BANJIR OH, BANJIR...



Selama 13 tahun tinggal di Sunter, baru tahun ini saya kedatangan si dewi banjir. Memang sih nggak dalam, cuma semata kaki. Tapi ya repot juga itu. Masuknya juga dari dua kamar mandi. Kamar mandi belakang dan kamar mandi depan. Kalau dari halaman nggak masuk sama sekali. Walaupun air sudah menggenangi halaman juga. Lalu, dari lantai dapur dan lantai kamar tidur orang tua saya, keluar air.  Kami menyebutnya air rembesan. Jadi, setiap kali diciduk airnya ya nongol lagi tuh. Dan, selama jalanan depan rumah belum surut, maka air rembesan akan selalu muncul. So, dari tanggal 17 sampai tanggal 18, rumah saya sudah seperti kolam ikan dengan ketinggian air semata kaki. 

Untungnya, rumah saya punya loteng dengan satu kamar tidur. Ya biarpun kecil tapi bisa buat menampung barang-barang dari lantai bawah. Untungnya lagi, semua komputer ada di loteng. Sedangkan, televisi ada di atas rak yang lumayan tinggi. Cuma, kulkas yang harus diangkat dan ditaruh di atas balok-balok biar nggak kena air banjir. Dan ngangkat kulkasnya itu gotong royong. Saya, mama, papa dan dua orang adik. Uf, lumayan deh. Berasa jadi kuli angkut. Hebatnya, papa saya tenaganya itu kuat banget. Mungkin karena rajin angkat besi  ya. Padahal usianya sudah hampir 70 tahun lho.

Selain sibuk memindahkan barang-barang, saya juga sibuk menciduk air. Tadinya, kami berharap airnya nggak lari ke ruang tengah. Cukup di dapur saja, eh..malah rembesnya makin banyak. Ya sudah, pasrah saja. Kami pun berhenti menciduk. Untungnya lagi (untung melulu nih hehehe), hujan berhenti. Dan, ruang tamu yang letaknya lebih tinggi dari ruang lainnya, nggak kena banjir. Jadi, kami masih bisa nongkrong di ruang tamu. 

Sofa pun tidak usah diangkat karena ada kakinya dan cukup tinggi. Tapi esoknya yaitu tanggal 18 Januari, kami sibuk menciduk air karena air di kamar mandi sudah surut jadi rembesannya mulai berkurang. Setelah diciduk, kami mulai ngepel. Wah, berasa banget deh. Otot-otot di lengan pada pegel kayak orang yang udah lama nggak olahraga. Ya, saya coba mengambil hikmahnya deh. Meski banjir dan bikin lelah, anggap saja lagi fitness gratis. Hi hi hi..

Untungnya lagi (jiaaah...si untung dibawa terus), kami punya stok makanan cukup banyak. Ada indomie sekardus, ada telur, minyak goreng, kecap dan masih ada roti tawar yang dibeli kemarin sore oleh papa saya. Sayuran juga masih ada di kulkas. Hasil belanja beberapa hari lalu (kalo belanja kan seminggu sekali jadi sekalian banyak). 

Lemari es yang diangkat biar nggak kena banjir. Lumayan berat lho!


Air masuk dari kamar mandi yang letaknya di sebelah mesin cuci. Mesin cucinya sampai ada setrum. Tapi colokan listriknya keburu dicabut.


Kamar mandi yang dipasangi balok dan kain gombal buat mencegah air masuk lebih banyak. 


Lemari kayu  bagian bawah terpaksa dikosongkan karena terkena banjir. Yang bagian atasnya tetap terisi. 


Tanggal 19 pagi, air di depan rumah baru surut. Nggak kebayang kalo nggak surut juga. Soalnya, tanggal 19 itu stok makanan sudah menipis. Begitu pula stok sabun untuk cuci baju dan membersihkan kamar mandi. Jadi, kami bisa pergi belanja.

Ya, banjir memang bikin susah. Tetapi, saya mencoba bersyukur untuk semuanya. Setidaknya, air yang masuk ke dalam rumah tidak sampai ke atap. Saya masih lebih beruntung dibanding para korban banjir lainnya. Dan, tentunya saya jadi lebih berempati terhadap para korban banjir karena saya juga mengalaminya.

Komentar

zachflazz mengatakan…
namanya dewi banjir to Mbak?
ya Mbak, masih bersyukur dibanding yang kita saksikan di televisi itu.
Petter Sandjaya mengatakan…
Gara-gara banjir, badan terpaksa jadi sehat ya Fan... Olahraga nya dilanjutkan ya, jangan cuma karena banjir, hehehe...
Noe mengatakan…
banjir di Jakarta sebagai ibukota negara cukup menggemparkan ya Fan.
Padahal buat saya dikampung keadaan ini adalah hal biasa. ini gambar bulan desember kemarin waktu saya juga merasakan apa itu Dewi Banjir
Reni mengatakan…
Mbak Fanny juga kebanjiran to? Untung aja gak sampai harus ngungsi ya mbak. Trus, listrik gak mati juga kan?
ayie kasturi mengatakan…
wah wah banjirnya rata ya mba.>.<
Nadia K. Putri mengatakan…
semoga tabah ya mbak.. kapan-kapan kalau sudah surut bolehlah ditanam pepohonan atau bunga-bungaan atau lubang biopori supaya bisa mengatasi banjir
edi mengatakan…
Banjir memang tamu yang gak diundang dan sangat merepotkan, moga cepat surut dan dapat beraktifitas normal kembali.
haridiva mengatakan…
Memang susah yang namanya bencana alam, sulit dilawan dengan kekuatan manusia. Semoga ke depan tidak terulang lagi, meskipun kita cuma bisa berharap.
Unknown mengatakan…
syukurlah mbak klo tidak terlalu parah seperti yg di tipi2...
Meela mengatakan…
untung yaaa.. (jadi ikut2an bawa si untung) :D
Diah Alsa mengatakan…
semoga hujan derasnya segera mereda ya Mbak, gak ada banjir2 lagi lah ya. :)
Lidya Fitrian mengatakan…
sama ya mbak keatangan banjir juga kita
Penghuni 60 mengatakan…
musim hujan pasti gak jauh dari musim banjir...
Brian Prasetyawan mengatakan…
Rekor gak pernah kebanjiran terhenti ya mbak hehe

iya masih untung cuma semata kaki ya, jadi perabotan masih bisa diselamatkan
Dihas Enrico mengatakan…
waaah kebanjiran ya mbak...
bener2 jakarta ya tinggalnya..
:P

Postingan populer dari blog ini

MY FIRST KISS

Pengalaman naik taksi online IV : Supir ngotot mau lewat tol

CIRI-CIRI CEWEK SUDAH PUNYA PACAR