KISAH PAK RT : IURAN KEAMANAN YANG BERBEDA
Ini kisah nyata dari sebuah kompleks perumahan kelas menengah di daerah Jakarta Utara. Saya tulis dalam bentuk sebuah cerpen mini.
Pak Kamal menolak membayar iuran keamanan yang ditagih oleh pak Udin, salah seorang hansip yang bertugas di kompleks Makmur Jaya, tempat tinggal pak Kamal.
"Maaf, pak Udin. Bukan saya nggak mau bayar iuran keamanan bulan ini. Tapi saya keberatan dengan jumlahnya. Masa iuran untuk saya lebih mahal dibandingkan tetangga lainnya."
"Iya, pak Kamal. Pak RT maunya gitu. Katanya, isteri pak Kamal buka praktek sebagai dokter gigi jadi iurannya lebih mahal. "
"Apa hubungannya? Toh, saya nggak menganggu lingkungan kompleks ini. Pasien saya juga sedikit. "
"Waduh, saya juga nggak ngerti nih, pak. Nanti bapak ngomong aja ya sama pak RT."
Keesokan harinya, pak Roni menemui pak Rudy, sang ketua RT.
"Pak Rudy, terus terang saja saya merasa keberatan dengan iuran keamanan yang dibedakan begini. Apa alasannya ya, pak?"
"Pak, walaupun rumah lain nggak ada plang, mereka juga ada penghasilan toh. Mereka juga ada yang buka usaha. Cuma usahanya nggak di rumah. Tapi di toko atau di ruko. Jadi, bapak nggak bisa bilang karena ada plang notaris berarti ada penghasilan. Semua orang di kompleks ini juga ada penghasilan."
"Yaaaa, kalo gitu copot aja plangnya, pak."
"Mana mungkin dicopot? Itu kan peraturan pemerintah. Sebagai notaris, saya harus pasang plang meskipun bukanya di rumah sendiri."
Pak Rudy hanya mesem nggak jelas. Pak Roni kesal.
"Yah, saya minta kebijakan bapaklah. Karena kantor saya juga nggak rame, pak. " Ujar pak Roni akhirnya.
"Iya, iya..nanti saya bicarakan lagi dengan sekretaris RT." Janji pak Rudy.
"Maaf, pak hansip. Saya bukan nggak mau bayar. Tapi saya ingin adil. Kalo iurannya sama dengan tetangga lain, pasti saya bayar."
"Aduh, pak Roni. Kebijakan RT nggak bisa diganggu gugat."
"Yo wes, kalo gitu saya nggak mau bayar." Pak Roni mengembalikan kuitansi iuran keamanan kepada pak Hansip yang bertugas menagih bulan itu.
Pak Kamal menolak membayar iuran keamanan yang ditagih oleh pak Udin, salah seorang hansip yang bertugas di kompleks Makmur Jaya, tempat tinggal pak Kamal.
"Maaf, pak Udin. Bukan saya nggak mau bayar iuran keamanan bulan ini. Tapi saya keberatan dengan jumlahnya. Masa iuran untuk saya lebih mahal dibandingkan tetangga lainnya."
"Iya, pak Kamal. Pak RT maunya gitu. Katanya, isteri pak Kamal buka praktek sebagai dokter gigi jadi iurannya lebih mahal. "
"Apa hubungannya? Toh, saya nggak menganggu lingkungan kompleks ini. Pasien saya juga sedikit. "
"Waduh, saya juga nggak ngerti nih, pak. Nanti bapak ngomong aja ya sama pak RT."
Sementara itu, pak Roni - tetangga pak Kamal - yang membuka praktek kantor notaris sedang mengeluh akan sikap pak RT yang semena-mena menaikkan iuran keamanan di rumahnya lebih tinggi dari tetangga lainnya.
"Saya nggak bisa membiarkan hal ini terjadi terus menerus. Tahun lalu, pak RT juga menaikkan iuran lebih tinggi untuk rumah kita. Besok saya mau ketemu pak RT. Mau komplain." Pak Roni berkata kepada isterinya.
Keesokan harinya, pak Roni menemui pak Rudy, sang ketua RT.
"Pak Rudy, terus terang saja saya merasa keberatan dengan iuran keamanan yang dibedakan begini. Apa alasannya ya, pak?"
Pak Rudy tersenyum sambil mengelus kumisnya yang mirip kumis lele. "Yaaah, itu karena pak Roni buka kantor di rumah bapak. Ada plang notaris gitu. Berarti ada penghasilan, jadi wajar kalo bapak bayar lebih mahal dibanding rumah lain yang nggak ada plang. Nggak ada usaha di rumahnya."
"Pak, walaupun rumah lain nggak ada plang, mereka juga ada penghasilan toh. Mereka juga ada yang buka usaha. Cuma usahanya nggak di rumah. Tapi di toko atau di ruko. Jadi, bapak nggak bisa bilang karena ada plang notaris berarti ada penghasilan. Semua orang di kompleks ini juga ada penghasilan."
"Yaaaa, kalo gitu copot aja plangnya, pak."
"Mana mungkin dicopot? Itu kan peraturan pemerintah. Sebagai notaris, saya harus pasang plang meskipun bukanya di rumah sendiri."
Pak Rudy hanya mesem nggak jelas. Pak Roni kesal.
"Yah, saya minta kebijakan bapaklah. Karena kantor saya juga nggak rame, pak. " Ujar pak Roni akhirnya.
"Iya, iya..nanti saya bicarakan lagi dengan sekretaris RT." Janji pak Rudy.
Tetapi janji pak RT hanya janji palsu. Bulan berikutnya, iuran keamanan yang ditagih kepada pak Roni tetap lebih besar ketimbang iuran untuk rumah lainnya. Semua rumah yang buka usaha dikenakan iuran lebih mahal. Pak Roni pun ngotot, tidak mau melunasi iuran keamanan tersebut. Dia ingin disamakan jumlahnya baru mau bayar.
"Maaf, pak hansip. Saya bukan nggak mau bayar. Tapi saya ingin adil. Kalo iurannya sama dengan tetangga lain, pasti saya bayar."
"Aduh, pak Roni. Kebijakan RT nggak bisa diganggu gugat."
"Yo wes, kalo gitu saya nggak mau bayar." Pak Roni mengembalikan kuitansi iuran keamanan kepada pak Hansip yang bertugas menagih bulan itu.
"Lagian, pak...kalo toh mau naik, mestinya runding dulu dengan warga. Nggak bisa seenaknya dong menaikkan iuran keamanan begini saja." Ujar pak Roni lagi. Pak Hansip terdiam. Lalu membalikkan tubuhnya, meninggalkan rumah pak Roni.
Tindakan beberapa warga yang diperlakukan nggak adil dalam pembayaran iuran keamanan ternyata membuat pak RT jengkel. Pak RT yang semena-mena itu mencoba mengenakan sanksi. Tanpa menyadari bahwa sebagai RT dia sudah bertindak tidak wajar. Aduh, duh...baru juga jadi RT tapi kelakuannya sudah seperti pejabat tinggi. Apa tindakan pak RT selanjutnya? Nantikan kisah lanjutannya ya.
Komentar