Jumat, 25 Juli 2014

Tetralogi Ingo

Lagi belanja di Carrefour eh, nemu bazar buku murah. Langsung deh aku milih-milih buku yang menarik. Nemu dua buku berjudul Ingo dan Deep. Baca sinopsisnya kayaknya mantap juga. Tapi ini buku kesatu dan ketiganya toh. Waaah, mesti cari buku kedua dan keempatnya nih. Soalnya, tetralogi. Setelah ubek-ubek di dua TB online, akhirnya dapat buku seri kedua dan keempatnya.

Dan, ternyata ceritanya lumayan menarik. Genre fantasi yang unik karena bertutur tentang dunia laut dan para penghuninya yang penuh misteri.

Ingo





Dalam buku pertama berjudul Ingo, seorang ayah bernama  Mathew Trewhella pergi dari rumahnya dan tidak pernah pulang lagi. Para tetangga  percaya dia sudah mati di tengah laut, tetapi putrinya, Sapphire, yakin sekali ayahnya masih hidup. Dia teringat kisah-kisah yang sering diceritakan ayahnya, tentang putri duyung Zennor yang jatuh cinta pada manusia namun tak bisa hidup bersama kekasihnya di daratan kering penuh udara.

Musim panas berikutnya, Conor, kakak lelaki Sapphire, mulai sering menghabiskan waktu berjam-jam di laut, bersama seorang gadis misterius. Pada waktu mengikuti Conor itulah Sapphire menemukan Ingo,dunia bawah laut yang sangat memikat namun berbahaya. Dan makin lama makin sulit baginya untuk menolak panggilan dunia lain itu. Bahkan, Sapphire berteman dengan Faro, salah seorang penghuni Ingo yang ternyata bersaudara dengan Elvira, penghuni Ingo yang berteman akrab dengan Conor.

Sejak itu, Sapphire terus berusaha mencari ayahnya tetapi tidak pernah bertemu. Dan, selama masa pencarian itu dia mengalami berbagai petualangan seru termasuk ketika dia harus menyelamatkan Roger, kekasih ibunya yang nyaris dibunuh oleh sekawanan anjing laut.

The Tide Knot - Simpul Ombak




Pada buku kedua, diceritakan Sapphire dan Conor yang tak bisa melupakan petualangan mereka di Ingo, dunia bawah laut yang misterius dan begitu memikat. Mereka ingin bertemu lagi dengan teman-teman Mer mereka, Faro dan Elvira.

Tapi sekarang Sapphire dan Connor sudah pindah dari rumah mereka di dekat ceruk yang menjadi pintu masuk ke Ingo. Ibu mereka ingin memulai hidup baru di kota pantai St. Pirans, jauh dari kenangan tentang ayah mereka yang hilang di laut setahun sebelumnya.

Namun ada bahaya yang mengintai jauh di bawah permukaan laut, di tempat makhluk Mer yang paling bijak, Saldowr, menjaga Simpul Ombak. Ingo sedang gelisah, dan tak lama lagi Sapphire dan Conor akan mendengar panggilan dari lautan dalam.

Bahkan, Sapphire dan Conor mau nggak mau harus terlibat dalam mengatasi bencana yang timbul karena simpul ombak yang terurai. Hanya mereka yang bisa mengunci kembali simpul ombak tersebut. Ketika simpul ombak terurai, bencana mirip tsunami melanda daerah tempat tinggal mereka. Adegan saat laut mendadak hening dan air laut seperti surut begitu dalam, mirip banget dengan tanda-tanda tsunami yang pernah saya baca di koran. Mungkin kisah ini terinspirasi pada bencana Tsunami tahun 2004 yang lalu.

Di buku kedua ini juga, diceritakan alasan ayah Sapphire meninggalkan mereka. Ternyata sang ayah terpikat pada seorang wanita penghuni Ingo yang tak lain adalah bibi dari Faro dan Elvira. Bahkan, ayah Sapphire telah menikah dengan wanita itu dan memiliki seorang bayi. Sapphire dan Conor tentu saja tak rela dan tetap menginginkan sang ayah kembali ke rumah tetapi kenyataannya tak semudah itu. Sang ayah terikat untuk tetap tinggal di Ingo.

