Postingan

KACANG LUPA KULITNYA

Seorang pemuda yang buta sejak lahir sangat membenci dirinya. Ia merasa sebagai orang paling malang sedunia. Bukan dirinya sendiri yang ia benci tapi orang-orang yang ada di sekitarnya juga ia benci kecuali…..kekasihnya. Kekasihnya adalah seorang gadis yang sangat baik dan selalu setia menemani dan menghiburnya. “Aku janji akan menikah denganmu jika aku bisa melihat nanti,” kata pemuda itu suatu hari. “Kamu pasti bisa melihat, sayang…..” Sang kekasih membelai rambut pemuda itu. Beberapa waktu kemudian, ada seseorang yang bersedia mendonorkan matanya kepada pemuda itu. Tentu saja sang pemuda sangat gembira dan tanpa menunda lagi, matanya segera dioperasi. Sang pemuda pun bisa melihat dengan mata barunya “Nah, kamu sudah bisa melihat. Apakah kita akan segera menikah?” Tanya sang kekasih mengingatkan akan janji pemuda itu. Sang pemuda menoleh dan memerhatikan wajah seorang gadis cantik yang duduk di hadapannya. Oh, tidaaaak! Hati sang pemuda menjerit. Gadis cantik yang selama ini menjadi ...

MENGAPA PRIA SELALU KALAH?

Prakata : Tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan kaum pria. Ini cuma jokes. Mohon (kepada yang merasa pria) jangan tersinggung ya..... Lagian, saya dapatkan jokes ini dari teman kok. MENGAPA PRIA SELALU KALAH? Jawabannya adalah : - Kalau kamu membelikannya sekuntum bunga, kamu PASTI DIKIRA ADA MAUNYA. Kalau kamu tidak membelikannya bunga, kamu dituduh TIDAK ROMANTIS. - Kalau kamu bilang, dia sexy, itu pelecehan. Kalau kamu diam saja, kamu memang ORANG YANG CUEK. - Kalau kamu tidak berani menyatakan perasaanmu lebih dulu, kamu dibilang PRIA PEMALU. Kalau kamu terlalu agresif mengejar si dia, kamu dikatakan PRIA NORAK. - Kalau kamu tidak mengijinkannya hang out bareng teman-temannya, kamu memang PRIA POSESIF. Kalau kamu memberi dia kebebasan hang out tanpa dirimu di sampingnya, kamu dituduh SUDAH BOSAN BERSAMANYA. - Kalau kamu menangis, kamu dikatakan PRIA CENGENG. Kalau kamu tidak menangis, kamu dikatakan PRIA TAK BERPERASAAN. - Kalau kamu membuat keputusan tanpa berembuk dengannya, k...

KANVAS KEHIDUPAN

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya dan seorang adik berjalan-jalan di daerah Pasar Baru, tak sengaja mata saya tertumbuk pada seorang pelukis jalanan yang sedang melukis wajah seorang ibu. Langkah kaki saya pun terhenti. Saya perhatikan betapa mahirnya tangan sang pelukis menari-nari di atas kanvasnya. Wajah sang ibu yang sudah berumur itu dalam waktu yang singkat sudah berpindah ke atas kanvas. “Wah, kok..jadi keliatan lebih muda ya?” Ujar sang ibu gembira ketika hasil lukisannya sudah selesai. “Iya, lebih cantik lagi.” Suami sang ibu tersenyum menggoda. “Akh, bapak bisa aja.” Sang ibu tersipu malu. “Lukis saya juga dong,” Kata sang suami pada si pelukis jalanan. “Hasilnya harus lebih ganteng ya?” Pintanya sambil nyengir. Sang pelukis jalanan itu pun kembali menggoreskan kuasnya ke atas kanvas. Saya pun bolak balik memerhatikan wajah Bapak yang sedang dilukis dengan hasil goresan sang pelukis. Apakah sama? Atau…lebih ganteng ketimbang aslinya? Hari ini ketika saya ingat peristiwa i...

