Minggu, 19 Mei 2013

UNTUNG e-KTP NYA BELUM JADI

Berita yang lagi heboh mengenai e-KTP nggak boleh difotocopy bikin saya merasa beruntung. Kenapa beruntung? Yah, karena e-KTP saya belum kelar sampai saat ini. Coba kalo udah selesai KTP nya, mungkin udah dicopy berulang-ulang buat berbagai keperluan. Jadi, ada untungnya toh. He he he....Dibalik segala sesuatu yang keliatannya nyebelin emang pasti ada kebaikannya. 

Oke, sebenarnya bukan soal itu yang mau saya ngomongin di artikel ini. Tapi, kesiapan pemerintah dalam pembuatan e-KTP. Kalo emang dari awal udah tau gak boleh dicopy kenapa beritanya baru sekarang sih? Atau emang waktu lagi gencarnya bikin e-KTP pihak-pihak terkait belum tau kalo e-KTP nggak boleh dicopy? Atau, sebenarnya boleh dicopy, cuma...karena satu dan lain hal (you knowlah), dibikin heboh seolah-olah nggak boleh dicopy? Siapa yang tahu, kalau berita e-KTP nggak boleh dicopy bisa mendatangkan keuntungan para pembuat card reader. Pabrik-pabrik card reader bakal laris manis dong. Terus, pihak-pihak yang menggemborkannya kira-kira kecipratan nggak ya? Silakan tebak aje sendiri deh.

Tanpa bermaksud menuduh, kayaknya semua orang juga bakal menduga ke arah sana toh. Soalnya, mendadak aja ada pemberitaan gak boleh dicopy. Yah jelas mana mungkinlah KTP nggak dicopy sama sekali. Kalo mau jual beli rumah kan notarisnya minta copy KTP. Mau sewa rumah juga gitu. Mau buka rekening di bank apalagi. Lha, apa semua bank, notaris dan para pihak yang butuh copy KTP harus punya card reader? Oalah, ribet amat! Ini jelas menguntungkan para penjual card reader kan? 

Lalu, gimana kalo udah terlanjur dicopy ? Mengingat beritanya baru aja heboh sementara e-KTP sudah menyebar kemana-mana. Sudah banyak yang dapat. Akh, tak tahulah awak nih. Kalo dipikirin jadi pucing...mending bobo aja deh.

Sabtu, 18 Mei 2013

BUKU ITU CANDU

Buku, aku mencandumu...
Seperti kata mbah Surip
Kamu kugendong kemana-mana...
Ke gereja kubawa satu
Ke mal kubawa satu
Ke kantor klien kubawa satu
Saat menunggu tak lagi bikin jemu
karena kamu bersamaku.....

Tumpukanmu bertebaran di meja kerja
Tak bosan kutatap dirimu
Setiap detik, setiap menit dan setiap jam..
Setiap waktu deeeh....


Note : Puisi gajebo si pecandu buku...



BACAAN BULAN INI


Penulis : Adeliany Azfar
Penerbit : Bukune

Pertama kali lihat buku ini, saya naksir sama covernya. Sweet amat kayak permen gitu. Terus, iseng aja saya beli. Eh, pas baca kisahnya...gak bikin nyesel lho. Meskipun ceritanya soal cinta-cintaan segitiga gitu, tapi karena setiap bab dan setiap perasaan plus karakter para tokohnya dilukiskan dengan warna, novel ini jadi unik dan menarik. Kalimatnya juga puitis, manis dan cocok banget buat yang lagi merasakan indahnya cinta plus pahitnya cinta ditolak. 'yang terakhir nggak enak amat ya'. He he he..

Nama para tokohnya juga antik. Ada Wengi, ada Toska dan Aska......

So, buat yang pengen baca  novel romantis yang gak pasaran, kayaknya novel ini cocok banget deh.

 

Penerbit : GPU
Penulis : Kim Mi RI

Sudah sering lihat novel ini di Gramed tapi covernya gak menarik. Seperti cover DVD aja. Jadi sering saya lewatin aja. Tak lama, pas lagi hunting buku lagi, saya iseng baca sinopsisnya. Eh, kayaknya menarik juga. Saya beli aja deh. 

