KETIKA INDUK AYAM MENGERAMI TELUR-TELURNYA


       
Pernah melihat induk ayam mengerami telurnya? Kalau pernah, coba perhatikan betapa beratnya perjuangan dan pengorbanan seekor induk ayam saat mengerami telur-telurnya.
Ada 2 hal yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua dari karakter induk ayam ketika sedang mengerami telur-telurnya.

MENGALAHKAN KEINGINAN

Induk ayam harus bersedia mengerami telur-telurnya. Dia harus mengalahkan segala keinginannya. Dia tidak bisa seenaknya sendiri melakukan kegiatan. Bahkan untuk makan, minum, dan membersihkan diri pun, dia tidak bisa melakukannya. Puasa yang dia lakukan adalah untuk menjaga suhu badannya supaya tidak berubah-ubah, sebab kehangatan yang stabil sangat diperlukan untuk bisa membuat telur-telur menetas dengan baik.

SABAR MENANTI, MEMBERIKAN PERHATIAN DAN MENJAGA

Dia pun harus “puasa” dari godaan ayam jantan yang akan mengajaknya untuk bersenang-senang. Ini bukan hal yang mudah, induk ayam itu sabar menunggu menetasnya telur-telur tersebut sampai 21 hari lamanya. Kalau hanya sehari dua hari dierami, maka telur-telur itu tidak akan menetas, bisa-bisa malah membusuk. Bukan hanya itu, induk ayam itu harus memberikan perhatian penuh kepada telur-telur yang dieraminya. Dia harus memastikan bahwa semua telur dan semua bagian dari telur-telur itu mendapat kehangatan yang sama selama masa pengeraman. Dan, yang tak kalah pentingnya adalah dia akan menjaga telur-telur tersebut sedemikian rupa sehingga tidak diambil atau dirusak oleh pihak lain. Jangan coba-coba berusaha mengambil telur-telur yang sedang dierami itu, sebab induk ayam akan mematuk siapa saja yang mendekatinya. Dengan segala kekuatan dan kemampuannya, dia akan terus melundungi telur-telurnya dari ancaman “musuh”.

Fakta pengeraman telur oleh induk ayam sampai menetas ini bisa menjadi gambaran tentang terlahirnya sebuah karya yang berguna, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Tidak ada karya agung yang dihasilkan secara instan. Orang harus dengan sabar menunggu waktunya. Bukan hanya sabar, tetapi dia juga harus fokus kepada apa yang sedang dikerjakannya, supaya setiap bagian dari pekerjaannya bisa diselesaikan dengan baik. Untuk bisa seperti itu perlu ada pengorbanan, yaitu dengan mengendalikan diri untuk tidak menuruti keinginan yang bisa mengalihkan perhatian kepada hal yang lain. Apa pun yang berusaha merusak pekerjaannya, akan dia hadapi dengan sekuat tenaga. Dia tidak akan mudah putus asa dan menyerah pada keadaan. Mari kita berupaya sedemikian rupa untuk bisa menghasilkan karya yang bisa dinikmati banyak orang.

Hmm..jadi ingat dengan diri sendiri yang seringkali sulit fokus dan maunya serba instan dalam mendapatkan hasil. He he he..

Komentar

Petter Sandjaya mengatakan…
Wah inspirarif bgt. Jd smangat mlewati pagi yg berat ini...
Lidya Fitrian mengatakan…
harus lebih sabar dalam menjalani hidup ya mbak
nicamperenique mengatakan…
Ah, coba saya ingat filosopi ini waktu bikin postingan berjudul : Nanti Juga Bisa.
Seperti induk ayam yang bersedia menunggui telornya menetas dengan sempurna, selayaknya seorang Ibu pun punya pengorbanan yang sama terhadap anak2nya. Sewajarnya seorang ibu mengesampingkan semua ego tentang keinginan untuk ini dan itu, minimal sampai pada usia rentan anak2 yaitu pada usia BALITA.

TFS ya mba Fanny!

*) waduh sejak kapan dimarih pakai CAPCAI???? Selama ini ga ada deh huhuhu
Suciati Cristina mengatakan…
bener, yg boleh instan katanya cuma mie aja yah :D
aku baru tau perjuangan induk ayam sebegitunya
bener banget tuh , renungan yang benar-benar mantap .
jai inget diri aku sendiri yang maunya serba cepet dan instan .
makasih ya buat sharenya
ali mengatakan…
Wah sekarang jadi pakar ayam betina ya mbak..
Kekekekekk

memang biasanya bila ingin meraih sesuatu diperlukan perjuangan dengan kesabaran, ulet dan tahan uji..

Thanks neh post-nya, dan maaf baru bisa kembali kesini..
Della mengatakan…
Memang harus fokus dan sabar ya Mbak, kalau mau hasil yang bagus :)
Jadi pengen cari gambar induk ayam lagi ngeramin telur nih, buat dipasang di samping PC. Biar fokus terus ke tujuan, hehehe..
Jiah Al Jafara mengatakan…
sabar menjalani hiduppp :D
Unknown mengatakan…
Bila Tuhan dalam menciptakan bumi dan langit beserta isinya saja melalui proses, maka adakah manusia yang akan melebihi Tuhannya sendiri secara instans ? he....x9

Sukses selalu
Salam
Ejawantah's Blog
Nia mengatakan…
bener mbak...semua keberhasilan itu butuh proses...ngga bisa instan...justru kalo yg instan itu biasanya ngga awet hehehe.....
Meutia Halida Khairani mengatakan…
saya dulu paling suka godain ayam lg ngeram telur.. soalnya galak. hahaha..

hmm, awalnya saya jg berkeinginan nulis buku.. pertama2 semangat, sekarang2 males. haduwh.. hrs konsisten biar hasilnya memuaskan kayak si ayam :)
Dannesya mengatakan…
makasih ya mbak fanny, selalu mengingatkan saya untuk pokus skripsi setiap keasikan ngeblog, ngahahahah *peyukpeyuk*
Fajar mengatakan…
jaman sekarang serba instant..mbak..
Siska mengatakan…
dalam artikel ketika induk ayam mengerami telur terkandung nasehat.
memang benar mbak sesuatu itu tidak ada yang instan,kita harus berusaha dulu untuk mendapatkan hasil yang baik.
Dihas Enrico mengatakan…
kalo induk ayamnya gak sabar...
bisa dititipka di box yg ada lampunya itu...
:P
Unknown mengatakan…
apakah ayam jantan yang mengerami telurnya atau ayam betina nya?jika betina bagaimana agar ayam betinaku mau mengerami telur telurnya

Postingan populer dari blog ini

MY FIRST KISS

Pengalaman naik taksi online IV : Supir ngotot mau lewat tol

CIRI-CIRI CEWEK SUDAH PUNYA PACAR