BANJIR LAGEEEE...AKH..BANJIR LAGEEE...
Belasan tahun tinggal di Sunter, baru tahun ini saya kebanjiran paraaah. 30 senti. Untungnya, saya dan keluarga sudah terlatih ngadepin banjir. Waktu kecil, saya memang tinggal di daerah langganan banjir jadi nggak terlalu kaget lagi. Cuma tetep aja ngeselin. Berharap pindah ke rumah yang baru biar gak banjir eh malah kebanjiran lagi. Padahal waktu 2002 rumah kami bebas banjir. Tahun 2007 juga cuma rembes dan air masuk dari kamar mandi belakang. Itupun sedikit banget. Tahun 2012 juga sempet masuk dari kamar mandi belakang tapi ya nggak banyak. Semata kaki juga nggak sampai.
Lha, tahun ini....kok dalam ya. Apa karena danau Sunter yang meluap ? Atau, karena komplek belakang rumah kami sudah meninggikan jalanan mereka? Jadi air ngalir ke kompleks kami. Entahlah. Yang pasti, selama dua hari kebanjiran, saya dan keluarga berusaha enjoy aja. Abis, mau gimana lagi. Ngeluh juga nggak menyelesaikan masalah. Masih untung kami punya loteng dan ada kamar tidur di loteng. Jadilah, kami berempat tidur sekamar. Barang-barang yang bisa diangkut pun dipindahkan ke loteng. Sementara sofa di ruang tamu sudah keburu kami angkat dan taruh di atas meja tulis yang tinggi. Kasur di lantai bawah cuma kena bagian bawahnya saja. Jadi, nggak kena busanya.
Dan, kebetulan lemari es kami sudah diletakkan di balok yang tinggi. Kami sudah buatkan balok tinggi ketika tahun 2012 air masuk sedikit. Televisi ada di rak TV yang tinggi jadi aman. Secara keseluruhan barang-barang berharga nggak kena banjir. Cuma kami deg-degan sama stop kontak yang letaknya rada dibawah. Tapi lagi-lagi Tuhan masih menolong kami. MCB di rumah ada beberapa saluran. Untuk lantai bawah beda salurannya dengan lantai atas. Jadi, saluran lantai bawah saja yang dimatikan. Ini kalo sampai air semakin tinggi. Tapi Tuhan yang baik selalu menolong kami, sehingga stop kontak selamat dari air banjir. Tentu saja, kami sudah berdoa biar banjirnya nggak makin tinggi.
Walau begitu banjir surut kami sibuk membersihkan lumpur tapi tetep bersyukur deh. Setidaknya masih ada loteng.
O ya, yang paling bikin sengsara bukan air banjirnya tapi WC di lantai bawah dan lantai atas yang mampet. Saya sampai nggak berani makan nasi. Dalam sehari saya makan nasi sekali saja. Itu juga kalo udah laper banget. Soalnya, takut pup. Lha, WC meluap gitu...mana berani pup. Saya cuma berani makan roti dan buah. Apalagi mencium aroma pesing dan kotoran di WC bikin saya enek.
Mandi pun cuma sekali. Kami mandi di kamar mandi bawah. Air di bak mandi masih bersih dan cukup tinggi sehingga tidak kemasukan air kotor. Mandi pun buru-buru karena kaki kedinginan terendam air banjir.
Well, itulah pengalaman banjir tahun ini. Semoga ini adalah banjir terakhir yang kami alami.
Kondisi dalam rumah saat banjir belum mencapai betis.
Loteng udah kayak gudang saking banyaknya barang yang diungsikan ke sana.
Jalanan depan Kompleks di hari ketiga banjir masih sepaha orang dewasa.



Komentar
macet dan banjir...
bikin tambah pikiran....
tp herannya mbak betah2 aja...
hihihihihiiiii