Review novel For a Better Tomorrow
Penulis : Rini Zabirudin
Penerbit : GPU
Jujur aja sih, pertama kali
liat cover novel ini saya nggak tertarik membelinya. Saat membaca nama
penulisnya juga nggak tertarik karena saya pernah baca novel karya Rini
Zabirudin (judulnya lupa) yang sebelumnya tapi kok, nggak menarik ya.
Tapi karena ketika membaca
sinopsisnya di cover belakang novel, saya jadi iseng membelinya. Soalnya, salah
satu tokoh utamanya berprofesi sebagai seorang herbalis. Jarang kan novel yang
menceritakan profesi herbalis. Biasanya, profesi dalam novel-novel romantis kalo
nggak artis, model, designer, chef, pengusaha toko kue dan profess-profesi
lainnya yang semua orang juga tahu. Sementara profesi herbalis tidak begitu
sering diceritakan. Walaupun kalo mau
diperhatikan, seorang sinshe yang jualan obat sebenarnya bisa termasuk kategori
herbalis minus menanam sendiri tumbuh-tumbuhan yang dijadikannya obat.
So, atas dasar alasan-alasan
diatas, saya beli deh novel romantis ini. Dan, ternyata pas dibaca..bagus juga
lho. Ceritanya tentang seorang napi bernama Bima yang melarikan diri dari
penjara karena merasa dirinya tidak bersalah dan ingin membersihkan nama
baiknya dari tuduhan membunuh isterinya sendiri. Dalam pelariannya itu, Bima hidup
sangat menderita karena kekurangan makan dan harus hidup di hutan rimba
berhari-hari lamanya. Sampai suatu ketika, dia menemukan rumah Ellis, seorang
herbalis yang sudah menjanda dan hidup sendiri di daerah terpencil.
Ellis yang cantik, lugu dan
baik hati pun menolong Bima. Bahkan, menawari Bima pekerjaan untuk
membantu-bantu dirinya. Tanpa merasa curiga kenapa Bima bisa jatuh pingsan di
bagian belakang rumahnya, wanita itu dengan tulus menolong Bima. Kebaikan hati
Ellis dibalas Bima dengan bekerja sebaik mungkin hingga tanpa disadari keduanya
mulai jatuh cinta. Namun, ada Raphael, seorang pengacara yang juga mencintai
Ellis. Hanya saja, Ellis tidak mencintai pemuda itu.
Raphael yang cemburu akan
kehadiran Bima pun mulai menyelidiki siapa Bima sebenarnya. Perkelahian antara
Raphael dan Bima tak terelakan lagi saat Raphael meminta Bima untuk menyerahkan
diri kepada pihak yang berwajib. Bima menolak karena ia masih ingin mencari
bukti-bukti bahwa dirinya tidak bersalah.
Untunglah, Ellis melerai
mereka. Bahkan, akhirnya Raphael (atas permintaan Ellis tentunya) mau menolong
Bima untuk membuktikan bahwa bukan Bima yang membunuh isterinya.
Raphael juga secara jantan
akhirnya mau menerima kalau Ellis lebih memilih Bima ketimbang dirinya. Hanya
saja, timbul masalah baru. Bima yang seorang marinir ingin tinggal di kota
karena pekerjaannya menuntut begitu. Sementara Ellis tidak bisa meninggalkan
rumah terpencil, warisan neneknya. Apalagi profesinya sebagai herbalis sangat
dibutuhkan oleh para penduduk di daerah tempat tinggalnya. Jadi, siapa yang
harus mengalah? Bima atau Ellis? Apakah takdir akan memberikan pilihan lain
bagi mereka?
Pengen tahu jawabannya, beli
dong novelnya dan baca saja sendiri biar tahu endingnya.
Btw, tokoh yang saya suka di novel ini :
Raphael karena dia gentle mau menerima kekalahannya dalam memperebutkan cinta Ellis dan dia mau menolong Bima. Padahal Bima kan saingannya.
Tokoh yang saya benci :
Nggak ada. Soalnya, tokoh-tokoh di novel ini kan sedikit.
Adegan yang disukai :
Waktu Ellis menolong Bima tanpa peduli siapa Bima dan kenapa bisa nyasar ke rumahnya. Bima kan pasti bau dan kotor banget tapi Ellis nggak tampak jijik. Duh, hati mother Teresa banget gak sih....

Komentar