi kamu cinta mati pada jenggotmu. Sering, aku ngambek karena jenggotmu tak jua kau cukur. Tapi kamu seringkali cuek "Saat berpikir keras, aku harus elus-elus jenggotku," Itu alasanmu. "Tapi jenggot itu bikin kamu jadi serem. Kayak pencopet. Kayak teroris." Aku merajuk. "Ya, kapan-kapanlah kucukur. Kalo lagi pengen." Kamu berkata kalem. Aaaargggg!! Aku sebel banget sama jenggot kamu. Kadang, kupikir kamu lebih sayang jenggotmu ketimbang aku. Apa susahnya sih memenuhi pintaku yang satu ini? Apa sulitnya pergi ke tukang cukur dan cukur jenggotmu hingga bersih? Apa susahnya tampil lebih rapi. Demi aku...demi aku, sayaang.... "Cinta itu menerima apa adanya, termasuk jenggotku." Kamu mengedipkan mata. Aku terdiam. Iya juga sih, tetapi...tetapi...aaarggggghhh!! Aku sebel.Aku nggak suka pria berjenggot. "Nyatanya, kamu tetap sayang aku kan? Tetap jadi pacarku kan?" Kamu malah menggodak...