Kamis, 24 April 2014

DIPERCAYA ITU ASIIK!

Suka duka menjadi penjual buku online rasanya nggak ada abisnya. Selain sering ngalamin hal-hal nggak enak seperti : gak dipercaya pembeli, dibawelin, dicurigain jual buku yang kondisinya jelek, dll), ternyata ada juga sukanya. Seperti yang baru saya alami hari ini : seorang pembeli langsung saja membayar 5 set buku seri yang harganya aji gile tergolong mahal. Padahal, saya sudah bilang, buku itu belum dibaca. Ntar saja kalo sudah dibaca baru saya jual. Tapi, karena dia sudah percaya banget, dia langsung bayar semuanya plus ongkirnya 3 kg. Saya tawarkan bayarnya cicil saja karena saya juga bisa bacanya dua buku per bulan, mengingat bukunya tebal semua dan banyak buku lain yang mau saya baca duluan. 

Soalnya, kan nggak enak kalo udah lunas, tapi saya cuma bisa kirim tiap bulan dua buku. Saya minta dicicil saja tiga kali. Jadi, saya nggak merasa terbebani. Tapi, si pembeli ini tetap mau bayar semuanya sebelum buku dikirim. Katanya, mumpung ada uangnya. Aduuh, saya jadi gak enak hati. Kok, ada yang percaya banget ya sama saya? 

Padahal lagi, dia pernah ditipu sama orang ketika ingin beli buku serial Nicholas Flame. Sudah bayar tapi barang gak dikirim. Duuuh, tega amat tuh orang. Apa nggak inget dosa ya? Nipu orang gitu. Tapi biarpun pernah ditipu dia nggak kapok belanja online. Dan, kali ini ketemu sama blog Toko Buku Stroberi milik saya.

Tentu saja, kalo sama saya, nggak pake acara ditipulah. Hi hi hi..wong, nipu uang kecil dosanya sama aja kok. He he he...

Tapi, mendengar kisah si pembeli yang ditipu ini, saya jadi mikir gini, pantesan aja suka ada pembeli yang nggak percaya saya terutama kalo nggak kenal saya via tulisan-tulisan saya di blog ini. Soalnya, banyak banget orang yang ditipu pas belanja online. Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga. Gara-gara satu dua orang penipu, penjual buku online lainnya jadi gak dipercaya. Hiks...

Well, saya berterima kasih sekali sama kamu (nama dirahasiakan aakh!) yang sudah begitu percaya banget sama saya. Tentu saja, kepercayaan itu nggak akan saya sia-siakan. Bahkan, saya mau kasih gratis satu buku Kumcer saya.  Hebatnya lagi, ini pembeli yang baru dua kali belanja di TB online saya  lho. Bukan pelanggan lama yang sudah sering belanja. Duh, saya jadi terharu biru. Dipercaya itu emang asiiik...!!

Kamis, 17 April 2014

PELECEHAN DI RESTO

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan beberapa teman kuliah yang sudah lama tak bersua. Layaknya orang yang lama tak pernah bertemu, kami pun saling bertukar kabar dan bernostalgia akan masa-masa lalu yang manis, pahit, asam dan lucu. Salah satu cerita nostalgia yang kami kenang adalah Kisah pelecehan seksual yang dialami oleh seorang teman, sebut saja namanya Mercy.   

Terjadinya di sebuah restoran seafood yang cukup terkenal pada masa itu. Saat itu, kami berenam (semuanya wanita) merayakan ultah salah seorang teman dengan makan siang bersama. Di tengah acara makan siang yang nikmat dan penuh canda, Mercy pamit ke toilet. Letak toilet yang di ujung mengharuskan Mercy melalui area dapur terbuka yang sedang ramai oleh para staf restoran khususnya staf di bagian cuci piring.   Di sanalah, Mercy mengalami pelecehan yang dilakukan oleh beberapa staf pria yang sedang melap piring dan merapikan perabot dapur. Mereka bersuit suit dan bersorak riuh sambil ketawa ketiwi melihat penampilan Mercy yang mengenakan rok span panjang tapi belahan di bagian betis cukup tinggi. Mercy juga mengenakan sepatu boot. Pokoknya, penampilan Mercy memang nggak biasa. Sudah kayak model deh. Tapi, bagian lain dari bajunya tertutup rapat. Hanya di bagian rok nya saja yang ada belahan samping tinggi. 