Deep 

 




Di buku ketiga, kisah Sapphire dan Conor semakin seru. Karena mereka harus membantu bangsa Mer dari ancaman monster seram bernama Kraken yang sedang menggeliat bangun dari tidurnya. Konon, hanya mereka yang berdarah campuran Mer dan manusia yang bisa menjinakkan monster ini.  Sapphire pun harus kembali ke dasar laut dengan bantuan ikan Paus sahabatnya untuk berhadapan dengan monster itu.  Tetapi, Conor dan Faro tentu saja tak tinggal diam. Mereka berniat membantu Sapphire meskipun tahu mereka mungkin tidak bisa mencapai dasar laut. Selama ini hanya Sapphire yang berhasil ke sana.


The Crossing of Ingo



Dalam buku terakhir dari tetralogi Ingo ini, Sapphire, Conor, serta teman-teman Mer mereka, Faro dan Elvira telah siap melakukan Penyeberangan Ingo yang akan membantu mendamaikan dunia Manusia dan Mer. Penyeberangan ini akan menjadi perjalanan panjang dan berbahaya, dan belum pernah ada manusia yang mencobanya. Sementara itu, Ervys beserta para pengikutnya berniat menghalangi Sapphire dan Conor dengan segala cara hidup ataupun mati.

Yang pasti, buku keempat ini nggak kalah seru dengan buku sebelumnnya. Membacanya pun nggak cape. Karena hasil terjemahannya lumayan bagus.







Rabu, 23 Juli 2014

GAK BISA RETUR

Semoga nggak bosan ya kalo aku ngebagiin pengalaman beli buku secara online. Jadi, dalam bulan Juli ini aku ngalamin hal yang gak enak berkaitan dengan pembelian sebuah buku di sebuah TB online. Secara buku yang dibeli ada yang kurang halamannya. Pas lagi seru-serunya di bab-bab akhir, eh...halamannya hilang sebanyak 15 halaman. Hiks..

Langsung deh kuhubungi TB onlinenya tapi katanya nggak bisa retur karena dibelinya udah lewat seminggu. Aku diminta kontak penerbitnya yaitu Mizan, tapi...pas baca peraturannya di halaman belakang buku, harus seminggu sejak tanggal beli...dan harus ada bukti pembeliannya. Huaaa ...nangis kejer deh. Soalnya, struknya udah hilang dicemplungin ke tong sampah dan kapan belinya udah lupa. Kan, kalo beli buku selalu borongan jadi bacanya itu pas udah lewat sebulan dua bulan baru sejak dibeli. Nasib..nasib...Kalo tau gini mah setiap kali beli buku di TB online mesti kubuka segelnya dan aku cek halamannya satu demi satu. "Gempor tangan" deh.

Nah, baru aja nangis kejer lantaran satu buku gak bisa retur, ketemu lagi buku lain (diterbitkan Mizan lagi) yang halamannya kebolak balik. Halaman 400 sekian bisa muncul di halaman 300 sekian. Buseet dah! Mana itu buku berseri. Akhirnya aku kontak lagi si TB online langgananku. Kali ini bisa retur karena belinya belum lama dan masih ada struknya. Uf, selamat...selamat! Tapi buku penggantinya nggak ada karena stok abis. Terpaksa aku tuker dengan buku lain yang ready stok dan harganya sama. Hiks....

Sejak ngalamin hal yang gak enak ini, aku selalu membuka segel buku setiap terima buku yang kubeli. Jadi, kalo pas beli selusin, kebayang kan pegelnya tanganku memeriksa setiap halaman. Struk buku juga aku keep. Jadi, ada bukti belinya kalo mau retur. 

