FOTO BERTIGA

Senja di  Jimbaran. Langit menebar warna jingga menawan. Rina, Ita dan Dilla tertawa riang. Ketiga dara cantik itu asyik bermain pasir. Sesekali mereka saling mendorong satu sama lain. Bila salah seorang dari mereka terjatuh, yang lain akan menabur pasir ke rambut sang 'korban'. Sudah jatuh, tertimpa pasir pula. Begitu celetuk Ita yang sering banget terjatuh. Mungkin karena tubuhnya yang paling kurus dan mungil. Dengan tinggi sekitar 149 senti, Ita memang bagai liliput di antara raksasa. Rina tinggi langsing bak model. Dilla tinggi besar cenderung gemuk. Jadilah, Ita dipepet kiri dan kanan.

"Eh, udah akh main pasirnya. Yuk, kita foto bareng." Teriak Rina sambil merapikan rambut sebahunya yang kacau balau disentil angin senja yang nakal.

"Ayo! Ayo....! Kita bernarsis ria." Seru Ita sambil mengeluarkan kamera digitalnya dari ransel. 

"Sip, aku sama Rina dulu ya fotonya? Ntar giliran kamu berdua dengan Rina." Ujar Dilla sambil menyisir rambut pendeknya dengan jari tangan. Rambut gadis berpipi chubby itu tak kalah kacau balaunya dengan rambut Dina. Angin senja di pantai Jimbaran memang sedang bertiup kencang sekali.

"Aduh, kenapa sih mesti berdua mulu kalau foto? Kita kan tiga sahabat, tiga serangkai masa fotonya berdua doang? Enggak asik akh. " Teriak Rina mengalahkan suara deburan ombak yang mendadak menghempas tepi pantai tempat mereka berdiri. 

"Waduh, Rina...!! Berapa kali aku bilang. Jangan foto bertiga. Bahaya itu. Kata nenekku, kalau foto bertiga biasanya orang yang di tengah akan mengalami celaka. " Dilla mengingatkan.

"Hare gene masih percaya takhyul? Apa kata duniaaaa?? Aku sering tuh foto bertiga dengan teman-temanku di kampus. Dengan sepupuku juga sering. Nyatanya, aman-aman saja tuh. Nggak ada yang celaka. Udahlah, Dilla...sekali ini aja kita foto bertiga. Plisssss!!! " Rina memasang mimik sok imut.

"Iya, La. Masa sih kita nggak pernah sekaliii aja foto bertiga. Buat kenang-kenangan gitu." Ita mencoba membujuk Dilla yang memang percaya banget sama takhyul. Mungkin karena sejak kecil dia diasuh oleh kakek neneknya yang selalu percaya pada takhyul. Orang tua Dilla sendiri telah lama meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. 

"Tapi, Ta....nenekku bilang.....,"

"Ih, nih anak. Itu kata nenekmu. Dimana-mana orang yang sudah sepuh kan memang suka percaya sama pantangan dan pamali-pamali. Padahal semua itu kan belum tentu terbukti kebenarannya. Aku juga sering kok foto bertiga. Bahkan, dengan orang tuaku dan aku berdiri di tengah. Tapi, sampai hari ini aku sehat walafiat kan?" Rina menukas, gemas. 

"Hmm...i iya deh...kalau kalian memaksa juga. Tapi, aku nggak mau foto di tengah ya. " Setelah terdiam beberapa saat, Dilla akhirnya mengalah pada kehendak kedua sahabatnya.

"Tenang aja, ntar aku aja yang di tengah." Ujar Ita sembari menepuk bahu Dilla.

"Aku juga nggak masalah foto di tengah kalian." Rina mesem girang karena  Dilla mau memenuhi permintaannya.

Klik! Klik! Ketiga dara itu pun asyik berfoto ria.  Tentu saja, posisi Dilla tak pernah berada di tengah. Namun, perasaan tak enak selalu saja merambati hati Dilla. Nalurinya mengatakan akan terjadi sesuatu pada salah satu dari sahabatnya. 
                                                                             
Setelah asik berfoto, ketiga sahabat itu menikmati makan malam bersama di salah satu restoran yang bertebaran di tepi pantai Jimbaran. 