Mercy yang berdarah batak dan kalau bicara selalu meledak-ledak plus wataknya yang juga emosional, langsung marah. Dengan gagah berani dia bertanya pada salah satu staf.

"Siapa manager on duty di tempat ini? Saya ingin bicara."

Tak lama, karena mendengar suara Mercy yang menggelegar, sang manager muncul dan menanyakan ada apa.

"Saya cuma ingin melaporkan kelakuan anak buah bapak yang sudah melecehkan saya. Saya ini tamu, pak. Pelanggan di restoran ini. Masa saya lewat di dapur lalu disorakin, disuit suitin. Kalau saya berada di pinggir jalan dengan pakaian seperti ini, mungkin saya bisa terima disuit suitin. Tapi ini di dalam restoran. Coba ya, ajarkan sopan santun kepada anak buah bapak. Jangan suka melecehkan wanita.   Hormati dan hargai tamu restoran yang datang. Jangan bertingkah laku seperti orang norak. "

Mendengar ucapan Mercy, sang manager segera minta maaf. Mercy pun berlalu dengan dagu diangkat tinggi. 

Waaah, saya ingat betul. Saat itu, para pengunjung resto yang lain langsung memandangi Mercy. Seorang teman saya sampai harus menarik tangan Mercy agar tidak memperpanjang perkara. Tapi, untunglah setelah puas ngomel, Mercy kembali ke tempat duduknya. 

"Gue gak akan makan disini lagi." Celetuk Mercy keras sambil duduk di kursinya. 

Sebagai wanita, tentu saja saya sangat mendukung tindakan Mercy. Memang sudah waktunya kaum hawa berani menegur pria iseng yang melecehkannya. Meskipun cuma bersiul, bersuit dan bersorak tetap saja pelecehan namanya. Malah, di negara-negara barat, tindakan seperti itu sudah bisa dihukum. Bagaimana dengan di Indonesia? 

Terlepas dari pakaian si wanita yang mengundang, tetap saja tidak selayaknya pria melecehkan wanita. Seharusnya sebelum mereka melecehkan, ingatlah adik, kakak, pacar, isteri mereka. Apakah mereka rela kalau orang-prang terdekat mereka dilecehkan pria iseng?

Well, semoga tulisan ini bisa menjadi bahan renungan bagi kaum pria sebelum mereka melakukan pelecehan seksual secara verbal. Dan, menjadi bahan pertimbangan bagi kaum wanita untuk tidak berpakaian mengundang. Ingat lho, kaum pria di negara kita banyak yang masih norak. Gak boleh lihat cewek tampil sexy sedikit saja sudah gimana gitu.

 

Kamis, 03 April 2014

APRIL MOP YANG BIKIN JENGKEL

Tanggal 2 April kemarin sebenarnya sudah lewat 1 hari dari April Mop, tapi entah kenapa ada saja orang yang hobi iseng meskipun sudah lewat hari bohong bin jail sedunia. Isengnya pun nggak nanggung-nanggung, yaitu mengabarkan berita bahwa salah seorang paman saya meninggal dunia. 

Jadi, ceritanya, salah seorang tante saya ditelpon oleh seorang wanita yang mengaku adik sepupu saya, sebut saja namanya Lilis. Lilis bilang kalau papanya sudah meninggal dunia. Dan, tante saya percaya saja kalo yang nelpon itu Lilis. Karena suaranya mirip.

Setelah menerima telpon dari Lilis gadungan itu, tante pun menghubungi saudara-saudara yang lain, termasuk papa saya. Semua yang dihubungi sempat kaget. Paman Heru (bukan nama sebenarnya) yang diberitakan meninggal dunia itu, baru beberapa hari lalu ketemu dengan papa saya dan para kerabat yang lain. Lha, kok mendadak dikabarin meninggal dunia. Memang sih usianya sudah 78 tahun. Tapi tetap saja berita duka itu mengejutkan. Soalnya, paman Heru cukup sehat. Dan, tidak tampak sakit. 

