DITOLONG PAK SUPIR YANG BAIK HATI
Awal Pebruari yang lalu, saya naik taksi bluebird yang saya order by phone. Tujuannya nggak jauh sih. Ke daerah Mangga Besar untuk urusan kerjaan. Tapi, sebelum ketemu klien yang rumahnya di daerah situ, saya berniat mampir ke salah satu bank yang terletak di kompleks Lokasari.
Maka, saya minta pak supir menghentikan taksinya di depan kompleks itu. Rencananya, setelah urusan di Bank beres (cuma ngeprint buku tabungan sih), saya tinggal jalan kaki sedikit ke rumah klien saya.
Taksipun berhenti tepat di tepi trotoar. Saya bayar ongkos taksi dan buka pintu. Dan...braaaak!!Sesuatu menabrak pintu taksi yang saya buka. Saya kaget. Perasaan, saya sudah lihat ke kiri dan posisi taksi sudah begitu mepet dengan trotoar. Tidak mungkin motor bisa masuk melalui jarak yang sudah ngepas banget itu. Kok, bisa ada motor nekad mau nyalip juga?
Dan, kayaknya tuh motor ngebut banget. Soalnya, tabraknya cukup keras. Padahal saya buka pintu taksinya itu kalem. Enggak langsung jebler gubrak gitu. Motor yang dikemudikan oleh seorang cowok berpakaian kaos oblong putih itu pun berhenti. Ceweknya yang dibonceng juga turun. Pak supir juga turun memeriksa pintu taksinya yang lecet.
Saya turun sebentar dan melihat kerusakan motor. Ternyata aksesoris dari plastik yang ada di motor itu yang pecah. Letaknya di tengah. Jadi, sebenarnya itu bukan perangkat yang penting. Tapi si pengendara motor itu minta saya untuk ganti rugi Rp. 50.000,-. Dia malah menyalahkan saya, buka pintu kok nggak lihat-lihat. Saya diam saja sambil perhatiin jarak antara trotoar dan taksi yang berhenti di pinggirnya. Jelas, jaraknya begitu kecil. Hanya pas untuk ukuran pintu taksi yang terbuka sedikit. Kalau pintu dibuka lebar-lebar saja sudah pasti pintunya kena trotoar. Berarti, jalan sekecil itu nggak mungkin dilalui motor. Tapi, tuh motor nekad nyalip juga.
Jadi, kesalahan bukan dari saya. Tapi dari si pengendara motor yang nggak bisa memperkirakan jaraknya. Apakah masih bisa nyalip atau enggak. Mana dia ngebut juga. Tambah deh.
Saya pun masuk ke dalam taksi. Pak supir ikut masuk ke dalam taksi dan berkata :
"Bu, jangan mau diperas. Itu dia mau peras ibu. Biar saya yang hadepin."
Saya mengiyakan. Supir pun membawa taksinya ke pelataran parkir diikuti oleh si pengendara motor.
Di pelataran parkir, supir menunjukkan lecet pintu taksinya dan meminta si pengendara motor untuk ganti rugi Rp. 100.000,- dan gantinya pun harus ikut ke pool nya di Mampang. Si pengendara motor nggak terima. Mereka berdebat. Sementara cewek yang dibonceng si pengendara motor menghampiri saya dan menyalahkan saya yang buka pintu nggak lihat-lihat.
Saya yang sejak tadi diam jadi emosi. Okelah, saya nggak lihat-lihat dulu, tapi kalau diperhatikan kondisi jalan yang sudah sempit begitu yang haya muat untuk pintu taksi dibuka sedikit saja biar saya bisa keluar, jelas bukan salah saya sepenuhnya.
Saya jawab saja dengan kalem : "Mba, saya bukan orang yang bodoh. Saya tahu aturan juga. Jelas-jelas, cowok si mbak yang main nyalip aja. Nih, mbak liat deh. Saya buka nih pintu taksinya. Nah, dengan jarak selebar gini, kok motor cowok mba maksa mau menyelinap. Jelas nggak bisa. Dengan jarak sekecil itu, saya pun merasa yakin, nggak akan ada motor yang bisa lewat jadi saya buka dong pintunya dengan tenang. Eh, kenapa tiba-tiba ada motor cowok mbak?"
