MENULIS HANYA UNTUK HOBI

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah berkomunikasi dengan seorang Chief Editor sebuah majalah. Sebut saja namanya pak Yoyo. Saat itu, saya bercerita mengenai keinginan saya untuk meninggalkan karir saya di dunia hukum dan banting setir menjadi penulis freelance. Pak Yoyo langsung menasihati saya.

"Fanny, kita boleh saja idealis dengan cita-cita kita. Tetapi, kamu perlu ingat. Budaya membaca di negara ini belum menjamur seperti negara-negara lain, misalnya saja Jepang. Produksi buku di negara ini juga tidak sebanyak negara lain. Belum lagi harga buku yang cukup mahal dan penghasilan masyarakat yang rendah membuat kehidupan penulis di negara ini tidak bisa semakmur penulis di negara lain. Dengan profesi kamu di bidang hukum yang sekarang ini, kamu sudah bisa hidup lebih dari cukup. Bahkan bisa melancong ke berbagai negara. Apakah kamu tidak sayang meninggalkan pekerjaanmu hanya untuk menekuni hobi menulis? Kecuali, kamu bisa menghasilkan sebuah novel seperti Laskar Pelangi atau Harry Porter. Cobalah untuk bersikap realistis. Jangan terburu-buru mengambil keputusan."

Nasihat pak Yoyo saya renungkan cukup lama. Dan, baru saya sadari bahwa ucapannya itu ada benarnya. Saya memang harus realistis karena sebagai anak sulung yang membantu perekonomian keluarga, tentunya saya tidak boleh egois. Kalau saya meninggalkan pekerjaan tetap saya, kasihan orang tua saya. Mereka kan semakin tua dan semakin lemah kondisi tubuhnya. Tidak mungkin beban mencari nafkah saya tumpukan kepada papa. Sudah selayaknya sebagai anak, saya yang harus maju. Meskipun saya seorang perempuan, tapi saya tetap bertanggung jawab atas perekonomian keluarga saya. Saya juga tidak mau membebaninya pada suami saya kelak. Keluarga saya berarti urusan saya. Harus saya yang menanggung semuanya. Suami cukup menanggung biaya kehidupan rumah tangga kami. 

Apalagi, saya melihat sekarang ini begitu banyak orang yang tidak punya pekerjaan tetap. Begitu banyak orang yang penghasilannya pas-pasan. Mengapa saya tidak mau menekuni pekerjaan tetap saya dengan lebih serius? Sudah saatnya saya berpijak pada kenyataan. Biarlah menulis hanya untuk hobi saja. Saya juga tidak mau ngotot harus menerbitkan banyak buku. Seadanya saja. Kalau bisa diterbitkan ya syukur, kalau tidak..ya..anggap saja menyalurkan kegemaran menulis.

Berkaca pada pengalaman tersebut, maka saya sering merasa heran melihat begitu banyak orang bercita-cita menjadi penulis sampai harus mengorbankan pekerjaan tetap mereka. Menurut saya, jadikan menulis itu sebagai hobi lebih dulu. Tetapi pekerjaan utama jangan dikesampingkan. Sebab hidup ini harus realistis. Tidak bisa berdiri di atas khayalan belaka. Lagi pula, harus dibedakan antara keinginan menjadi terkenal (karena bukunya terbit) lalu medapat honor dengan menulis karena cinta. Bila kamu hanya menulis karena ingin terkenal namanya atau karena supaya dapat uang, lebih baik lupakan saja. Menjadi penulis yang sukses itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Dan, selama kamu belum bisa menghasilkan tulisan yang hebat banget, jangan bermimpi kamu akan mendapatkan uang berlimpah dari menulis. 

Menjadi penulis itu harus bisa hidup sederhana karena honor penulis itu kecil. Royalti yang diperoleh juga tidak besar kecuali bukumu best seller. Setelah satu bukumu laris manis pun, kamu harus bisa menghasilkan tulisan berikut yang tak kalah baik mutunya dengan buku pertama. Bila kamu baru menghasilkan satu buku best seller, lalu stop. Apa artinya? Menjadi penulis itu berarti tidak pernah berhenti berkarya. 