Tak lama setelah menerima telpon dari tante, Lilis yang asli menelpon papa saya. Lilis bilang, papanya masih sehat. Terus, tadi siapa dong yang telpon tante saya? Yang jelas bukan Lilis asli. Entah siapa yang sudah iseng mengaku sebagai Lilis dan mengabarkan berita duka itu. Duuh, kalo bercanda jangan keterlaluan dong. Mentang-mentang April Mop baru lewat sehari, malah ngerjain orang. Gimana kalo ada yang sakit jantung dan ikutan meninggal dunia karena kaget mendengar berita duka itu?

Tapi sampai sekarang, si pelaku belum terlacak. Yang pasti bukan orang jauh karena dia tahu nomor hape tante saya.

Rabu, 02 April 2014

DIBAYAR DENGAN VOUCHER ATAU DISURUH BELANJA?

Bulan Nopember lalu, saya menerima imel berupa tawaran kerjasama dari sebuah website yang menjual produk fashion dan asesorisnya. Tapi karena benefitnya hanya berupa voucher belanja di website mereka, saya jadi malas menanggapinya. Imel  berisi penawaran itu pun saya cuekin.  Tapi nggak lama kemudian, muncul lagi imel serupa. Kalau yang sebelumnya, blog Toko Buku Stroberi  yang ditawari. Kali ini blog Miss Gaptek.  Dan, karena saya lagi sibuk berat, imel itu pun saya cuekin.

Anehnya, sebulan kemudian muncul lagi imel serupa. Saya cuekin lagi. Dan, terakhir  akhir Maret lalu mereka kembali mengirimkan imel yang sama. Saya pikir, wah ini orang tough juga ya. Lalu, saya iseng aja menjawab imel mereka.  Saya tanyakan lebih dahulu tentang syarat dan ketentuan pengiriman artikel dan berlakunya voucher. 

Dan, mereka menjawab seperti Ini :

1. Mengenai berapa postingan yang harus kamu buat, cukup satu kali postingan saja, karena kerjasama ini berlaku untuk satu post artikel pada satu blog saja. Dan pada artikel tersebut terdapat satu kata yang di link ke webiste kami.

2. Satu voucher untuk satu artikel pada satu blog

3. Voucher akan saya berikan dalam bentuk kode voucher melalui email dengan masa berlaku satu bulan dan satu kali pemakaian. Namun jika kamu belum menggunakannya, kamu dapat merequest perpanjangan voucher ke saya.

4. Setelah kami memberikan kode voucher ke kamu, sepenuhnya kode voucher tersebut adalah hak kamu.
 
Hmm, saya mulai tertarik, tetapi masih ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan, terutama mengenai nilai voucher yang hanya Rp. 100.000,- per artikel. Sementara, produk yang mereka jual rata-rata diatas 
Rp. 100.000,-.   Sementara perpanjangan masa berlaku voucher hanya satu bulan. Kalau voucher yang diperoleh bisa digabung/dikumpulin dulu baru dibelanjakan baru deh siip. Tapi ternyata jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya membuat saya berpikir ulang untuk bekerjasama dengan mereka. 
 
Dan, inilah jawabannya : 
 
V oucher yang belum terpakai biasanya diperpanjang untuk satu bulan kedepan.

Mengenai ongkos kirim:

  • Jabodetabek gratis pengiriman tanpa minimum pembelian (siplah kalo ini..)
  • Pulau Jawa, Bali, Sumatera dan Kalimantan gratis pengiriman untuk total pembelian setelah diskon di atas Rp 200.000
  • Wilayah Indonesia Timur dan Nusa Tenggara gratis pengiriman untuk total pembelian setelah diskon di atas Rp 300.000
Mengenai voucher, sayangnya hanya tersedia satu kolom voucher pada setiap transaksi, jadi kamu tidak dapat menggabungkan kode voucher yang kamu punya. (hiks, percuma deh dapat voucher).
 
Jleeeb! Yaaah, sama aja bohong dong. Dapat voucher tapi tidak bisa dibelanjakan. Iya, kalo barang yang harganya pas 100 ribu atau dibawah 100 ribu itu ada stoknya. Kalo ga ada, masa saya mesti keluarin uang lagi buat beli barang lain. Misalnya : Saya naksir tas seharga Rp. 300.000,- berarti saya harus nombok
Rp. 200.000,- Jiaaah, sama aja saya - secara tidak langsung - disuruh belanja online.  Males bangeet.  Saya jadi curiga : Ini mau ngajak kerjasama atau 'maksa' belanja online secara halus? Ups...jadi negative thinking deh.

