KENANGAN BERSAMA OMA
Ketika orang tua saya menikah, mereka belum memiliki rumah
sendiri sehingga untuk sementara tinggal di rumah besar oma, yaitu ibunya
mama. Tidak heran, kalau saya jadi dekat
banget sama oma. Sebab sampai usia saya setahun, saya tinggal di rumah oma.
Apalagi saya lahir sebagai cucu pertama plus anak pertama dari mama yang
menikah di usia muda dan belum berpengalaman mengurus bayi, sehingga oma sering
membantu mama mengurus saya. Mulai dari memandikan, memberi makan sampai
merawat saya saat sedang sakit.
Sebagai cucu pertama, otomatis saya lumayan dimanjakan oleh
oma. Untungnya, ketika usia saya menginjak satu tahun lebih, papa berhasil
membeli rumah untuk keluarga kecilnya, maka kami pindah ke rumah baru. Coba,
bayangkan….kalau saya tetap diasuh oma yang sangat sayang pada saya. Wah,
bisa-bisa…saya tumbuh menjadi anak yang manja. He he he..
Anehnya, walaupun saya dan oma akhirnya tidak tinggal
seatap, kami tetap akrab. Setiap kali saya menginap di rumah oma, saya merasa
sangaaaat bahagia. Rasanya, kalau belum disuruh pulang sama papa, mau deh lebih
lama nginap di sana, tidur sekamar
sama oma.
Kamar oma itu luas, adem (tanpa AC lho!), ranjangnya besar,
spreinya selalu rapi dan wangi. Maklum, oma saya itu apik banget. Tiga hari
sekali spreinya dicuci, diganti dengan sprei lainnya yang disetrika rapi. Oma
juga rajin sekali membersihkan kamar tidurnya. Membuat saya semakin betah tidur
di kamarnya.
Selain kamarnya yang bersih mewangi yang membuat saya
kecanduan menginap di rumah oma, saya
juga kecanduan jajanan aneka ragam yang
sering dibelikan oma. He he he…Biasanya,
setiap habis mandi sore, oma akan mengajak saya jalan-jalan sore, keluar masuk
gang-gang kecil yang ada di sekitar gang rumah oma.
Selama acara jalan-jalan itu, oma sering membelikan saya
jajanan seperti permen, snack dan coklat payung. Oma sampai menjadi pelanggan setia di warung kecil yang
menjual aneka jajanan itu. Tentu saja, saya tidak menolak diberikan jajanan
enak-enak. Namanya juga anak kecil, pasti suka dong.
Setelah saya memasuki usia remaja, oma tak lagi memberikan
jajanan tetapi setiap kali saya main ke rumah oma, pasti disuguhi makanan lezat
seperti : bakmi goreng, gado-gado, mie ayam, dan lain-lain. Pokoknya, kalau ke rumah oma, perut saya jadi
ndut karena disuruh makan terus.
Sampai
saya kuliah pun, Oma tetap memberikan uang jajan.
Padahal, saya sudah menolaknya karena saya tahu, usaha garment oma jatuh
pailit. Oma sampai menyewakan sebagian kamar-kamar di rumahnya untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi, meskipun keadaan ekonominya tak
lagi sebaik dulu,
oma tetap berusaha menyenangkan hati saya.
Seringkali saya berhasil menolak uang pemberian oma, tetapi
tak jarang oma malah memasukkan lembaran uang ke tas kuliah saya dengan diam-diam.
Tahu-tahu ketika sampai di rumah, saya menemukan sejumlah uang di tas. Akh, oma..oma…saya
sampai suka menangis sendiri menyaksikan kemurahan hati oma. Mungkin oma
kasihan melihat saya yang jarang jajan karena ketika menginjak bangku SD sampai
kuliah, bisnis papa saya mengalami kemunduran. Kami sering pinjam uang sama oma
untuk beli kebutuhan dapur. Saya bisa
kuliah pun berkat bantuan dari oma dan teman-teman papa yang meminjamkan sejumlah uang
kepada papa.
Ketika akhirnya saya lulus kuliah dan bekerja, saya pun
mencoba membalas semua kebaikan oma. Bukan lagi oma yang memberikan uang kepada
saya, tetapi saya yang selalu menyisipkan sejumlah uang ke tangan oma setiap
kali saya berkunjung ke rumahnya. Jumlahnya memang tidak besar tetapi bisa
membantu oma membayar rekening listrik, air dan telpon, karena di usianya yang semakin renta, oma hanya
mengandalkan uang pemberian anak-anaknya yang sudah bekerja dan uang kost dari
orang-orang yang kost di rumahnya.
Saya ingat betul, betapa terharunya oma setiap kali menerima
uang dari saya. Seringkali oma menolaknya, tetapi saya terus memaksa oma untuk
menerimanya. Saya bahkan sempat berjanji pada oma untuk mengajak oma
jalan-jalan ke luar negeri kalau saya sudah menjadi Notaris. Tetapi, sebelum
janji itu ditepati, oma sudah meninggalkan saya untuk selamanya. Oma pulang ke
rumah Bapa pada bulan April tahun 2001 saat saya sedang sibuk bekerja.