Cewek itu terdiam. Tapi matanya sok pake melotot. Ya elah, anak bau kencur belagu amat ya. Sementara si cowok pengendara motor malah jadi jiper karena pak supir juga minta ganti rugi. Dia bilang :
"Udah damai aja," Matanya melirik saya. Mungkin dia tetap ingin minta ganti rugi dari saya.
Langsung aja saya timpal begini : "Kalo damai, ya situ ganti juga dong ke pak supir uang seratus ribu. "
Dia diam. Lalu, saya tambahkan : "Kita ke kantor polisi aja. Karena saya nggak merasa salah. Saya nggak mau ganti rugi untuk kesalahan yang nggak saya lakukan. Kan kamu yang nyalip jalan seenaknya. Jalan kecil gitu kok disalip juga."
Cowok itu terdiam. Tanpa bilang apa-apa dia kabur. Tapi sebelumnya dia suruh ceweknya pergi ke kantor karena sepertinya ceweknya itu kerja di kompleks Lokasari. Jadi, cowok itu kayaknya lagi buru-buru anterin ceweknya pergi kerja. Makanya seenaknya nyalip nyalip.
Saya pun masuk ke dalam taksi. Nggak jadi ke Bank. Minta diantar ke rumah klien saya. Hati saya lega nggak jadi korban pemerasan. Tapi, semua ini berkat jasa pak supir juga. Dia mati-matian ngotot minta ganti rugi yang jumlahnya lebih besar dari permintaan ganti rugi si pengendara motor. Jelas aja si pengendara motor ogah. Mungkin kalau pak supirnya cuek aja, saya bakal kena pemerasan itu. Apalagi dia lihat saya perempuan. Seorang diri pula.
Tapi, kalo si pengendara motor itu ngotot minta ganti rugi, saya akan ngotot juga ajak dia ke kantor polisi.
Bila perlu, saya panggil sepupu saya yang pengacara yang untuk bantu saya. Seenaknya saja sih mau main peras aja. Bisa saja kan dia sengaja menabrakkan motornya ke pintu taksi yang saya buka.
Well, yang pasti dari kejadian itu saya harus lebih hati-hati. Sekarang kalau buka pintu taksi saya harus benar-benar lihat ke belakang dulu. Meski jalan sudah sempit banget dan nggak mungkin dilalui motor atau sepeda. Apalagi jaman sekarang, banyak orang yang pura-pura ketabrak, nggak taunya mau meras.
Dan, saya merasa bersyukur banget sama pak supir bluebird yang baik hati. Ketika saya mau tambahin lagi ongkos taksinya, dia menolak. Dia bilang : "Sudah kewajiban saya membantu penumpang, bu. Lagian, pas turun tadi, ibu kasih uang lebih kan? Itu sudah cukup kok,bu."
Saya belajar satu hal lagi, jangan pelit kalo kasih ongkos taksi. Selalu lebihkan beberapa ribu. Mungkin saja kan pak supir terharu karena saya bayarnya lebih sehingga dia pun merasa kasihan ketika saya nyaris jadi korban pemerasan. Apapun itu alasannya, saya salut sama pak supir tersebut. Sayangnya, saya lupa namanya dan lupa juga perhatiin nomor taksinya. Duh, duh..padahal saya mau bilang terima kasih lagi.
Komentar
Hihi iya, ongkos taksi jangan pelit2, meski cuma beberapa ribu, pasti supirnya seneng yak :D
harusnya mbak fani bisa memberi penjelasan hukum kepada pengendara motor tersebut..
kan mbak fani orang hukum hehehe
Syukurlah mbak kenapa-kenapa dan lolos dari pemerasan ^^
Pakabar Mba? sehat2 kah? dah kangen nih ga bikin rusuh disini, hehe...
tapi jadi mikir nih gimana kabar pintu taksinya yang lecet...
salam kenal
terima ksih :)