Soalnya, saya kan anti belanja online kecuali beli buku. Lha, mereka nggak jualan buku. Kalo buku kan pasti banyak yang harganya dibawah 100 ribu atau pas 100 ribu. Lagian, ukuran baju dan ukuran sepatu saya rada sulit. Ukuran baju bisa M, kadang bisa L. Ukuran sepatu bisa 36, bisa 37. Dan, kalo untuk urusan beli baju, sepatu dan tas, lebih suka ngeliat seperti apa barangnya. Daripada ntar udah beli tahu-tahu kualitas nggak oke. 

Dan, kalo udah cape-cape nulis artikel tapi voucher yang diperoleh nggak bisa dipakai, apa nggak bikin bete? So, daripada bete, mending saya tolak aja tawaran kerjasamanya. Lain halnya, kalo mereka menawari pembayaran berupa uang tunai. Adik saya pun setuju dengan pemikiran saya. Akhirnya, saya balas imel mereka. Saya sampaikan bahwa saya tidak bersedia kerjasama dengan mereka.
 
Tapi, esoknya, tepatnya siang ini, saya dapat imel lagi dari mereka yang isinya : pembayaran dengan voucher diganti dengan cash. Tapi pembayarannya sebulan setelah artikel dikonfirmasi aktif.
 
Lha, ini baru oke..... tapi lama amat ya bayarnya. Satu bulan.....Hmm....hmm...? Kenapa nggak satu minggu gitu ? Hi hi hi..nanya kan boleh dong. 

Well, belum dijawab sih. Tapi, sebelumnya saya mau tahu nih saran dari teman-teman? Apakah saya harus terima penawaran ini?

Selasa, 04 Maret 2014

MIMPI BURUK DAN SAKIT FLU

Sudah dua minggu lebih saya sakit flu. Gara-gara kecapean melakukan pekerjaan rutin yang menggunung plus begadang, jadilah badan tumbang. Meriang dan radang tenggorokan. Giliran meriang sembuh, batuk menyerang dan pilek menerjang. Sedaaap deh! Suara saya sampe sempat menghilang. Entah berapa banyak obat flu yang saya telan dan bikin ngantuk berat. Entah berapa gelas air jahe hangat yang saya tenggak demi menghilangkan gatal di tenggorokan. Makan pun hanya bubur putih dengan sayuran. Gak berani makan yang aneh-aneh. Padahal, saya kan suka gorengan dan sambal. Hiks....

Nafsu makan pun berkurang. Tidur juga nggak lelap karena sering batuk. Hasilnya, turun dua kilo nih berat badan. Mungkin juga lebih. Nggak nimbang sih tapi dari pergelangan tangan yang jadi kecil, lengan yang mengurus dan dagu yang lebih tirus, kayaknya lumayan banyak turunnya. Buset daah! Jarang sakit, begitu sakit langsung kayak gini. Huff!!!. 

Pantesan, beberapa hari sebelum kena flu parah, saya mimpi buruk. Gak jelas mimpi apa. Tapi kayaknya serem banget. Dan, itu berulang kali mimpinya. Berdasarkan pengalaman adik dan papa saya, kalo mimpi buruk biasanya nggak lama lagi mau sakit. Ini bukan soal percaya tahyul ya. Tapi, sepertinya mimpi buruk itu juga pertanda sinyal dari tubuh kalo ada yang nggak beres. Dan, saya pun sering ngalamin begitu. Abis mimpi buruk, nggak lama lagi biasanya sakit.  Papa dan adik saya juga sering mengalaminya. 

Kayaknya saat ada organ tubuh yang gak bener, secara ngga langsung memberikan sinyal juga ke bagian tubuh yang lain sehingga kita pun mengalami mimpi buruk. Bagaimana dengan teman-teman? Adakah pengalaman yang sama?


