Segenggam daun di tepi La Seine
Penulis : Wuwun Wiati S
Penerbit : GPU
Semula gak tertarik beli novel ini tapi baca sinopsis jadi penasaran. Pengen tahu seperti apa kehidupan orang Perancis. Lagian, covernya juga lumayan menarik. Jadi saya beli saja. Dan...isinya lumayan 'mengejutkan'. Bukan mengejutkan dalam hal tulisannya atau alur ceritanya. Gaya bahasa dan alur cerita sih biasa saja. Tapi kehidupan orang-orang Perancis yang luar biasa bebas banget yang bikin kaget.
Gimana ga kaget pas membaca tentang swinger club, sebuah klub dimana orang yang sudah punya suami/isteri atau sudah punya pacar, bisa gitu bercinta dengan pasangan orang lain. Lalu, bercintanya itu di tempat terbuka. Dilihat orang-orang lain yang ada di klub tersebut. Setelah itu, mereka balik lagi ke pasangan semula. Tujuannya cuma untuk menuntaskan imajinasi mereka yang mungkin nggak bisa dicurahkan dengan pasangan sebenarnya. Gubraak! Bebas banget dan menyeramkan. Gak beda jauh dengan - maaf - hewan.
Lalu, ada pantai naturisme dimana orang-orang yang kesana wajib telanjang bulat. OMG! Saya memang pernah baca artikel mengenai aksi nudis di tempa tertentu di luar negeri. Tapi....tetap saja terkejuuut pas baca adegan nudis ini. Astaga! Astaga! Gak terbayang deh rasanya kalo harus bugil terus ngobrol-ngobrol cantik dengan teman-teman yang juga bugil.
Dan, akibat dari kehidupan yang bebas itu, Ajeng - yang berpacaran dengan Yves dan mencoba untuk hidup bersama - nyaris berselingkuh dengan Alain, sahabat Yves. Apalagi Alain yang ganteng itu tergila-gila berat sama Ajeng. Untunglah, Ajeng masih mencintai Yves dan berusaha tetap setia. Dan, mereka tetap melanjutkan rencana menikah. Bukan sekedar hidup bersama. Juga bukan sekedar PACS (Le Pacte de Solidarite) yang merupakan ikatan permanen tapi bukan pernikahan. Kalo mau bubar lebih sederhana prosesnya. Tinggal menandatangani pembatalan PACS. Tidak seperti perceraian yang perlu proses pengadilan. Biasanya, PACS ini untuk mengurangi pajak. Karena di Perancis, pajaknya cukup besar. Tapi bagi yang sudah menikah atau PACS akan mendapat pengurangan. Ada-ada saja ya....tapi saya jadi dapat pengetahuan baru. Seperti itu toh hukum perkawinan di Perancis.
Soal makanan juga. Ternyata melon dan kiwi itu makanan pembuka. Kalo mangga untuk makanan penutup. Haiyaan...ribet amir...Kalo di Indonesia kan semua buah kayaknya cocok dimakan kapan aja. Hihihih....
Well, secara keseluruhan novel ini saya kasih nilai 7 tapi dari sisi pengetahuan bolehlah. Jadi ngeh gitu akan prinsip Liberte, Egalite dan Fraternite nya negara Perancis.

Komentar