Aku harap teman-teman yang hobi beli buku secara online selalu cek and ricek halaman bukunya. Jangan sampai ngalamin nasib seperti aku. Pernah juga beli buku yang penerbitnya Matahati (serial Nicholas Flame) di TB online yang berbeda eh..lagi-lagi halamannya berkurang 10 halaman. Dan, nggak bisa retur karena udah lewat seminggu. Yaa..nasib deh. 

Dihitung-hitung udah 6 buku cacat selama beli online. Empat gak bisa retur. Dua lagi masih bisa retur. Anehnya, hanya penerbit tertentu dan buku-buku best seller yang sering cacat bukunya. Apakah karena penerbitnya mencetak banyak dan nggak sempet mengawasi mana yang cacat dan mana yang layak dipasarkan? Entahlah! Yang pasti, aku rada kecewa dengan peraturan hanya dibatasi waktu seminggu dan harus ada bukti pembelian. Kalo dari toko sih okelah. Tapi kalo dari penerbit, masa sih dibatasi seminggu dan kudu ada struk. Kan udah jelas itu buku terbitan mereka. Bukan beli bajakan. Kan bisa toh dibedakan mana yang bajakan, mana yang asli.


Selasa, 17 Juni 2014

KEDAI BIANGLALA, KUMCER YANG PEREMPUAN BANGET

 


oleh: Anggun Prameswari
Penerbit: Grasindo
Terbit : 2014

Sebagai mantan cerpenis amatir, saya tentu saja hobi baca cerpen. Jadi, nggak salah kalo saya beli buku KEDAI BIANGLALA. Judulnya yang unik dan covernya yang ciamik bikin saya tertarik membelinya. Dan, saya nggak nyesel udah beli buku ini. 20 cerpen yang ada di dalamnya, semuanya keren. Dan, sebagian besar berisi kisah-kisah para perempuan dengan problema mereka. Kebanyakan bertema perselingkuhan dan hubungan suami isteri. Judulnya pun antik-antik. 

Ada yang diberi judul Lara Hati Lara.  Judul yang sedih banget. Udahlah nama tokoh utamanya Lara. Hatinya pun lara. Lara = sedih, toh?. Ada yang berjudul KM 40, ketika membaca judulnya,saya pikir ini cerpen sedih yang ada adegan kecelakaan lalu lintas, nggak tahunya tentang keharusan memilih : tetap bersama si pacar yang notabene suami orang, atau malah mutusin hubungan?

Tapi dari semua cerpen yang saya baca, paling menarik yang berjudul Akad Nikah. Ceritanya tentang seorang perempuan berprofesi perias wajah calon pengantin yang diminta merias wajah calon mempelai wanita yang cantik jelita dan yang akan menjadi mempelai prianya adalah mantan pacar si perias. Bayangkan! Kalo hatinya masih cinta sama sang mantan pacar dan harus menyaksikan sang pacar menikahi gadis lain. Gadis yang diriasnya pula. Butuh hati yang seteguh baja kayaknya. Kalo saya, mungkin udah nangis bombay kali.  He he he...

Well, saya nggak akan mengulas semua cerpen yang ada di buku ini. Kalo diulas semua, selain bikin pegel tangan, ntar saya diprotes penulisnya lho. Yang pasti, Buku Kumpulan Cerpen ini cocok banget buat kaum perempuan. Aura feminimnya berasa deh.

Jumat, 13 Juni 2014

PENJUAL BUKU ONLINE YANG TIDAK JUJUR

Lagi-lagi ngalamin hal yang nggak enak dengan salah satu toko buku online. Mau disebutkan namanya tapi rasanya nggak etis. Dan, saya nggak mau mencemarkan nama baiknya, eh....nama buruknya kali ya. Hehehe...Oke, kita simak kronologisnya.

Tanggal 9 Juni : Saya pesan empat novel seri dan langsung bayar via mbanking. Dijawab oleh adminnya : Buku dikirim besok.