Dan ceritanya ternyata lumayan menarik. Tentang seorang pria yang memiliki gen srigala karena merupakan objek percobaan seorang profesor.  Namun sayang, si profesor meninggal dunia sebelum percobaannya tuntas. Tinggalah sang werewolf boy hidup terkatung-katung harus mencari makan sendiri. Sampai suatu hari rumah tempat tinggal sang profesor dihuni oleh pemilik baru. Seorang janda dan dua anak perempuannya.

Pertemuan sang werewolf boy dengan penghuni baru di rumah sang profesor telah merubah kehidupannya. Dia dimandikan, diberi makan, diijinkan tinggal di rumah itu dan diberi nama Cheol Soo. Cheol Soo yang pada dasarnya berhati lembut ini pun bersahabat dengan Sooni, puteri sulung sang janda.

Namun, seorang pemuda brengsek bernama Ji Tae tidak suka akan kehadiran Cheol Soo. Apalagi, Cheol Soo beberapa kali melindungi Sooni dari tindakan kejam Ji Tae. Dengan berbagai upaya, Ji Tae berusaha membuat Cheol Soo ditangkap bahkan dia ingin Cheol Soo dibunuh saja. 

Upaya Ji Tae  nyaris membuahkan hasil ketika ia berusaha keras untuk membuktikan kepada orang-orang bahwa Cheol Soo berbahaya dan harus disingkirkan segera. Namun, Sooni terus membela Cheol Soo sehingga Cheol Soo berhasil kabur dari orang-orang yang ingin menangkapnya. Sementara Sooni dan keluarganya tak mau lagi tinggal di rumah itu karena mereka sangat sedih kehilangan Cheol Soo yang kabur entah kemana. 

Berpuluh tahun kemudian, Sooni yang sudah menjadi seorang nenek kembali ke rumah lamanya itu dan menemukan Cheol Soo yang masih setia menunggunya. Disini ada keajaiban karena wajah Cheol Soo tidak berubah sedikitpun. Dia tetap muda dan tampan. Kekuatan dan kemudaannya bagai mengimbangi kesetiaannya kepada Sooni. 

Sungguh, novel ini bikin saya terharu dan menitikkan air mata karena salut sama kesetiaan Cheol Soo.


Jumat, 17 Mei 2013

LAMPAU

Judulnya singkat : Lampau tapi ceritanya keren banget. Berlatar belakang salah satu suku di Kalimantan yang terkenal sebagai daerah penuh magis, penuh keajaiban, kisah di novel ini membuat saya teringat pada novel-novel ala Laskar Pelanginya Andrea Hirata.

Bertutur tentang semangat seorang remaja yang ingin meneruskan sekolahnya sampai masuk ke pesantren demi mendapatkan sekolah gratis. Padahal ia sendiri bukan muslim, tapi demi mendapatkan ilmu tanpa harus keluar biaya, ia rela menjadi murid di pesantren. Sayangnya, usaha dan kerja kerasnya selama di pesantren harus dikalahkan oleh kesombongan salah seorang murid yang berasal dari keluarga kaya. Ia difitnah telah menganiaya murid itu sehingga akhirnya ia memilih kabur dari pesantren dan berjuang menghidupi dirinya dengan bekerja serabutan. 

Suatu hari pemuda ini tak sengaja terdampar di pulau Jawa. Maka dimulailah kisah petualangannya sebagai seorang  preman yang harus berkelahi demi mempertahankan wilayah kekuasaannya. Dan, lagi-lagi ia kalah. Ia harus pergi dari  wilayah kekuasaannya dan menumpang di sebuah mesjid. Di tempat itulah, dia menemukan kembali bakat terpendamnya yaitu menulis. Ia pun mulai mengirimkan karyanya ke berbagai penerbit hingga akhirnya berhasil diterbitkan dan menjadi seorang penulis yang punya penghasilan lumayan.

Sayangnya, kisah yang pada awalnya bagus ini menjadi semakin datar di bab-bab terakhir, terutama ketika membahas masalah percintaan sang tokoh utama. Padahal di awal-awal kisah, rasanya seru banget. Apalagi adanya kekuatan magis yang dimiliki oleh sang ibu dari tokoh utama di novel ini.

Btw, terlepas dari kekurangannya di bab-bab akhir, novel ini tetap keren dan patut dibaca.