"Aduh, duri  ikannya tajam amat. Jariku tertusuk nih. " Ujar Ita yang sedang melahap ikan bakar.

"Makanya, kalau makan pelan-pelan. Jangan kesusu ngoprek daging ikannya. Kalem aja. Ikannya nggak akan hidup lagi kok. " Ledek Dilla. Ita mencibir. Diisapnya jari telunjuk kirinya yang memerah.

"Boom!! Ada boomm!!!!! Lariiiii!!!!" Tiba-tiba terdengar orang-orang berteriak. Lalu, kepulan asap hitam dan nyala si jago merah mengepung pantai Jimbaran. Dilla sontak merunduk di kolong meja. Sementara Ita dan Rina melongo kaget.  Mereka berdiri serentak, hendak kabur keluar restoran tetapi atap restoran mendadak runtuh menimpa kepala mereka. 

"Aarrggggh! Tolooonggg!!" Teriak Ita.

"Itaaa!! " Dilla berusaha keluar dari kolong meja tetapi asap hitam yang kian menebal membuatnya sesak dan lemas. Dilla kehilangan kesadarannya sebelum sempat menolong Ita. Sementara kepala Rina tertimpa sesuatu yang membuatnya jatuh terkulai seketika.

                                                                       **

Dilla memandangi kedua nisan yang masih baru itu dengan mata sembab. Kerudung hitamnya tertiup angin siang. Hatinya merasa ngilu. Mengapa semua ini harus terjadi ya, Tuhan? Apakah karena kami foto bertiga? Dan, mengapa hanya aku yang selamat? Bukannya aku tak bersyukur padaMu, tetapi kami adalah tiga serangkai. Mengapa harus dipisahkan dengan cara setragis ini? Mengapa????

Dilla terus menjerit dalam hatinya. Dia ingin tidak mempercayai takhyul foto bertiga itu sebagai penyebab malapetaka ini. Dia ingin sekali percaya bahwa kematian sahabat-sahabatnya adalah memang sudah kehendakNya. Foto bertiga itu sama sekali tidak ada kaitannya. Tetapi, terasa sulit sekali. 


                                                                       **

Lima tahun kemudian.

"Kita foto yuk! " Ajak Bram sambil menggandeng tangan Dilla. 

"Jangan bertiga ya, mas." Dilla mengingatkan suaminya. 

"Ya jelas bertiga dong, sayang. Si kecil Daffa masa nggak diajak foto?" 

"Maksudku, kamu dulu aja foto dengan Daffa. Ntar baru giliranku foto dengan Daffa." 

"Lho? Masa berdua berdua fotonya? Kan kita udah satu keluarga. Ya harus berfoto bertiga dong."

"Tapi, mas...foto bertiga itu bikin kita celaka. Apalagi yang foto di tengah. Pasti akan....."

"Ssst..Dilla sayang..sudah..sudah...apa yang terjadi pada dua sahabatmu itu karena kehendak sang Khalik. Bukan karena soal foto bertiga. Ayo, siap-siap...Tuh, liat mas Danu sudah menunggu kita dengan kameranya."

"Mas...jangan...aku takut....,"

"Dilla, percayalah..Tidak akan terjadi apa-apa pada kita. Ayo, sayang. Biar aku yang gendong Daffa. " Bram menarik lengan isterinya dengan lembut. Dilla pun terpaksa menurut.

Klik! Foto bertiga itu pun terlaksana dalam sekejap. 

                                                                              **

Dua puluh tahun kemudian.

