PEDAGANG TELUR YANG TIDAK JUJUR
Sudah dua bulan ini, saya menjadi asisten mama setiap kali mama pergi ke pasar tradisional yang terletak dekat rumah. Perginya jalan kaki karena nggak jauh dari kompleks rumah. Hitung-hitung olahraga pagi.
Acara belanja ke pasar ini hanya dilakukan seminggu sekali karena mama malas kalau harus bolak balik. Jadi, setiap kali belanja selalu borongan untuk makan kami sekeluarga selama seminggu. Kalau toh dalam seminggu itu ada bumbu atau sayuran yang kurang, biasanya mama nitip saya beli di supermarket atau beli di tukang sayur yang lewat di depan kompleks.
Karenanya,nggak heran kalau kami selalu menenteng tiga kantong plastik besar berisi belanjaan untuk seminggu. Mama nggak mau bawa keranjang plastik atau rotan karena dulu pernah dicopet belanjaannya. Tahu sendiri deh kalau keranjang itu kan terbuka dan nggak ada risletingnya. Kalau di pasar sedang berdesakan dengan banyak orang, mana sadar dicopet satu bungkus tempe atau seikat kangkung.
Dan, hari Minggu kemarin saya kembali menemani mama belanja. Seperti biasa, saya kebagian tugas menenteng 2 kantong plastik besar. Tentu saja sambil sesekali memperhatikan mama menawar dan membayar belanjaannya. Kadang, saya mengingatkan mama untuk mengambil uang kembaliannya atau mengambil apa yang sudah dibelinya. Maklum, mama saya suka lupa ambil uang kembalian dan kadang lupa juga mengambil sayur atau ikan yang sudah dibelinya.
Tapi entah mengapa, hari itu saya nggak memperhatikan mama ketika membeli cincau dan tahu di tukang tahu langganannya. Padahal mama sudah bilang ke si mbak pedagang tahu bahwa mama ingin titip cincau dan tahunya. Karena kalau digabung dengan belanjaan mama yang lain takutnya kegencet dan hancur. Nanti saat mau pulang, baru diambil lagi oleh mama lalu diletakkan di atas tumpukan belanjaan yang lain. .
Mama memang sering begitu setiap kali belanja. Suka nitip belanjaannya di beberapa tempat. Misalnya, saat beli pepaya sebanyak 3 buah maka mama titip di pedagang pepaya. Atau beli kentang dua kilo pasti titip ke si pedagang kentang. Karena mama pikir berat bawanya. Nanti aja waktu mau pulang, semua titipan itu diambil. Dan, biasanya saya yang kebagian tugas mengambil semua titipan itu. Sementara mama nunggu di tempat lain. Biar nggak bolak balik, kata mama.
Nah, minggu kemarin itu karena saya nggak dengar mama bilang titip ke si pedagang tahu, saya pun hanya mengambil dua titipan di pedagang pepaya dan pedagang kentang. Saat akhirnya kami naik becak, mama sempat bertanya soal titipan belanjaannya apakah sudah diambil. Saya bilang sudah semua, lalu saya sebutkan apa yang sudah diambil oleh saya. Mama sempat bengong dan mikir sebentar lalu bilang :
"Oh, ya udah semua ya berarti. Ya udah kita pulang aja."
Tapi sebelum pulang, mama sempat mampir beli telur. Sedangkan, saya disuruh nunggu di atas becak.
Tapi sebelum pulang, mama sempat mampir beli telur. Sedangkan, saya disuruh nunggu di atas becak.
Sesampainya di rumah, setelah mencuci sayur mayur dan menyimpannya di kulkas, mama teringat cincau dan tahunya yang belum diambil. Aduh, kok bisa lupa sih? Sementara saya juga nggak ngeh kalau mama nitip cincau dan tahu. Mungkin karena waktu itu saya sibuk memperhatikan ayam yang sudah dibumbui dan nyaris dibeli oleh mama, tetapi karena itu bukan ayam kampung, mama batal beli. Saya nggak lihat kalau mama nitip cincaunya ke si pedagang tahu. Jiaaah...mama pun langsung minta papa mengantarnya naik motor ke pasar.
Untunglah, si pedagang tahu jujur. Dia segera memberikan titipan cincau dan tahu yang sudah dibeli mama. Hal ini seperti ini sudah berulang kali terjadi. Entah berapa kali mama lupa mengambil titipannya.Tapi untunglah para pedagang yang dititipin itu jujur markujur. Mungkin juga karena mereka tahu kalau mama sering belanja sama mereka. Jadi, sudah hafal dengan wajah mama.
Tetapi, ternyata nggak semua pedagang itu jujur. Karena hari itu, mama juga lupa mengambil uang kembalian saat membeli telur. Lalu, kemana saya saat itu? Kok, nggak ngeliatin mama waktu belanja?