Penulis: Sandy Firly
Penerbit : Gagas Media




Kamis, 16 Mei 2013

BAGAI TAK PERNAH GANTI BAJU

Beberapa hari lalu saya iseng lihat-lihat album foto selama melancong di Korsel. O la la...kok rasanya jaket yang saya pake, itu lagi itu lagi. Ya iyalah, secara di sana dingin banget (meski sudah musim semi) jadi, kaos yang saya pakai nggak nampak deh. Ketutupan rapat sama jaketnya. Padahal, selama 6 hari di situ, saya ganti kaos setiap hari. Cuma jaketnya nggak pernah ganti. Meskipun bawa 2 jaket, tapi jaket yang warna krem muda itulah yang sering saya pakai karena lebih bisa memberi kehangatan (halaah...kompor kaleee). 

Duh, pantesan salah seorang teman saya pernah bilang begini : "Kalo pergi ke negara lain pas winter atau pas lagi dingin banget, mending gak usah bawa kaos banyak-banyak. Pertama, gak mudah keringetan jadi kaos tetep bersih. Kedua, mau ganti tiap hari juga gak keliatan, wong ketutupan jaket. Jadi yang mesti dibawa banyak adalah jaketnya kalo elu mau gaya dan keliatan ganti baju tiap hari."

Gubrak! Bawa jaket banyak mah bikin gempor tangan karena travel bag nya jadi berat. Ogah! Mending bawa secukupnya biarpun nggak gaya. Gimana menurut pendapat teman-teman? Mau gaya tapi tangan pegel nenteng travel bag berat atau seperti gak pernah ganti baju tapi travel bag nya ringan? Pilihan ada di tanganmu...

Di Sunrise Peak


  Di lokasi shooting Winter Sonata, Nami Island


Ayo yang suka nonton drama Korea... tebak siapa tuh yang di poster? Kalo yang duduk itu sih penunggunya. Hahaha...


Di Everland, Four seasons garden

Di Jeju island


Nah, ini jaketnya beda. Di Gyeongbok Palace


Puteri Keong nggak ganti jaket


Di museum Teddy Bear


See, jaketnya itu lagi kan? Hiks....padahal biar nggak ganti jaket, tetep wangi lho. Soalnya, nggak panas sama sekali. Gak percaya? Nih, saya kasih cium jaketnya hahhaa....

Rabu, 15 Mei 2013

CINTA PRODUK DALAM NEGERI

Satu hal yang sangat saya kagumi dari orang-orang Korea adalah mereka sangat mencintai produk buatan negeri mereka sendiri. Saking cintanya, banyak supermarket, kedai kopi dan resto fast food yang pernah mencoba buka cabang di sana, jadi nggak laku.  Pantesan, selama di sana kayaknya saya belum ngeliat KFC, Burger King, Starbucks, Carrefour, dll. Ada juga Dunkin Donut, tapi mungkin saja one day, kedai donut ini pun akan sepi pengunjung. Karena orang-orang Korea ini akan selalu mencoba buat something yang nggak kalah dengan produk-produk luar. Nggak heran, di sana banyak kedai kopi ala Korea. 

Bahkan, untuk ponsel di sana, nggak akan ada yang bisa ngalahin Samsung. Semua orang Korea pake ponsel merek Samsung. Katanya sih begitu. Benar tidaknya, ya mana saya tahu. He he he...Tapi, saya rasa sih benar karena local guidenya kan tinggal di Korea walau dia orang Indonesia asli.

Dari satu sisi, cinta produk dalam negeri itu bagus. Tapi ada minusnya juga lho. Soalnya, konon Korsel jadi dibenci oleh negara lain, terutama negara-negara Eropa dan Amrik. Karena mereka nggak mau pake produk dari negara-negara para bule ini. Tapi mereka malah menjual produk mereka ke berbagai negara. Nggak adil gitu lho! Makanya, selama di Korsel jarang banget ketemu turis bule. Cuma sekali saya lihat orang bule, pas di museum teh. Itu pun kayaknya bukan turis tapi mahasiswi. 

Well, tanpa melihat sisi negatifnya, saya acungi jempol buat orang Korea yang sangat cinta produk dalam negerinya. Bandingkan dengan kita, boro-boro cinta produk dalam negeri, kalo ada sale barang bermerek seringkali kita menyerbu mal atau toko yang menjual barang tersebut.  Tapi, ya nggak bisa disalahkan juga sih. Soalnya, memang produk luar negeri kadang lebih bagus mutunya. Walaupun ada juga produk dalam negeri yang baik mutunya tapi itu masih jarang banget. So, sudah sepatutnya para produsen barang dalam negeri lebih memperhatikan kualitas barang-barangnya.