JAKARTA, OH..JAKARTA

Sabtu itu, Pak Joni harus masuk kantor karena ada tugas yang harus dia selesaikan. Seperti biasa, Pak Joni berangkat lebih awal untuk mengantisipasi jika ada kemacetan atau kerusakan motor. Memang benar, di pertigaan kilometer delapan belas, jalanan sangat padat. Lampu merah mengharuskan Pak Joni dan orang lain yang seiring dengannya menghentikan kendaraan. Ketika lampu hijau menyala, orang bergegas memacu kendaraannya. “Gubrak!” kira-kira seperti itu suaranya ketika Pak Joni jatuh bersama motor yang dia kendarai. Pasalnya, motor yang berada di samping kanannya tiba-tiba melaju dengan kencang dan menyenggol setang motornya. Dia kaget dan tidak bisa mengendalikan motornya dan akhirnya jatuh. Dia terkapar di tengah jalan dan posisinya ada di bawah motor. Dia berusaha mengangkat motornya. Anehnya, tidak ada seorang pun yang membantunya mengangkat motor itu. Mereka hanya melihatnya dari kendaraan mereka masing-masing. Bahkan orang yang menyenggol motornya pun langsung tancap gas tanpa menghiraukannya.

“Hai, jangan lari!” teriak Pak Joni, namun tidak dihiraukan. Marah, kesal, dan sakit, itulah yang dia rasakan saat itu. “ Puji Tuhan,” katanya setelah berhasil berdiri kembali dan menepi ke pinggiran jalan. Dia pun melanjutkan perjalanan dengan merasakan pedih di kaki karena luka tertimpa motor dan pegal di tangan karena harus mengangkat motor yang menimpanya. Seperti orang yang baru tinggal di Jakarta saja, tiba-tiba muncul pertanyaan di dalam hatinya, “ Inikah Jakarta? Dua kali aku mengalami hal yang sama.”

Bahkan tanpa sengaja, pertanyaan itu pula yang keluar dari mulutnya ketika berbincang-bincang dengan teman-temannya, “Inikah Jakarta?”

“Ya tidak seperti itu, Pak. Tentu masih banyak orang yang peduli,” jawab seorang temannya.

Kisah yang sama dengan pak Joni pernah dialami oleh seorang teman saya. Ketika itu motor teman saya sengaja disenggol oleh penjahat yang bermaksud merampas motornya. Jadi waktu motornya sudah terjatuh, si penjahat berusaha mengambilnya, tetapi teman saya ini kekeh mempertahankannya. Tak lupa, dia berteriak minta tolong namun…anehnya meski saat itu sudah jam 10 pagi dan jalanan di tempat kejadian sangat ramai, tak seorangpun peduli. Akhirnya, teman saya mencoba memukul si penjahat dengan helm dan terus menendang kakinya ke arah si penjahat.

Melihat perlawanan yang ulet dari teman saya, si penjahat pun kabur. Teman saya berhasil mempertahankan motornya dan hanya mengalami lecet sedikit di bagian lengannya.

See, itulah Jakarta!  Sebuah kota dimana para penduduknya cenderung cuek, tak peduli dan tak mau tahu urusan orang. Di satu sisi ada baiknya kita nggak ikut campur urusan orang lain, tetapi di sisi lain….terlalu tidak peduli juga nggak bagus. Sampai-sampai enggan menolong orang yang sedang kesusahan. Tetapi, kadang serba salah juga. Karena banyak penjahat berpura-pura sedang dirampok. Lalu, begitu ada yang menolong, malah dia berusaha merampok si penolong. Nggak heran, banyak orang Jakarta menjadi tidak peduli bila melihat seseorang mengalami tindak kriminal atau bahkan mengalami kecelakaan.

Sebab, pernah juga terjadi seorang penjahat berpura-pura mengalami kecelakaan, tak tahunya itu cuma akting untuk menjebak mangsanya. Duh, duh…emang serba salah. Yang bisa kita lakukan hanyalah pasang mata dan telinga dan harus bisa membedakan mana yang benar-benar harus ditolong dan mana yang hanya pura-pura saja.

Komentar

ceritatugu mengatakan…
kok gitu ya hidup di Jakarta, untungnya inyong hidup di Desa yang banyak orang saling tolong menolong, kalau kehidupan ngeblog sama ngga ya dengan kehidupan Jakarta
Unknown mengatakan…
Belum pernah hidup di Jakarta, jadi belum tau jakarta itu seperti apa
Andy mengatakan…
Jakarta kota dengan segala ragam & macam kebaikan & keburukan yg siap memangsa anda yg lengah
Aulawi Ahmad mengatakan…
saking byknya penjahat pake pistol jadi org mikir 2 kli klu mau nolong org.
Disinilah seharusnya peran polisi dlm menjalankan fungsinya sbg penjaga ketertiban dan keamanan, bayangkan aj dijln raya spt itu masa gak ada seorang polisipun? so gak heran geng motor bisa berbuat seenaknya :(
vie_three mengatakan…
benar, kehidupan di kota apalagi kota besar dengan tingkat kejahatan yg semakin meningkat membuat masyarakat jadi lebih waspada sehingga terkesan cuek.
Dannesya mengatakan…
iya yah ada apa dengan jakarta... *sigh
Bung Penho mengatakan…
emang lebih enak tinggal di kampung sendiri juga!
Dihas Enrico mengatakan…
mungkin ga cm jakarta...
:)
kota yg lain jg...
intinya waspadalah....

Postingan populer dari blog ini

MY FIRST KISS

Pengalaman naik taksi online IV : Supir ngotot mau lewat tol

CIRI-CIRI CEWEK SUDAH PUNYA PACAR