So, kalau kamu sudah bekerja dan mempunyai cita-cita menjadi penulis, tetaplah bekerja dengan giat sambil tetap berlatih menulis. Kelak, bila kamu sudah menerbitkan buku-buku yang best seller, baru boleh memikirkan untuk resign dari pekerjaanmu. Tetapi, kamu tetap harus pertimbangkan keinginan pasar. Tahun ini bukumu mungkin laris, tetapi bila selera pasar berubah, kamu harus cukup kreatif untuk menerbitkan buku yang digemari banyak orang.

Tulisan ini hanya opini saya berdasarkan pengalaman selama menjadi penulis cerpen freelance.  Bisa keliru dan boleh saja tidak disetujui.




Komentar

RanggaGoBloG mengatakan…
setiap penulis pasti memiliki idealisme masing masing... siapkah seorang penulis melepaskan idealismenya hanya untuk memenuhi selera pasar... penulis yg baik adalah penulis yang bisa menghasilkan karya sesuai idealisme masing masing... jangan biarkan idealisme hilang ditelan tuntutan pasar.. tapi biarkan pasar menikmati dan mengikuti idelaisme kita....
Anonim mengatakan…
kalo menurut gue sih, mending saling mengimbangi, menulis sekaligus menjalani pekerjaan yang ada, disaat jika nanti menulis dan menghasilkan buku yang sukses pun, memang diharuskan fokus lebih baik ke bukunya, tapi tidak harus meninggalkan pekerjaan yang ada, soalnya mesti promo sini promo sana, iklan sini iklan sana. dan disaat bukunya kembali normal, jika masih punya pekerjaan yang ada nggak perlu repot lagi mencari rezeki.
Una mengatakan…
Iya sih mbak.
Kalau penulisnya di Amrik gitu gapapa kalo full jadi writer. :D
nicamperenique mengatakan…
Saya sependapat kok sama mba Fanny, juga pendapat Pak Yoyo. Menekuni dunia tulis menulis tak bedalah seperti menekuni hobi2 yang lain, yang tak mungkin bermodal dengkul.
Lihat saja yang suka ngontel, mestinya punya uang untuk beli sepeda, walau yang murah sekalipun, selanjutnya harus punya uang untuk merawat sepeda itu agar tetap apik dan layak jalan.

Lah, kalau langsung brenti kerja demi jadi biker sejati, gimana coba? Hehehe ...
Fajar mengatakan…
setuju mbak.. tetap fokus dulu...
iyah mba selama kita menyenangi juga pekerjaan tetap kita saya rasa tidak perlu sampai meninggalkannya hanya untuk fokus menulis :)
Lidya Fitrian mengatakan…
aku harus banyak belajar sama mbak fanny nih supaya bisa menulis
mba, tau gak? selama ini gara-gara baca blognya mbak, gue jadi terpikir buat ngikutin jalannya mbak kerja jadi notaris, di samping nulis.. gue mulai berpikir kayaknya memang agak2 sulit jadi penulis as the main job di indonesia. bener tuh kata2 temannya itu. di indonesia, budaya bacanya kurang. plus, orang2 masih cenderung suka baca buku2 impor. miris. :(

tapi... itu dia, gue sebetulnya ga begitu minat dunia hukum. kepaksa aja. gara2nya gue ngikutin saran nyokap pas sma dulu. ampe sekarang agakk nyesel...

#malahcurcol

#kabur
- mengatakan…
ah papaku juga selalu nasehatin, kalo kita ini mesti realistis. jangan terpaku oleh hobi aja. :)
Unknown mengatakan…
@imanuel : wah bagus itu. Ayo kuliah lagi..karena kan jadi notaris harus kuliah lagi. Gak cukup kuliah S1 di Fak Hukum aja. Tapi kalo kamu gak suka dunia hukum, wah rada sulit dong. ntar kesannya terpaksa
Claude C Kenni mengatakan…
Setuju Fan, menulis itu hobi yg bisa menghasilkan, tapi butuh waktu, apalagi gua juga sebagai anak cowo pertama di keluarga, ga bisa menggantungkan diri sama sesuatu yg ga pasti. Slowly but sure, gua akan bangun karir menulis gua di sela2 kesibukan gua jadi game designer, hehehe
Aul Howler's Blog mengatakan…
Nama:
Aul

