TALI KEHIDUPAN
Suatu kali keluarga Jimmy
mengadakan perjalanan. Saat menelusuri hutan mobil mereka mogok.
Matahari yang terik membuat mereka kehausan. Akhirnya sambil menunggu,
Jimmy dan pamannya pergi mencari mata air di sekitar daerah itu. Dari
kejauhan terlihat rumah kecil. Paman John menunjuk ke arah seorang
nenek, “Hei Jimmy coba lari ke sana dan minta air minum,” suruhnya.
Setibanya di rumah itu, sang nenek berpaling ke arah Jimmy tapi tidak berkata sepatah kata pun. “Tolong, nek, kami semua haus, boleh minta air minum di sini?” kata Jimmy.
Nenek
itu tersenyum. “Air minum? Wah, di sana ada mata air di belakang bukit
kecil. Ini, Nak peganglah ini terus dan kau akan sampai ke sana!” Seraya
menjelaskan, nenek itu meletakkan tangannya pada seutas tali yang
diikat pada tiang serambi muka, yang terbentang di sepanjang halaman.
Dengan
sedikit ragu Jimmy memegang tali itu dan mengikutinya sampai ia
menemukan mata air seperti kata nenek itu. Setelah minum, Jimmy kembali
ke pinggir jalan dan menunjukkan tempatnya pada yang lain. Mereka pun
pergi dan minum sampai puas. “Aku mau ke rumah nenek itu, kita harus
berterima kasih.” kata ayah Jimmy. Saat mereka mendekati serambi muka,
nenek itu masih duduk, tapi tidak menoleh ke mereka. Matanya ditujukan
ke depan, namun jari-jarinya bergerak di atas buku. “Wah, dia buta!”
Bisik ayah Jimmy. “Itu sebabnya ada tali untuk membimbingnya ke mata
air.”
Ternyata
pendengaran nenek itu masih tajam. Ia mendengar bisikan itu, “Bagaimana
Nak? Kau menemukan mata air itu?” “Iya, seger Nek,”jawab Jimmy. Lalu
Ayah berbicara. “Kami berhutang budi pada Ibu, adakah yang dapat kami
kerjakan untuk Ibu?” Nenek itu tersenyum. “O, tidak usah Pak, terima
kasih! Kalian lihat sendiri, mataku sudah rusak. tapi aku tidak perlu
bantuan. Putraku, dia yang pasang tali-tali untukku. Tali ke mata air,
kandang ayam, pohon buah,dan kebun sayur. Aku hanya memegang tali-tali
itu,” katanya. Lalu ia mengangkat buku di pangkuannya. “Kalian tahu, ini
apa?” “Itu sebuah buku Braille, dan kalau tidak salah, itu Alkitab,”
jawab Ayah.
“Betul!” kata sang nenek. “Inilah taliku yang terpenting, tali yang membawaku sampai pada tujuan terpenting di hidupku. Tadi kalian memegang taliku dan kalian sampai ke mata air. Nah, peganglah Alkitab ini terus, dan kalian akan sampai ke Sorga dan akan mendapat pengenalan akan Tuhan.”
Sumber : sebuah imel
Komentar
tapi hatinya ga buta
sayang sekali kita yang matanya normal jarang baca alkitab ckckck
ijin copas kak fani ke blog yg baru
redbike92.wordpress.com