Tanggal 10 Juni : Buku belum dikirim dan nomor resi nggak diimel. Biasanya, nomor resi diimel. Pertama kali beli, nomor resi diimel.

Tanggal 11 Juni : Saya kirim imel menanyakan apakah buku telah dikirim, dijawab : Sudah semalam Kk, Nanti malam saya kabari nomor resinya.

Tanggal 12 Juni : Buku belum sampai, nomor resi nggak dikabari. Saya pun bertanya via imel : Bukunya sudah dikirim belum ? Kok, nomor resinya nggak dikasih tau?

Dijawab : Seharusnya 1-2 hari, hari ini terakhir, klo masih belum datang berarti ada masalah, td dapat info ada sebagian paket yang basah, takutnya paket kk kena jg, saya urus nanti malam.

Resi jg nanti malam y, jne yg biasa antar gk datang kemarin, sepertinya sakit, saya akan ambil sdr nanti malam.


Saya heran. Ditanya soal nomor resi kok menyinggung soal paket basah juga. Hmm..mulai nggak beres nih. Jangan-jangan bukunya nggak bagus. Kena basah atau bercak apa gitu. Jadi, alasannya kena basah. Kalo lewat JNE kan biasanya diplastikin. Nggak mungkin basah. Kecuali terjatuh di selokan. Kalo basah keciprat air hujan mestinya nggak mungkin sampai kotor karena diplastikin.

Saya pun bertanya lagi : 

Biasanya jne membungkus paketnya dg plastik jadi bukunya tidak basah.
Kalau buku pesanan saya basah apakah dapat penggantiam buku yang kondisinya baik?

Dijawab :


Info nya basah kk, mungkin jatuh saya cek dulu kesana nanti malam. Saya udah 5x dapet komplen basah, basah dengan warna coklat, dan basah lainnya, padahal dalam plastik

Saya makin curiga. Kenapa mest nanti malam sih? Kenapa nggak siang ini juga? Dimana tanggung jawabnya? Masa ngecek buku di JNE malam hari. Setahu saya malam hari JNE sudah tutup. JNE dekat rumah saja tutup jam 5 sore. Lalu pertanyaan saya soal penggantian buku yang basah nggak dijawab. 

Saya tanya lagi : 

 
Aneh juga ya. Setahu saya JNE cukup profesional. Bisakah saya dapatkan no resinya segera? Karena semalam dijanjikan akan dikabari no resinya tapi sampai hari ini tidak diberikan juga. Kalau saya tidak tanyakan via imel, tidak ada tanggapan soal no resinya. Mohon lebih profesional. Saya sudah dua kali membeli dari toko buku ini.
Pertama kali beli : Dari tiga buku pesanan saya yang katanya stok ada, tapi pas dikirim cuma dua buku yang ada. Seharusnya kan dari awal dberitahu kalau bukunya hanya ada 2. Saya tahunya setelah dikirim cuma dapat dua buku.
Kedua kali beli : No resi tidak diberikan padahal katanya sudah kirim dari tgl 10 Juni. Lalu, paket basah. Padahal JNE itu cukup hati-hati karena saya juga sering memakai jasa JNE.
Kalau buku yang saya beli basah, apakah pihak Toko buku  bisa menggantikan dengan buku yang bagus kondisinya? Mohon pertanyaan ini dijawab ya. Tks  

Dijawab :  Yup, langsung ganti dan langsung minta resi 

Hmm, jawabannya nggak memuaskan. Setahu saya novel yang dipesan novel langka, mana mungkin kalau basah bisa langsung ganti? Ada yang aneh. Jangan-jangan ntar penggantiannya lama banget. Gimana kalo ganti buku saja? Barangkali saja, bukunya memang nggak ada. Iklannya di website soal jual novel langka cuma buat memicu orang membeli buku saja. Tapi nanti bilangnya nggak ada stoklah, dstnya. 

So, saya bertanya lagi : Apakah penggantiannya berupa buku yang sama?

