KEJUJURAN SEORANG PEDAGANG KECIL
Mama saya pernah dicurangi seorang pedagang terigu di pasar. Dan, sejak saat itu saya sulit percaya pada para pedagang di pasar tradisional yang sering kami kunjungi. Karena ketidakjujuran salah satu dari mereka, prasangka buruk itu seringkali muncul di benak saya. Saya selalu merasa kalau mereka adalah para pedagang yang tidak jujur. Padahal belum tentu semuanya begitu.
Hal itu terbukti dari kejadian hari Sabtu lalu, ketika saya menemani mama ke pasar tradisional yang letaknya dekat rumah. Setelah berbelanja sayur mayur dan daging, kami mampir ke sebuah warung yang menjual aneka sabun pencuci piring dan pembersih lantai.
Baru saja kaki kami masuk ke warung itu, si mbak penjual sabun berkata kepada mama saya :
"Ibu, duuuh....saya tungguin dari minggu lalu...Saya belum ngembaliin duit ibu 10 ribu rupiah. Kan ibu pernah belanja sabun sama saya, terus uangnya belum dikembaliin, eh ibu...sudah pergi."
Mama saya melongo. Saya juga bengong.
"Masa sih, mbak?" Mama saya nggak yakin.
"Iya bu. Uangnya 20 ribu. Mestinya saya kembalikan 10 ribu. Eh, ibu udah pergi...Saya tungguin, baru hari ini ibu muncul lagi di pasar." Jawab si mbak.
"Itu kapan kejadiannya?" Tanya saya sambil mencoba mengingat-ingat. Karena biasanya setiap kali saya nemenin mama, saya suka memperhatikan saat mama memberi uang belanjaan dan menerima kembaliannya. Saya memang sering mengawasi mama karena mama suka lupa. Beberapa kali mama lupa ngambil uang kembalian dan kadang, salah ngitung uang kembalian.
"Ya kapan ya? Minggu lalu kayaknya. " Jawab si mbak.
"Pas mama saya pergi ke sini sendirian ya?" Tebak saya.
"Oh, nggak..berdua kok sama kamu." Jawab si mbak.
Oh..oh...saya manggut-manggut. Berarti waktu itu saya lagi lengah. Sampai nggak sadar kalau ada uang kembalian yang belum dikasih. Hi hi hi...ternyata saya sama cerobohnya dengan mama.
"Udah bu, kan ibu mau beli sabun juga. Jadi hari ini ibu nggak usah bayar. Kan biasanya ibu ambil dua botol toh?" Ujar si mbak lagi menyentak kebingungan mama.
"O ya, mbak...makasih lho." Ujar saya mewakili mama.
"Wah, mbak..kok jujur amat toh?" Tiba-tiba temannya si mbak penjual sabun nyeletuk.
"Iyalah, mas..sama pelanggan.." Si mbak tersenyum.
Sambil berjalan meninggalkan warung si mbak, saya merenung. Ada juga sepercik kejujuran di antara ketidakjujuran yang merajalela. Prasangka buruk saya terhadap para pedagang di pasar tradisional pun lenyap.
Komentar