Dilla memandangi foto keluarga itu dengan seulas senyum bahagia di bibirnya. Foto keluarga yang pertama dan terakhir yang pernah ia miliki. Karena sejak foto bertiga dengan suami dan anak semata wayangnya, Dilla tak pernah lagi mau diajak foto bertiga. Dia selalu was-was kalau terjadi sesuatu hal yang mengerikan meskipun sudah terbukti kalau foto bertiga yang dilakukannya dengan terpaksa itu tidak menimbulkan bencana apapun. Tetapi, tetap saja hatinya selalu merasa takut.

Sekarang, setelah suaminya meninggal dunia karena sakit jantung dan Daffa melanjutkan kuliah di Amerika, Dilla merasa ingin sekali kembali ke masa-masa ketika suaminya masih hidup. Andai saja bisa, ia ingin foto bertiga sekali lagi. Karena foto bertiga tak berarti malapetaka.

"POSTINGAN PENUH RASA SYUKUR INI UNTUK MEMERIAHKAN SYUKURAN RAME RAME MAMA CALVIN, LITTLE DIJA DAN ACACICU"



Komentar

attayaya mengatakan…
aku pernah poto bertiga, semoga kita semua dilindungi Tuhan Yang Maha Esa

dah lama tak beweh
Ada asap, ada api...

Takhayul muncul pasti karna sesuatu.... Jangan dianggap remeh,
Unknown mengatakan…
wahh...aku juga kadang suka ngeri-ngeri gitu, tapi tetep aja suka photo ber tiga...hehee...
Lidya Fitrian mengatakan…
Foto bertiga ternyata tidak seperti yang Dilla bayangkan sebelumnya ya. Terima kasih ya mbak Fanny ceritanya bagus.
vaozy mengatakan…
aku pernah foto bertiga,,,
SunDhe mengatakan…
Kebetulan-kebetulan yang terjadi di kehidupan menjadikan Dilla bersugesti ria T_T.
Fannn.. jangan lupa ikutan GA-nya Dhe yah^^, ditunggu lho!!
Niken Kusumowardhani mengatakan…
Makna 3 nya keren deh... Beda dari yang lain.. semoga sukses dengan GA-nya...
Unknown mengatakan…
aku pernah foto bertiga,, dan yang ditengah, meninggal mbak. hiks!

namanya dilla juga.
Elsa mengatakan…
hidup dan mati kan udah ada yang ngatur yaa... tapi mitos soal foto bertiga ini kenapa masih subur yaaa....
RZ Hakim mengatakan…
Mbak Fanny, terima kasih atas partisipasinya di acara sederhana bertajuk SYUKURAN RAME-RAME.

Penjuriannya sederhana saja, terdiri atas tiga tahap:

1. Kesesuaian dengan tema (dan memenuhi persyaratan GA)
2. Diksi dan penulisan
3. Imajinasi (sudut pandang, dll)

Pengumuman pemenang akan dilaksanakan pada 1 April 2013

Sanchia Surya Janita mengatakan…
wah eksis banget ini ikutan giveaway hihi semoga beruntung mbaak goodluck ;))
Unknown mengatakan…
mitos angka tiga? mudah2an tidak terlalu dipercaya, banyak juga yg meninggal bukan krn foto bertiga, btw ceritanya bagus :)
Santi Dewi mengatakan…
Saya merinding bacanya...
Tapi sepertinya mitos ya, karena jika kita percaya bahwa itu semua takhayul, sepertinya tdk akan terjadi apa2, InsyaAllah. Saya sering foto bertiga,dan semoga selalu dlm lindungan Allah SWT. BTW selamat ya... sudah menjadi salah satu pemenangnya... :)
Lyliana Thia mengatakan…
mbak Fannyyy.... :-D

yg kutau mitos nya gak cuma bertiga aja, tp ganjil, bener gak mbak? Entahlah... Yg namanya mitos yah,..

Ceritanya bagus banget, mbak... As usual ;-)

Selamat ya mbak Fanny :-)

Postingan populer dari blog ini

MY FIRST KISS

Pengalaman naik taksi online IV : Supir ngotot mau lewat tol

CIRI-CIRI CEWEK SUDAH PUNYA PACAR