Dijawab : Iya

Tapi entah kenapa feeling saya nggak so good. Setelah pikir-pikir lagi, saya pun memutuskan ganti dengan novel lain saja yang baru terbit. Apalagi sang pangeran bilang gini sama saya : Kayaknya tuh bukumu nggak ada, atau memang belum dikirim. Atau kalo toh ada bukunya tapi buku bekas yang kena basah. Jadi dia alasannya macam-macam. Sudah kamu gertak saja soal pasal penipuan.

Hmm..benar juga nih. Jangan-jangan dia memang belum kirim bukunya atau bukunya sebenarnya emang nggak ada jadi nggak mungkinlah dikirim.

Saya pun bertanya begini :

Sebenarnya bukunya udah dikirim atau belum ? Kalo memang nggak ada bukunya, mendingan diganti aja dg buku lain. Kan totalnya 170.980 plus ongkir jadi 178.980 rupiah. Kalo memang belum dikirim terus terang saja. Kalo nggak kamu bisa kena pasal penipuan lho.
Kalo memang belum dikirim karena bukunya nggak ada, diganti saja dengan buku ..... (saya sebutkan novel yang saya mau).

Dijawab :

Begini aja dech kk, klo misal gk percaya, kembali dana aja dech, boleh noreknya?

Tuh kan! Jelas sudah bukunya belum dikirim. Kalo sudah dikirim mana mungkin dia mau pulangin duitnya. Kan rugi dong. Belum uang yang dibalikin itu termasuk ongkirnya lho. Oh, oh..kamu ketahuan ngibulnya kan. Heran, kenapa ya nggak jujur gitu? Terus terang aja buku nggak bisa dikirim karena belum ada waktu. Atau kalo buku memang nggak ada kenapa bilangnya jual novel langka. Ck..ck...ck....memang ini toko buku online nggak bisa dipercaya. Dulu saja ngakunya stok lengkap, pas kirim cuma dua buku. Tapi saya masih mau beli lagi di sana karena novel langka yang saya incar. Eh, ternyata belum berubah juga. Ngibulnya masih gede juga. Cape deeh. Kali ini beneran kapok deh, nggak akan beli lagi disana. Padahal websitenya keren. Tapi kok pelayanan kayak gitu ya?





Senin, 09 Juni 2014

CUACA DAN PEMILU SERBA HOT

Pilpres sudah semakin dekat. Cuaca panas jadi berasa semakin panas. Apalagi, dengan adanya berita-berita seputar kampanye termasuk kampanye hitam. Semula, saya cuek bebek saja mendengar berita-berita soal kampanye hitam dan isu-isu mengenai kehidupan para calon Presiden. Tapi, ketika ada berita soal oknum Babinsa yang mendatangi rumah-rumah warga dan - katanya nih - bertanya-tanya nanti mau milih siapa plus rada mengarahkan harus milih calon tertentu, saya jadi terusik nuraninya (halaaah.....). Sampai segitunya kah ambisi manusia untuk jadi Presiden? Sampai melakukan berbagai trik. Nggak peduli itu trik baik atau trik licik. Mau milih siapa itu kan rahasia. Mana boleh bertanya : Ntar mau milih siapa. Apapun alasannya, pertanyaan seperti itu sungguh nggak etis. Apalagi, kalau sampai mengarahkan. Waduh, rasanya semakin ajaib saja. 

Belum lagi, soal isu kalo salah satu calon Presiden jarang sholat, bukan muslim, ada keturunan Chinese, dll. Duh, kok rasialis banget. Seharusnya kan melihat karakter orangnya, bukan agamanya, warna kulitnya, apalagi sukunya. Selama dia bisa memimpin dengan baik, mau agama apa kek, suku apa kek, seharusnya nggak jadi masalah toh. Asalkan dia bisa punya toleransi beragama yang tinggi, tidak membeda-bedakan suku, tidak pilih kasih, dan tentu saja bisa menjalankan tugasnya dengan baik, rasanya itu sudah cukup. 

