BUKAN AHLI MEREVIEW
Saya suka menulis cerpen. Benar. Saya suka membaca novel. Betul. Cerpen saya sudah banyak yang diterbitkan. Yup. Tapi, saya paling bingung bila dimintai tolong mereview cerpen/novel orang, terutama kalau cerpen/novel itu ditulis oleh penulis baru. Karena,jujur....saya nggak ahli mereview tulisan orang lain. Bila saya pernah mereview novel-novel yang saya baca, itu bukan berarti saya mahir. Dan, saya juga tahu, hasil review saya tidaklah sebagus hasil review teman-teman.
Karena itu, saya bingung juga kalau menerima imel dari teman-teman yang sedang belajar menulis novel dan cerpen. Karena untuk mereview sebuah cerpen, apalagi novel...saya butuh waktu yang cukup lama. Dan, itu nggak mudah bila harus dibaca via kompi. Mata saya nggak kuat lama-lama melihat layar kompi. Sekarang saja, saya sudah membatasi jam online. Karena ingin menjaga mata saya dari kelelahan.
Selain itu, saya juga bukan novelis. Lha, saya saja belum berhasil menerbitkan satu novel pun. Bagaimana mau mereview draft novel? Hi hihi...
Kalau cerpen, masih okelah. Cuma, saya juga bingung harus memberi saran apa. Apalagi kalau cerpennya sudah cukup bagus (menurut saya) atau cerpennya terlalu banyak yang harus direvisi. Mau bilang jelek, kok rasanya jahat amat. Mau bilang perlu dirombak total...lha, nanti bikin orang jadi frustrasi. Serba salah deh.
Apalagi saya semakin sibuk dengan pekerjaan tetap saya. Ditambah harus meluangkan waktu untuk melanjutkan tulisan saya yang akan dijadikan buku, waktu untuk membaca novel yang sudah saya beli, waktu untuk membantu mama saya (sampai sekarang kami nggak memakai jasa asisten rumah tangga) , waktu untuk ngobrol dengan sang pangeran, dll.
So, buat teman-teman yang sedang belajar menulis cerpen dan novel, saya cuma menyarankan : BANYAKLAH MEMBACA TULISAN ORANG LAIN, TERUTAMA NOVEL-NOVEL DAN CERPEN-CERPEN YANG SUDAH DITERBITKAN. JANGAN LUPA, RAJINLAH BERLATIH MENULIS. SEBAIKNYA, TULISAN KALIAN DIKIRIM JUGA KE MEDIA CETAK ATAU PENERBIT. DARI SITU, KALIAN BISA MENILAI APAKAH KARYA KALIAN SUDAH CUKUP BAIK ATAU BELUM.
Bila diterbitkan, pasti sudah ada kemajuan. Tapi jangan cepat puas, kalian harus menulis lagi dan mengirim lagi. Sampai diterbitkan berkali-kali. Bila kalian masih ragu dengan tulisan kalian, bisa kok, ikut lomba atau sekolah menulis online. Sekarang kan sudah banyak sekolah-sekolah menulis online.
Dibandingkan jaman saya dulu, sekarang lebih banyak fasilitasnya. Dulu, saya belajar menulis otodidak. Mana ada sekolah menulis online? Mana ada workshop penulisan fiksi, dll? Mana ada blog? Semuanya saya pelajari sendiri. Saya berlatih dan mencoba-coba berbagai gaya tulisan. Dan, tidak ada tempat bertanya. Tahu-tahu cerpennya ditolak aja sama editor majalah. Di lain waktu, tahu-tahu cerpennya diterbitkan.
Bisa dibilang, modalnya cuma membaca karya orang lain dan terus menulis. Ditolak, nulis lagi, kirim lagi. Begitu seterusnya. Sampai akhirnya, saya jadi bisa memahami sendiri dimana kelemahan tulisan saya. Dimana kekuatannya. Dan, hingga hari ini pun saya masih belajar dan berlatih menulis. Saya tidak pernah merasa tulisan saya sudah bagus. Wah, jangan pernah merasa puas dengan karya kita. Meskipun sudah ratusan cerpen yang terbit, tetapi saya merasa itu NGGAK ADA APA-APANYA. Masih banyak yang lebih hebat dan lebih bagus. Itu aja modal saya menulis.
Jadi, buat teman-teman yang sudah mengirimkan naskah cerpen/novelnya dan belum sempat saya review, mohon dimaafkan. Selain masalah waktu, saya juga takut salah memberi saran. Karena saya merasa nggak cukup pakar dalam mereview.
Komentar
harus banyak baca ya mba ^^ siap aku jg lg latihan menulis :P
Padahal menurutku semua cerita yang diterbitkan harusnya bagus karena pasti sudha melalui saringan dari penerbit.... hanya soal cocok dengan selera atau ngga :D.
celakanya saya ngerasa, itu sama sekali nggak mirip cerpen, mesti dirombak total, dan koreksi nyaris di setiap paragraf. dan ranya jahat banget kalau harus jujur.
akhirnya sampai sekarang saya diemin aja kak.
hihihi
P.S.
Setuju banget tuh, sama pendapat kak fani soal rajin baca2 karya orang.
well, kalau boleh Aul tambahin,
"Untuk bisa menulis satu cerpen, harus terlebih dahulu telah membaca sepuluh cerpen.
Untuk menulis satu novel, harus terlebih dahulu telah membaca puluhan novel."
thanks kak.
inspiring :)
mau makin rajin membaca
@aul : bener banget.
mudah mudahan ilmunya bisa ditularkan bagi mereka mereka yang membutuhkan. ..
Kalau keahlian kayaknya tak diragukan lagi dech :-)
bener-bener dech mbak fanny, orang paling sibuuukkkk...... hahahaha