RUMAH BERJENDELA EMAS

Tiara, seorang gadis kecil yang hidup di sebuah rumah yang sederhana. Dari rumah mereka yang sangat sederhana ia sering melihat ke seberang lembah di mana ada sebuah rumah besar yang jendelanya seperti emas yang berkilau tatkala diterpa sinar mentari. Gadis kecil itu berpikir alangkah bahagianya jika ia hidup dan dibesarkan di rumah mewah dengan jendela emas itu. Sekalipun Tiara hidup bahagia karena dibesarkan oleh orang tua dengan penuh cinta, tetapi di hati kecilnya ia tidak pernah bisa menghapus keinginan  untuk bisa tinggal di rumah besar dengan jendela emas itu. Mimpi itu terus ia simpan hingga ia beranjak remaja.
     
Suatu hari, Tiara yang sudah menginjak usia remaja pergi melihat rumah berjendela emas itu. Awalnya dia sangat gembira karena bisa pergi ke sana tetapi setelah semakin dekat dengan rumah itu, ia menjadi kecewa karena rumah itu sangat kotor dan tidak terawat. Jendelanya juga tidak terbuat dari emas. Hanya dicat kuning emas saja. Rumah itu tidak ada penghuninya karena itu tidak ada yang merawatnya.

Dengan kecewa, Tiara membalikkan tubuh hendak pulang ke rumahnya tetapi ia terkejut karena dari tempatnya berdiri ia melihat di seberang sana ada sebuah rumah yang sangat indah. Setelah ia perhatikan dengan seksama ternyata rumah itu adalah rumahnya. Rumah mungil yang sederhana tetapi kini rumah itu menjadi rumah idaman. Karena di rumah itu ada kehangatan dan cinta dari orang tuanya. Semua yang ia impikan sebenarnya ada di dekatnya, tetapi karena ia hanya fokus pada rumah orang lain maka ia tak bisa melihat betapa indah rumah mungilnya. Betapa penuh cinta di rumah itu.

Kisah Tiara dengan rumah berjendela emas idamannya tak beda jauh dengan apa  yang menjadi fokus pikiran kita.  Seringkali, kita lebih fokus pada berkat yang besar. Keberhasilan yang wah sehingga kita mulai tidak puas dengan berkat dan keberhasilan yang kecil yang kita peroleh.

Padahal saat kita fokus pada keberhasilan, berkat dan bakat yang kita miliki maka kita tidak akan ada waktu untuk melirik berkat, keberhasilan dan bakat orang lain. Mengapa tidak mencoba mengembangkan bakat kita? Mengapa tidak mensyukuri keberhasilan kita dan terus berusaha untuk lebih berhasil? Mengapa harus iri kepada berkat, keberhasilan dan bakat orang lain?  



Komentar

Anonim mengatakan…
gambaran yang complit... saya stju mbak fany... kita harus bangga sama bakat yang kita punya...

hhmm.. bakat saya apa yah??? -tik tok tik tok-...
Yunna mengatakan…
mencoba melihat dan mencintai diri sendiri memang yang terbaik...
^^
Niar Ningrum mengatakan…
Bener juga yaa mbak fann, kadang kita terlalu fokus sama apah yang terlihat indah didepan mata, gag liat padahal sekitar kita jauh lebih indah :D
zachflazz mengatakan…
pesan moral yang apik.
ayie kasturi mengatakan…
bener juga mba. kita harus lebih bersyukur atas apa yang Tuhan kasih ke kita. tapi melihat keberhasilan orang lain, mungkin bisa juga memicu kita buat lebih semangat. orang lain aja bisa, kenapa kita engga. bener ga mba? hoho..
-Gek- mengatakan…
Bakat orang lain itu, tidak usah dibuat iri. Kalau kita iri, toh kita ga bakal punya bakat yang sama. Fokus saja, sama kemampuan diri kita. Kita pasti bisa. Keep it positive, optimist, anf full of gratefulness, pasti hidup akan terasa ringan..
*panjanggggggggggg XD
Noe mengatakan…
Sebenarnya apa itu berkat?
kadang banyak orang menilai berkat hanya dari materi saja. ketika materi berlimpah, ia merasa diberkati. padahal 100% salah besar.
berkat itu memiliki banyak sisi dan segi.
tak ada yg bisa mengukur besar/kecilnya sebuah berkat, tetapi dg mensyukuri segala berkat yg Ia berikan, itulah yang diinginkan.
oke mbak fanny, great article! I like it (in dayak language that mean "Tu'u Patut lengan mitah tulisan yena pakai ngampi itung takam katantuluh". heheheee... bingung????
Tarry Kitty mengatakan…
Syukuri apa yg kita punya, jangan iri melihat apa yg dimiliki tetangga ya mbak :)
Pipit Pito mengatakan…
aaakkk asosiasi yg tepat antara rumah dan rasa syukur :)
-oKKy- mengatakan…
Halo kak fanny..apakabarnya? =) Lama gak mampir nih, habis hiatus soalnya disini super sibuk...sudah banyak sering denger ttg perumpamaan ini, cuma baru kali ini saya baca yang beda.. nice post, as always!:)
TS Frima mengatakan…
manusia memang lebih suka ngeliat orang daripada diri sendiri mbak. perlu kontemplasi buat sadar dari kebiasaan itu :D

Postingan populer dari blog ini

MY FIRST KISS

Pengalaman naik taksi online IV : Supir ngotot mau lewat tol

CIRI-CIRI CEWEK SUDAH PUNYA PACAR