Rabu, 19 Februari 2014

SALAH NOMOR

Menjadi pedagang online memang banyak suka dukanya. Selalu saja ada bahan cerita yang unik, seru, lucu, bikin bete, nyebelin tapi ada juga yang menyenangkan. Nah,kejadian yang sedikit nyebelin dan cukup merepotkan ini kembali saya alami. Dan, semuanya berawal dari nomor rumah yang salah ketik dan nomor hape yang salah ketik (lagiii??).

Seorang pembeli, sebut saja namanya ZZ mengirimkan imel berisi pesanan buku dan alamat lengkapnya plus nomor hp nya. Saat membaca imelnya, memang sempat mikir apa iya ada nomor hp 0915....dstnya. Tapi karena alamatnya di Bandung, saya berpikir mungkin ada provider baru yang hanya beredar di daerah Bandung dan sekitarnya. Yang pasti bukan kode area Bandung. Nomor rumahnya pun besaaar. 2310. 

Namun kecurigaan itu tidak sempat saya tanyakan karena kesibukan pekerjaan sehari-hari. Setelah transfer dilakukan, buku pun saya kirim esok harinya. Eh, siapa sangka, 1 hari setelah kirim paket buku, saya ditelpon JNE. Katanya alamat yang diberikan nggak ditemukan, Nomor hp gak bisa dihubungi. Penasaran, saya coba telp dan SMS ke pembeli ybs. SMS failed. Telpon pun nggak ada nada sambung sama sekali. Padahal pihak JNE sudah mengirimkan SMS dan minta saya untuk memberitahu alamat yang benar plus nomor hp yang bisa dikontak. 

Alhasil, saya pun hanya bisa kirim imel kepada si pembeli. Tapi, sampai sore, imel nggak dibalas. Sementara dari JNE kembali menelpon saya. Saya pun minta dikeep dulu paket bukunya karena saya belum dapat jawaban dari si pembeli. 

Esok paginya, saat membuka smartphone, imel balasan pun datang. Mulanya, ybs dengan kalem menjawab : Biasanya sampe. Mungkin kurir JNE nya nggak pernah ke daerah rumah saya. Tapi, nggak lama imel lainnya masuk : Astagaaa! Iya, nomor rumah salah. Mestinya nomor 203. Maaf, kakak jadi repotin. Hp saya juga nggak aktif kemarin.

Alamak! Saya cuma mesem getir. Akhirnya, saya dan si pembeli berbalas pantun eh SMS. Soalnya, dia ngak selalu online. Lalu, saya minta dia untuk menghubungi orang JNE Bandung. Tanya saja ke sana, apakah paketnya masih ada. Dan, beritahu alamat jelasnya. Soalnya, kalo sampe paket kembali ke Jakarta, saya nggak akan mengirimkan ulang kecuali dia mau transfer ongkir lagi. Kalo toh, nggak mau transfer ongkir ya saya akan kembalikan uangnya tapi hanya seharga buku yang dipesannya, karena ongkir sudah digunakan untuk bayar JNE. Memang setiap paket yang kembali, ongkirnya pasti hangus. 

Untungnya, dia mau ngerti kalo itu terjadi karena kelalaiannya. Dan, untungnya paket masih di JNE Bandung, jadi  tak lama kemudian paketnya sampai setelah dia menghubungi pihak JNE. So, pengalaman ini semoga bisa menjadi pelajaran bagi teman-teman yang suka membeli barang via online. Kalau memberikan alamat sebaiknya yang jelas dan jangan sampai salah ketik. Begitu juga saat memberikan nomor telpon atau hp. Karena kalo salah nulis atau ketik, bisa fatal akibatnya. Jangan sampai sudah salah kasih nomor rumah eh salah kasih nomor hp juga.

Pelajaran juga buat saya untuk selalu mengingatkan para pembeli dalam mencantumkan alamat jelas dan nomor hp/telp yang benar. Jangan salah ketik/nulis.
Jadi jangan heran kalo ada kalimat tambahan di setiap postingan buku yang saya jual. Bunyinya begini nih : 

Pesan via tokobukustroberi@yahoo.com dengan menyebutkan nama, alamat lengkap dan nomor hp/telpon (mohon ditulis jelas dan jangan ada kesalahan ketik karena bila paket tidak sampai/hilang/nyasar karena kesalahan dalam memberikan alamat maka TB Stroberi tidak akan mengganti kerugian).