Lalu, soal pasangan hidup. Ada calon Presiden yang nggak punya teman hidup, diledekin dengan berbagai komentar termasuk fotonya sedang dicium seekor kuda. Saya rasa ledekan seperti itu agak keterlaluan. Kesannya : Kalo nggak punya teman hidup, nggak boleh jadi Presiden. Kasihan dong para jombloers. Entah itu yang berstatus duda, janda, atau single sejati. Masa, gara-gara nggak punya teman hidup jadi bahan ledekan seperti itu. 

Well, saya memang nggak begitu mengerti soal politik, tapi rasanya pemilu tahun ini hot banget deh. Apakah menyesuaikan dengan cuaca yang panasnya bukan main? Atau, cuaca yang terpengaruh dengan kondisi politik negeri ini yang serba hot ? Entah.....

Jumat, 30 Mei 2014

NAMPAN BAU APAK

Kira-kira sebulan lalu saya berniat membeli roti di sebuah toko roti yang terkenal dan cabangnya ada dimana-mana. Kayaknya hampir di tiap mal ada cabang toko roti ini. Tanpa menyebut namanya, juga pasti udah pada tahu ya. Lagian, nggak etis kalo disebut namanya. Jadi, kita sebut saja namanya Toko Roti X. Sudah tiga tahun ini saya dan keluarga  menjadi pelanggan tetap toko roti X. Bahkan, papa dan pangeran sangat suka roti-roti buatan mereka. Setiap kali ke mal, selalu mampir beli beberapa buah roti. 

Tapi, bulan lalu saya sempat kecewa dengan salah satu cabang toko roti ini yang terletak di Central Park Mal. Gimana nggak kecewa? Baru saja, saya ambil nampan kosong beserta capitannya buat ngambil roti, sudah tercium bau apak yang astaga naga..bikin lubang hidung menciut. 

"Ih, kok bau ya? " Tanya saya kepada adik saya yang ngintil di belakang.

"Iya, kok bau ya? Bau apa ini?" Adik saya mendengus-dengus.

"Nampannya kali." Saya angkat nampan kosong dan menciumnya. Gubraaak! Rasanya mau pingsan. Bau banget. Kayak bau apak. Bau lap basah yang belum dicuci.

"Wah iya nih. Nampannya bau.." Adik saya ikut mencium nampan kosong di tangan kiri saya.

"Coba ambil nampan lainnya. " Saya ambil sebuah nampan lain yang letaknya di barisan nampan yang berbeda. Saat itu memang ada dua barisan nampan kosong. 

Lalu, saya cium nampan kosong itu. Yaaak!! Baunya masih sama walau nggak setajam bau nampan yang pertama tapi  aromanya masih idem.

Penasaran, saya ambil nampan lainnya secara acak. Sampai empat nampan semuanya sama. Bau apak yang aje gile bikin pusing kepala dan perut mual. Niat membeli roti pun batal tal tal....Saya pulang dengan kecewa. Rencana mau bawa oleh-oleh buat papa dan mama buyar sudah. Nggak sangka sama sekali kenapa Toko roti seterkenal itu tidak menjaga kebersihan nampannya. Dugaan saya sih : Nampan itu dilap dengan kain lap yang belum dicuci. Entah karena pegawainya sibuk semua atau karena malas.  Yang jelas, selama menjadi pelanggan roti di Toko roti itu, baru kali ini saya menemukan nampan yang bau apak. 

Tapi kejadian itu tidak membuat saya kapok membeli roti di sana. Karena di cabang lainnya nggak pernah ngalamin kayak gitu. Anehnya lagi, pegawai yang bertugas saat itu cuek aja. Padahal mestinya mereka heran ya lihat saya bolak-balik ambil nampan lalu menciumnya berkali-kali. Yasuds, saya pun malas menanyakan ke mereka tentang nampan yang bau. Setelah sampai di rumah baru nyesel, kenapa tadi nggak nanyain ke mereka ya. Hi hi hi...