MARI BERBAGI
Daud
selalu datang lebih dulu dan mengambil tempat duduk paling depan di kelas
Sekolah Minggu. Ketika melihat anak-anak lain mulai masuk kelas, dia akan
merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan permen dari kantongnya. Kemudian,
semua anak berkumpul mengelilinginya dan Daud akan membagikan permen itu.
Seberapa pun anak yang datang, permen yang disiapkannya selalu cukup. Hal ini
berlangsung setiap minggu dan menjadi perhatian seorang guru Sekolah Minggunya.
Pada
suatu hari Minggu, ada seorang anak yang
datang lebih dahulu dari Daud. Anak itu mendekati kantong persembahan dan
memasukkan sesuatu ke dalamnya. Guru Sekolah Minggu yang biasa memerhatikan Daud,
mencoba menahannya sebelum anak itu
keluar kelas.
“Apa yang kamu lakukan? Apa yang kamu
masukkan ke dalam kantong persembahan itu?” tanya guru tersebut kepada anak itu.
Saya memasukkan satu buah permen ke
dalam kantong itu,” jawabnya.
“Untuk apa?” desak gurunya.
“Saya ingin berbagi permen seperti Daud. Tetapi,hanya ada sebuah
permen. Saya pikir Tuhan akan membuatnya menjadi banyak supaya cukup untuk semua anak yang datang,” jelasnya.
Penjelasannya itu membuat
guru Sekolah Minggu tersebut terharu. Dia sampaikan kerinduan anak tersebut
kepada jemaat yang ada di gereja itu. Maka, dampaknya pun sangat terasa. Jemaat
yang tadinya kurang punya kerinduan berbagi, mulai mau berbagi.
Mari berbagi selama ada kesempatan.
Komentar
thanks artikelnya.
hehe
mengharukan
salam mbak
lama banget aku nggak berkunjung ke sini