SEPOTONG ROTI YANG BULUKAN

Heru adalah seorang pengusaha yang kaya raya. Hari ini – sejak pagi sampai siang - dia terlihat sangat sibuk dengan bisnisnya. Ada rapat-rapat penting yang harus ia hadiri. Ada memo-memo yang harus ia tandatangani. Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Heru duduk kelelahan di dalam mobil mewahnya. Dia menyandarkan kepalanya di jok mobil. Memejamkan matanya. Sementara sang supir pribadi mengemudikan mobilnya dengan sangat mahir. Tiba-tiba, Heru teringat sesuatu. Dia belum membeli obat untuk sakit jantungnya. Heru menyuruh sang supir berhenti di sebuah apotik. Dia turun dan mengeluarkan resep dari dokter pribadinya. Keluar dari apotik, Heru dicegat oleh seorang gadis cilik berpakaian compang camping. “Pak…kasihani saya, perut saya lapar…pak….” Gadis cilik itu menadahkan tangannya. Heru mengernyitkan kening. Dasar pengemis! Bisanya minta-minta. Dia pasti disuruh orang tuanya. Heru bergegas ke tempat parkir. Si gadis cilik mengikuti langkahnya. “Pak…tolong …saya sangat kelapara...

ULURKAN TANGAN KECILMU

Ketika banjir besar melanda kota Jakarta di bulan Pebruari tahun 2007, ada seorang teman yang rumahnya kebanjiran nyaris sampai ke atap. Pada waktu itu – setelah mendengar musibah yang dialaminya – saya langsung menghubungi ponselnya. Ingin menanyakan dimana dia sekarang. Ternyata, dia sudah mengungsi ke rumah tantenya. Rumahnya rusak berat dan untuk sementara tak dapat dihuni. Perlu diperbaiki dulu. Saya bersyukur dia dan keluarganya selamat tapi sekaligus prihatin. Saya tahu, penghasilannya sebagai Legal Staff di sebuah perusahaan tidak terlalu besar. Ayahnya sudah meninggal dunia. Sedangkan, ibunya adalah seorang guru di sebuah SD Negeri. Saya pun mulai berpikir, apa yang bisa saya lakukan untuk dia. Hmm, saya teringat pembicaraan kami di telpon. Dia bilang, semua bajunya basah dan kotor kena lumpur. Dia sampai meminjam baju sepupunya. Langsung saja, saya buka lemari baju saya. Tidak ada baju yang ingin saya sumbangkan ke orang. Semuanya masih bagus dan layak pakai. Tapi, saya har...

NETWORKING

Bulan Juni yang lalu - ketika saya sedang berada di luar negeri - sebuah cerpen saya dimuat di sebuah majalah. Saya baru mengetahuinya - beberapa hari kemudian setelah tiba di Jakarta - ketika sedang mengecek saldo rekening di internet banking. Ada sejumlah uang (yang merupakan honor saya) masuk ke rekening saya dari redaksi majalah itu. Tapi anehnya, majalah yang memuat karya saya tersebut tidak dikirim ke rumah. Biasanya - setiap karya saya dimuat - seminggu setelah majalah terbit, saya akan dikirimi sebuah sebagai bukti sudah dipublikasikan. Saya pun menghubungi pihak redaksi menanyakan mengapa majalahnya belum dikirim? Mereka meminta saya menunggu karena mereka belum menerima retur majalah yang tak terjual. Sembari menunggu, saya mencoba mencari majalah itu di proyek Senen dan beberapa agen majalah tapi hasilnya nihil. Sedangkan di toko buku sudah tidak ada karena sudah lewat 2 minggu dari tanggal terbit. Lelah mencari tapi tak menemukannya, saya kembali menghubungi pihak...

BOROS JANJI

Dalam suatu pelayaran, cuaca buruk dan badai besar terjadi. Para penumpang pun berteriak-teriak ketakutan minta tolong. Mereka mulai berdoa dan berjanji bahwa mereka akan berbuat baik bila mereka selamat. Tetapi…tiba-tiba salah seorang penumpang berteriak : “Wooii!! Jangan boros janji-janji manis sama Tuhan. Aku sudah melihat daratan tuh! Sebentar lagi kita pasti selamat.”