ADA MAUNYA DEEEH!
Jadi ceritanya gini, seorang teman sebut saja namanya Mita. Kita sudah kenal cukup lama, sejak jaman kuliah. Lebih tepatnya, Mita itu kakak kelas saya (beda setahun gitu deh usianya). Sejak jaman kuliah di UI, Mita selalu ngedeketin saya. Biasa, minjem catatan. Kalo pulang dan kami kebetulan naik bus yang sama, Mita suka duduk di samping saya terus ajakin ngobrol. Ya, saya sih oke-oke saja. Masa diajak berteman nggak mau.
Pertemanan kami berlanjut sampai sama-sama jadi Notaris. Tetapi, semakin hari semakin keliatan Mita itu selalu mencari untung dari saya. Belum lama ini, dia mengajak saya melamar ke sebuah bank swasta. Bukan melamar kerjaan tetapi melamar jadi Notaris di bank tersebut. Mita mengirimkan alamat dan contact person Bank tersebut ke BB saya. Tapi karena saya kurang berminat dengan order-order dari bank, saya pun tidak menyimpan alamat yang dia kirim. Bahkan, saya menyuruh dia melamar saja sendiri.
Sampai minggu lalu, salah seorang sepupu saya yang seorang notaris Tangerang meminta alamat bank tersebut karena dia ingin melamar sebagai notaris bank tersebut. Saya pun ingat pada alamat yang pernah dikirim oleh Mita ke BB saya. Karena sudah dihapus, saya kirim pesan ke Mita minta alamat tersebut. Mita menjawab : Belum tahu, temenku yang kasih alamat itu lagi sibuk. Nggak bisa diganggu.
Saya bengong. Apa kaitannya minta alamat dengan temannya yang sibuk? Okelah, alamat itu dia dapat dari temannya. Temannya berhasil dapat order dari bank itu dan karenanya dia kasih alamat plus contact person bank tersebut ke Mita biar Mita bisa ikut melamar jadi notaris di bank itu. Lha, kenapa sekarang mendadak Mita jawab belum tahu alamatnya.
Malah Mita nanya : Kenapa elu gak mau jadi notaris di bank itu?
Saya pun ngerti. Rupanya Mita curiga, saya ingin melamar sendirian tanpa ngajak-ngajak dia, jadi dia emoh kasih alamatnya. Padahal saya memang bener mau kasih alamat itu untuk sepupu saya. Bukan untuk saya.
Akhirnya saja jawab saja di BB : Oke gak papa, kalau nggak tau alamatnya. Padahal belum lama ini , kamu sendiri yang ngirim alamat bank itu ke BB saya. Tapi karena nggak tertarik sudah saya delete alamatnya. Nanti deh saya tanya teman saya yang orang legal anak perusahaan bank tersebut. Dia pasti tahu. Ntar kalo saya udah tau alamatnya, sekalian saya kasih ke kamu deh. Tks ya.
Iya, saya sengaja nyindir dia. Saya ingin bilang ke dia, bahwa saya nggak akan pelit soal ngasih tau alamat dan contact person bank tersebut. Membaca pesan saya itu, Mita langsung merasa nggak enak. Dia telpon saya dan bilang kalau dia belum bisa kasih alamatnya karena temennya belum konfirmasi. Alasannya segambreng deh. Saya sih meringis saja. Tentu saja, saya nggak percaya alasannya itu.
Mana ada kaitannya antara kasih alamat dengan konfirmasi dari temannya? Wong, beberapa waktu lalu dia sendiri yang bilang ini alamat dan contact personnya ya, fan. Ntar kalo udah sempet kita sama-sama kirim lamaran ke bank itu.
Well, well...begitulah manusia. Ada maunya deeh baru berbaik hati sama saya. Padahal, saya bisa dengan mudah mendapatkan alamat itu karena saya pernah menjadi legal staff di anak perusahaan bank tersebut. Saya tinggal tanya ke mantan anak buah saya dulu ketika bekerja di sana. Atau telpon ke salah satu direksi yang pernah jadi boss saya. Cuma saya pikir, kalau Mita memang tahu kenapa mesti tanya ke mantan anak buah saya atau direksi kenalan saya. Ck..ck..ck..saya kecewa sekali dengan sikap Mita. Baru soal alamat saja sudah pelit, apalagi kalau saya minta tolong hal lainnya.
Padahal, selama ini saya selalu tulus membantu dia. Tapi sikapnya terhadap saya begitu perhitungan. Duh, duh...manusia..manusia...selalu ada maunya baru bermanis-manis sama kita.
Komentar
tinggal mutualisme atau parasitisme, hehehe..