LIFE MUST GO ON
Orang bijak berkata, “Everything will be okay in the end. If
it’s not okay, then it’s not the end. “ Artinya semuanya akan baik pada
akhirnya. Jika tidak baik. Maka itu belum akhirnya.”
Ucapan bijak inilah yang sering direnungkan oleh Asti,
seorang wanita yang pernah mengalami perkosaan di masa kecilnya. Dari kalimat itu, Asti merenungkan
kehidupannya seperti ini :
“Kataku, hidup itu kelam dan tak ada cahaya yang mampu untuk
membuatku bersinar. Tetapi, nuraniku memungkirinya. Ia berbicara dengan lembut
bahwa semua hal yang terjadi di dalam hidupku patut untuk kusyukuri. Aku tak
pernah menginginkan “orang-orang” itu hadir di dalam hidupku. Orang-orang yang
telah membuatku menjadi seorang wanita yang kehilangan harga diri. Orang-orang
yang telah merenggut sebagian kesucianku sebagai wanita. Pastilah ada yang hilang dari sosok anak yang bertumbuh
dengan citra diri yang rusak. Dan memang benar, aku bertumbuh tanpa pemahaman
yang seutuhnya benar dan siapa diriku yang sesungguhnya. Walau tak mudah,
tetapi aku harus tetap tumbuh. Sebagai manusia, disela-sela kehidupan, ada
kalanya aku berimajinasi, “Seandainya….” Seandainya kesalahan orang-orang itu
tidak terjadi, apakah yang akan berbeda dari hidupku? Pagi itu aku termenung
dan membayangkan yang mungkin terjadi di dalam hidupku bagaikan perbincangan di
dalam sebuah lagu “Que sera-sera”.
Di lagu itu, seorang gadis bertanya dan menginginkan kehidupan yang
bahagia di setiap periode hidupnya. Lalu yang ditanya pun menjawab, “Apapun
yang terjadi, terjadilah. Hidup kedepannya tidak ada yang tahu.”
“Hmmmhhh,” Aku menghela napas, tersadar dari lamunan. Itu hanya
sebuah angan-angan dan harapan, tetapi kenyataan yang terjadi di dalam hidupku
jauh berbeda dengan apa yang aku angan-angankan.
Pasti menyenangkan memiliki kehidupan tanpa disertai beban
mental yang memberatkan. Kehidupan yang daripadanya nama kita harum dan
keberadaan kita menjadi kesukaan orang, bukan celaan. Tetapi, pagi itu aku
disadarkan, pasti dari segala sesuatu yang terjadi, ada hikmah yang bisa
dipetik. Tentunya dengan iman, yaitu bahwa Tuhan bisa menjadikan pengalaman
buruk di dalam sejarah kehidupanku, sebagai sesuatu yang indah pada ujungnya.
Semua hanya tinggal menunggu
waktu. Bertumbuh disertai dengan keadaan yang kelam bukan berarti tidak bisa
menjadi seseorang yang baik. Yang menakjubkan, justru hal itu menghasilkan
gelora hati untuk menjadikan semua pengalaman buruk itu menjadi modal hidup
untuk menjadi berkat. Apa yang telah terjadi dahulu, memberiku kesempatan agar
aku dapat menguatkan keberadaan mereka yang pernah mengalami keadaan seperti
aku.”
Renungan Asti akan kisah hidupnya sangat bijaksana. Karena, bagaimanapun buruknya masa lalu,
kehidupan sekarang tetap harus kita jalani dengan baik. Bukankah life must go on? Baik atau tidak, senang atau susah, cara kita
menyikapi hidup akan menentukan indahnya hidup ini. Jangan pernah sesali
pengalaman buruk yang menimpa kita, tetapi sebaliknya ambillah hikmah darinya
dan gantungkan harapan indah yang menimpa kita.
Komentar
For some reason, update lu kok ga pernah muncul di dashboard gua ya Fan? Gua kira lu udah ga aktif nulis...