Cita-cita:
Dosen

sambilan penulis

KEREN GAK KAK?
wkwkwk
#Agak Maksa
^^;

bener tuh. eemang gak bisa jadiin penulis itu sbg pekerjaan tetap. Kecuali kalau gak menafkahi siapapun atau gak membantu ekonomi siapapun. gak kerja juga gak masalah kalo gitu mah. wkwkwk

Thanks for sharing, kakaa!
:))
Ellious Grinsant mengatakan…
Mungkin mbak akan bernasib sama kaya Kugy dan Keenan dalam novel Perahu Kertas, harus memutar dulu sebelum meraih impiannya. hahaha...
Citro Mduro mengatakan…
Selain mencangkul sebagai kegiatan rutin saya
saya juga mencoba belajar menulis semampunya dengan tidak meninggalkan rutinitas mencangkul saya
Ririe Khayan mengatakan…
Setuju Mbak, saya juga realistis..dengan kemampuan menulis saya yg masih 'musiman' dan kualitas yang pas-pasan..(mksdnya pas mood pas baru bs bikin tulisan), jd menulis masih sebagai hobi...jika bisa rilis masuk seleksi..ya itu bonus..
Della mengatakan…
Ada juga sih, yang benar-benar bisa 'hidup' dari menulis, seperti Khrisna Pabichara. Tapi kerjanya ekstra keras, Mbak. Dalam sehari, ia 'memaksa' dirinya sendiri untuk menulis. Memang karya beliau banyak dan bertebaran di mana-mana, tapi kalau saya pribadi sih, lebih setuju dengan yang Mbak Fanny bilang, hehehehe..
socafahreza's blog mengatakan…
meskipun hobi, tapi kalau ditekuni secara konsisten pasti akan menghasilkan :)..
Aulawi Ahmad mengatakan…
semua pasti punya tujuan, tinggal bagaimana menjalani dan menyikapinya. Seperti halnya sebuah keputusan, segala resiko harus siap diterima jika itu memang sudah jadi pilihan.
btw nice share :)
dhenok habibie mengatakan…
kalo dhe, ntah kenapa dhe tak ingin jadi penulis full fan.. sama seperti judulnya, menulis itu hanya pelampiasan hobby.. melampiaskan ide dan juga kreatifitas jari di atas keyboard.. makanya, sebelum terjun ke dunia kerja, dhe puas2in nulis saat ini.. hehe :D
jugglingart.org mengatakan…
menulis bukan hanya hobi, tapi juga sebagai tempat untuk menuangkan ide bro...
reachschools.org mengatakan…
Saat ini menulis bisa menjadi lahan uang yang sangat mudah karena ada internet. Beda kalo jaman dulu yang musti ada publisher kalo mau cari uang dari menulis
dwarfhammies.org mengatakan…
rajin-rajinlah menulis, karena dengan menulis maka pikiran dan otak kita akan terlatih
bevelyn.info mengatakan…
Di era internet ini menulis sudah seperti tidak perlu sensor lagi. berbeda dengan jaman dulu yang selalu ada batasan dalam menulis. maka teruslah menulis
maselino.com mengatakan…
Tapi kayaknya kalo cuma sebatas hobi doank agak sayang bro, kenapa tidak dengan memanfaatkan hobi untuk mencari penghasilan tambahan. Itu lebih ok lagi
satuwaktu.net mengatakan…
Tulisan yang sangat inspiratif. Memacu untuk terus menulis dan menulis
oceanoffish.blogspot.com mengatakan…
Yang sulit dalam menulis adalah ketika ide yang ada sulit untuk dicarikan kata-katanya. Butuh latihan dan kebiasaan yang lebih banyak untuk memperoleh suatu tulisan yang bagus dan menarik
Unknown mengatakan…
Seorang penulis yang idealisme hanya membutuhkan pembaca yang fanatik dengan sebuah hasil karyanya, tanpa harus memikirkan jumlah banyak atau sedikitnya dengan mengikuti arah pasar.

Sukses selalu
Salam
Ejawantah's Blog

Postingan populer dari blog ini

MY FIRST KISS

Pengalaman naik taksi online IV : Supir ngotot mau lewat tol

CIRI-CIRI CEWEK SUDAH PUNYA PACAR