Saya memang nggak ngeliatin mama belanja telur dalam arti mendampingi karena saya disuruh mama naik ke becak dulu. Mama meminta saya menaruh dua kantong belanjaan kami di atas becak. Mumpung ada becak kosong. Kalau pulang, kami memang naik becak karena bawaannya segambreng.
Kebetulan, letak warung si pedagang telur nggak jauh dari pangkalan becak. Jadi, saya hanya mengamati mama dari kejauhan. Saya duduk di atas becak sambil menjaga belanjaan kami. Tadinya sudah mau saya tinggalin aja di atas becak, tapi di pasar itu banyak banget copetnya. Tukang becak nggak mungkin kan dimintai menjaga belanjaan kami. Lha, kalau copetnya bergerak cepat, gimana ngejarnya coba?
Dan, karena nggak saya dampingi itulah, mama kelupaan minta kembaliannya. Si pedagang telur juga entah sengaja atau gimana, kok nggak manggil mama. Mestinya kan dia ingetin mama kalo mama belum ambil uang kembaliannya.
Lalu, ketika mama balik lagi ke pasar untuk meminta uang pengembaliannya, dia hanya mau mengembalikan separuhnya. Karena dia merasa sudah ngembaliin uang tersebut. Menurut saya ini aneh. Kalau memang dia nggak ingat berapa dia harus kembaliin uang ke mama, seharusnya dia benar-benar menolak ngembaliin semuanya. Kenapa mesti minta separuh-separuh? Bagaimana kalau dia beneran dibohongin si pembeli yang pura-pura lupa? Misalnya, kalau kembalian uangnya dibohongin dari 34 ribu menjadi 80 ribu. Kalau harus nanggung separuh-separuh berarti dia harus bayar 40 ribu. Padahal, uang kembalian sebenarnya hanya 34 ribu. Berarti, dia malah rugi sebesar 6000 rupiah.
Jelas, kalau dia sebenarnya ingat berapa dia harus ngembaliin uang itu ke mama, tetapi dia memang sengaja lupa. Lalu, dengan lihainya dia hanya mau bayar separuh dari uang kembalian itu. Coba, kalau misalnya mama saya bohongin dia uang kembaliannya 80 ribu pasti dia nggak mau nanggung separuh karena dia tahu jumlah uang kembalian yang sesungguhnya.
Lagian, setiap kali ke pasar mama selalu belanja sama dia. Kok, dia nggak percaya sama mama? Dan, waktu mama belanja telur sama dia, warungnya itu sedang sepi. Cuma mama yang belanja sama dia. Dia nggak bisa bilang lagi repot melayani pembeli lain, bukan? Jangka waktu mama belanja dan balik lagi minta uang kembaliannya juga, nggak lama. Hanya selisih kurang lebih satu jam. Masa dia sudah lupa?
Tetapi, mama saya itu adalah manusia yang sangat sabar. Dia biarkan saja si pedagang telur membayar hanya separuh saja dari uang kembalian sebenarnya. Mama nggak mau ribut-ribut hanya karena uang sekian puluh ribu. Tapi, saya sebel banget sama si pedagang telur. Uang segitu toh nggak akan bikin dia kaya raya. Kok, tega menipu seorang ibu yang sudah mulai pelupa ? Saya bilang sama mama, jangan pernah lagi mau belanja sama dia. Karena dia sudah nggak jujur sama mama.
Mama hanya menjawab : "Iya, nggak usah belanja sama dia lagi. Dan, biarkan saja kita kehilangan uang, anggap aja buang sial. Mama juga yang salah, lupa minta kembaliannya."
Saya mengangguk setuju. Memang sebaiknya direlakan saja uang yang nggak seberapa itu. Tapi, dalam hati saya berpikir : Susah banget ya mencari orang yang jujur sekarang ini. Apakah mereka nggak takut gitu masuk neraka? Nggak takut dosa? Ngambil hak orang meskipun uang yang nggak seberapa besar kan tetap aja dosa. Duh, duh..manusia...manusia..
Komentar
#oya mbak maaf baru mampir :-)
salam
semua akan ada balasannya..
:)
Hihihi kirain dompet aja yang dicopet xD
namun memberi maaf kepada org lain yg tidak ju2r terhdp qta juga sangat sulit dilakukan oleh se2orang.
inti dari pengalaman mbak fanny ini adlah Kejahatan bukan terjadi karena ada pelaku tetapi karena ada kesempatan.. WASPADALAH!
penjual pnya kesempatan tidak ju2r bukan karena niatnya, tetapi karena mamanya Fanny juga lupa meminta kembaliannya. Jadi Skor 1:1
hehehehee... piss mbak! ini pelajaran berharga buat para pembaca blog ini!
Happy Weekend from Borneo Center Of Indonesian (LKK)
bagi" motivasi.,.
Orang miskin bukanlah seseorang yang tidak mempunyai uang,
tapi ia yang tidak memiliki sebuah mimpi.,
di tunggu kunjungan balik.na gan.,.,