KEBERANIAN UNTUK BERUBAH

Saya pernah membaca sebuah buku mengenai salah satu cara yang biasa dipakai untuk menangkap kera, yaitu dengan menggunakan sebuah kotak. Bagian atas kotak tersebut diberi lubang yang dibiarkan terbuka. Lubang tersebut tidak usah terlalu besar, cukup untuk tangan kera bisa masuk ke dalam kotak. Lalu, sediakan kacang atau makanan kesukaan kera di dalam kotak untuk menarik perhatian sang kera. Kera akan mengambil kacang-kacang tersebut, lalu mengepalkan tangannya yang berisi kacang. Tetapi ia akan kesulitan mengeluarkan kepalan tangannya, karena lubang pada kotak terlalu kecil untuk sebuah kepalan tangan kera.

Dalam  hal ini kera mempunyai dua pilihan. Melepaskan kacang-kacang tersebut dan mengeluarkan tangannya, atau tetap menggenggam kacang-kacang itu tetapi ia akan tertangkap manusia. Fakta yang biasa terjadi adalah: kera akan memilih untuk tetap menggenggam kacang, meskipun harus menanggung risiko ditangkap manusia.

Saya pun teringat pada kebiasaan manusia yang suka memegang erat materi, kebiasaan (meskipun itu kebiasaan jelek) yang ia miliki. Semua ini karena manusia seringkali merasa cemas atas ketidakpastian hidup mereka di masa depan.

Padahal, keberanian melepaskan apa yang menurut kita sangat berharga seringkali membuahkan hasil yang lebih baik. Apalagi jika hal itu berhubungan dengan kehendak atau perintah Tuhan kepada kita. Rasanya memang berat untuk melepaskan kebiasaan-kebiasaan lama ketika kita masih hidup di bawah kuasa dosa. Misalnya saja kebiasaan berkumpul dengan teman-teman yang senang berpesta-pora sambil bermabuk-mabukan.

Berat rasanya untuk meninggalkan kebersamaan yang penuh “kenikmatan” itu. Tapi pernahkah kita berpikir akibatnya? Kebiasaan yang tidak baik hanya akan menyeret kita pada kehancuran. Tetapi mereka yang berani melepaskan kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak baik, akan menuai hasil yang baik sesuai ketaatan mereka pada perintah Tuhan.

Demikian juga dengan kita yang sudah memasuki dunia kerja. Seringkali kita merasa nyaman dengan kemapanan kita. Dan, kita pun menjadi takut saat ada peluang di depan  mata. Kita takut meninggalkan zona nyaman itu. Akhirnya kita tetap menggenggam erat apa yang sudah ada di tangan kita dan peluang emas itu pun lepas.

Hmm…kira-kira apa ya yang harus saya lepaskan agar bisa mengalami kemajuan di dalam hidup ini?

TANPA KEBERANIAN UNTUK BERUBAH, KITA TIDAK AKAN MAJU.
      

Komentar

Tini Annisa mengatakan…
kunjungan perdana kesini. semoga bisa mendapat banyak pelajaran bagaimana cara menulis cerpen ayng baik di blognya mba

salam kenala yah mbak
iyah mba memang harus ada keberanian berubah untuk hidup lebih maju :D
bloggerid mengatakan…
benr bnget terkadang kalah sebelum dicoba.. ya munkin karna lum terlalu siap dengnresiko yg besar
Unknown mengatakan…
perubahan itu perlu
namun berani berubah adalah hal terpenting dalam adanya perubahan
jangan melihat besar kecilnya perubahan, tapi lihatlah seberapa berani perubahan itu dilakukan
salam silaturahmi
Kang Sofyan mengatakan…
kalau perubahan itu sudah yakin bisa menjadi lebih baik kenapa tidak dicoba saja,,
Ajeng Sari Rahayu mengatakan…
apa ya? mbak Fanny lebih tahu kali yak.

Berarti saya harus siap2 diri ancang2 buat meninggalkan kenyamanan ini mbak-pengen banget ngrasain kerja di lapangan itu kayak apa >.<
Dav Dmilano mengatakan…
Saleum,
Saya sudah melepaskan sesuatu yang selama belasan tahun dekat dengan kehidupan saya dan sekarang saya lega dan merasakan manfaat yang luar biasa. Dia yang dimaksud adalah rokok. ya, saya sudah berhenti merokok dengan sadar.
HoneyBUZZin mengatakan…
Setuju. Bagus entri ini.
Artineke A. Muhir mengatakan…
Pernah baca juga Mbak, iya ya kadang kita suka begitu ;)

Dan yang paling tahu apa yang sebaiknya kita lepas justru diri kita sendiri ^^
Wury mengatakan…
Memang segala apapun mengandung resiko. Tapi hal itu jangan sampai mempengaruhi kita kalau kita tetap ingin masuk ke dalam perubahan hidup yang lebih baik tentunya.

salam kenal, teman. Aku tunggu kunjungan baliknya :)
marsudiyanto mengatakan…
Salah satu kelemahan kita pada umumnya adalah terbuai di zona nyaman yg justru menghalangi kita untuk berubah maju.
Kita terlalu mudah puas lalu berhenti.
Dihas Enrico mengatakan…
berubah dan melawan arus selalu membutuhkan keberanian...
:)
Meutia Halida Khairani mengatakan…
hmm, kalo saya kayaknya harus lepaskan kerjaan consultant utk jadi penulis mutlak. tapi.. hmm...hmm...
Unknown mengatakan…
menurutku, Keinginan untuk berubah itu datangnya terkadang tak terduga mba, namu kita pantas mencarinya. dan jika sudah mendapatkan rasa ingin berubah, "Just Do It" and BAAR (Believe, Act, Attrack and Receive)
nicamperenique mengatakan…
ayo mbak fanny harus berani keluar dari zona nyaman :D
ntar surprise deh melihat apa di luar :D

been there! hehehe
Arai Lekir mengatakan…
kadang-kadang kita takut untuk meninggalkan zon nyaman kerana belum pasti apa yang akan berlaku di masa hadapan ..
Unknown mengatakan…
Berani bertindak dalam mengambil keputusan untuk suatu perubahan Mba. Setuju sekali.

Sukses selalu
Salam
Ejawantah's Blog
fahrizal mengatakan…
Hmm ... Saat itu yang dibutuhkan adalah keyakinan kita terhadap Allah ... Bukankah Allah menjanjikan sebuah perubahan bagi mereka yang benar-benar action menuju perubahan ...
Cut Ratu mengatakan…
Fanny....aku suka banget sama tulisan ini. Ijin share ya say...plus linknya tentu :-)
Cut Ratu mengatakan…
btw waktu aku klik link share to facebook kok yg muncul malah fotoya Mutia ya hehehehe
Lyliana Thia mengatakan…
Analoginya pas banget ya mbak... hmm.. memang utk maju kita harus melepaskan sesuatu... apa ya...? :-D
Anonim mengatakan…
hhmmm iya juga sih :D kalau nggak berubah, gimana bisa tau? setidaknya mencoba...

Postingan populer dari blog ini

MY FIRST KISS

Pengalaman naik taksi online IV : Supir ngotot mau lewat tol

CIRI-CIRI CEWEK SUDAH PUNYA PACAR