JANGAN TAHAN KEBAIKAN!


Suatu kali, Kevin Carter, yang adalah seorang fotografer, berangkat ke Sudan dengan niat untuk mengambil foto perang saudara yang terjadi di sana. Namun sesampainya di sana, justru korban kelaparanlah yang menarik perhatiannya. Dalam sebuah perjalanan, dia mendapati seorang bocah perempuan yang kelaparan merangkak lemah dengan susah payah menuju pusat pembagian makanan. Sesekali bocah itu berhenti di tengah jalan untuk mengumpulkan tenaga. Ironisnya, di belakangnya ada seekor burung bangkai yang mengikutinya dan menunggu kematiannya untuk kemudian memakan mayatnya. Carter pun mengabadikan kejadian itu, Foto itu pertama kali dimuat di koran New York Times.

Tidak disangka, reaksi keras bermunculan mengkritik Carter yang tidak menolong gadis kecil itu. Carter memberi alasan bahwa dia sudah mengusir burung bangkai tersebut, namun ia tidak menolong bocah itu karena kesepakatan yang tidak memperbolehkan fotografer ikut campur di dalam konflik. Meski ia tetap menerima hadiah Pulitzer atas karyanya itu, namun  kontroversi atau perdebatan terus terjadi atas tindakan Carter tersebut. Karena tidak tahan dengan hujatan yang ditujukan kepadanya, Carter memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Tanggal 27 Juli 1994, Carter mengendarai mobilnya seorang diri dan berhenti di tepi Sungai. Ia kemudian membuat sambungan pipa dari knalpot mobil dan menghubungkannya ke jendela dan  kemudian  perlahan karbon monoksida keluar dari mesin dan masuk ke dalam mobil. Karbon monoksida itu pun meracuni paru-paru Kevin Carter dan ia pun meninggal di tempat.
     
Sang fotografer memang sudah meninggal, namun jika kita melihat foto hasil karyanya itu, seharusnya hati kita tergugah untuk berbuat baik kepada orang lain.

Seberapa sering kita menahan kebaikan bagi mereka yang berhak menerimanya? Mari, mulai sekarang jadikan kebaikan menjadi gaya hidup kita!


Komentar

Hariyanto Wijoyo mengatakan…
saya hanya mau berkata..bahwa sungguh ironi, saat seseorang mengejar obyek untuk dijadikan foto saat yang sama ia kehilangan nurani untuk menolong orang itu ...tragis
Ila Rizky mengatakan…
serem ya, mba fanny. aku baru liat berita ini. kebaikan yang tidak jadi dilakukan karena kesepakatan dengan atasan. apa semua fotografer di daerah konflik seperti itu ya? serba salah. :|
Claude C Kenni mengatakan…
Kalo ga salah gua pernah liat tuh fotonya. Kasian ya, sampe harus bunuh diri seperti itu...
Sarah mengatakan…
hiks, di satu sisi memang sudah konsekwensi, tapi di sisi lain rasa kemanusiaan yg dipertanyakan. semoga kita bs lebih perduli thd sesama.....
ceritatugu mengatakan…
sangat disayangkan kenapa harus sampai bunuh diri sehagala
Noe mengatakan…
pertama2 saya pengen mengucapkan SELAMAT NATAL dan SELAMAT TAHUN BARU buat Fanny and Family. sorry baru nongol kembali di blog ini.
Kebaikan bersumber dari kasih, itu yang saya ketahui. jadi saya setuju bahwa style hidup yg di dasarkan atas kasih pasti akan menciptakan kebaikan bagi siapapun.
nice article
Lidya Fitrian mengatakan…
harus lebih peka lagi ya untuk menolong sesama
-Gek- mengatakan…
kenapa juga dia harus bunuh diri??
Seandainya setelah memotret dia menyelamatkan anak itu, dengan memberi makanan.. saya rasa tidak ada salah.
Mbak Fanny, Met Natal n Tahun Baru, semoga sukses! xoxo
Pipit Pito mengatakan…
iya, saya juga pernah dengar berita ini.. fotonya epik banget.. tapi, memang sangat disayangkan ketika si fotografer mengabaikan si korban kelaparan.. si fotografer pun menerima konsekuensinya, yaitu perasaan bersalah yang mendalam.. dan ini membuat saya berpikir apakah hal besar juga harus mengorbankan sesuatu yang besar juga? hukum keseimbangan, menurut saya..
ketika menginginkan barang berkualitas paling bagus, kita juga harus membayar mahal untuk membelinya bukan?

Postingan populer dari blog ini

MY FIRST KISS

Pengalaman naik taksi online IV : Supir ngotot mau lewat tol

CIRI-CIRI CEWEK SUDAH PUNYA PACAR