Beruntung, saya masih sempat membesuknya di rumah sakit ketika dia masih sadar.
Tetapi, saya tetap merasa sangat menyesal karena tidak bisa mendampingi di
saat-saat terakhirnya. Andai saya tahu oma akan pergi hari itu, pasti saya
sudah bolos kerja. Tetapi rencana Tuhan tidak pernah ada yang bisa menebak,
bukan?
Sekarang, saya sudah menjadi Notaris tetapi oma tak pernah
bisa merasakan keberhasilan saya. Bila
ingat itu, saya sering merasa sangat sedih. Tidak heran, saya masih sering
bermimpi ketemu oma. Mungkin karena saya suka kangen sama oma dan punya janji yang tak pernah bisa dipenuhi. Atau, oma
kangen juga sama saya.. Entahlah..
Btw, foto di bawah
ini adalah foto saat usia saya 1 tahun lebih (baru pindah ke rumah baru).
Kata mama, saya baru saja sembuh dari sakit dan oma sampai menginap di
rumah untuk membantu merawat saya. Saya tampak kurus ya? Fotonya buram karena saya foto ulang.
Sedangkan foto ini adalah foto saat usia saya lima
tahun. Adik saya yang perempuan sedang merayakan ultahnya. Di belakang adik
saya, ada para tante (anak-anak oma yang lain, selain mama). Lihat, Oma berdiri di belakang saya. Itu
menunjukkan oma (pake baju item dengan corak kembang-kembang) selalu ingin dekat dengan saya. Saya memang cucu kesayangannya
dan oma adalah nenek kesayangan saya. Really
miss u, grandma….
Hasil foto ulang juga nih. Buram dan kecil ya..Sudah dicoba foto ulang hasilnya masih sama. Hiks...
Note : Tulisan ini diikutsertakan dalam acara Giveaway 10th Years Wedding Anniversary MOMENT TO REMEMBER. sambil mengenang memori indah bersama oma tercinta.


Komentar
sama dulu w juga tinggal numpang dirumah nenek dari ibu w
sungguh masa yang paling membuat w menjadi manusia yang bisa tahu kemana harus jalan sekarang,karena semua itu berkat didikan nenek w dulu
dan sebelum meninggal dia minta di ajarin baca Al-Quran sama w,sedih banget ingetnya :(
Dah ah
Ga kaya anak, dikasih dikit marah-marah :-/
lagi kangennn yaaaa
Tapi Oma Mbak, pasti senang kok dengan keberhasilan Mbak Fanny sekarang ;)
Semoga menang mbak... :D
http://japobsganbare.blogspot.com/
Dan dari gaya penceritaan seperti itulah yg membuat aku beranggapan kalo mbak cerpenis ini sudah ibu-ibu...
Pertama baca judulnya saya kirain tulisan ini membahas Oma Irama (Rhoma Irama), ternyata salah.
tapi justru yang seperti itu yg membuat hati tersentak karena kenangannya banyaaaak banget... :)
sista, kelahiran tahun berapa sih???
hehehehhe..
Ara juga deket banget sama neneknya,
saya juga tergolong dekat sama Ema dan Engkong, mereka udah meninggal, hanya jarak sebulan... hiks hiks..
saya juga dari bayi deket ma Nenek dan sampai sekarang pun begitu, sering bilang cucu kesayangan depan cucu2 yg lain, pada rebutan jadi cucu kesayangan :D
bahawa bintang-bintang di langit adalah mereka-mereka yang telah pergi dan sentiasa melihat kita dari atas.
Semoga Fanny tetap begitu baik selamanya...jangan sesekali kamu berubah..sukar sungguh ketemu orang seperti kamu. Salam dari jauh.
Honey
smangat mbak strwberry
@honeybuzz : waduh, tidak seperti itulah. Saya juga banyak kekurangan, sis. Tapi semoga saya tetap menjadi orang yg tahu membalas kebaikan orang lain ya.Makasih sis...
apalagi diiringi lantunan melody, ah lagu apa ini mbak ? kiss the rain ?
saya teringat emak, begitu saya memanggil beliau, nenek saya, ibu dari mama saya yang begitu saya cintai, begitu juga sebaliknya, bahkan kepergiannya pun membawa rasa bersalah yang besar pada diri saya, jika sempat saya akan menulis tentang beliau :)
salam hangat..
iya ini lagu kiss the rain. makasih ya atas apresiasinya. Salam hangat juga.
Tapi Oma pasti seneng udah lihat fanny berhasil tinggal kasih oma cicit aja biar lebih bahagia di surga.
kalau ke rumah oma dan eyang pasti rasa masakannya tuh enak2, padahal sederhana bgt... mgkn kasih sayang oma dan eyang itulah yg beda ya mbak... :-D
klo ponakan rame yang nginep seminggu sekali diganti, tapi klo sepi cuma berdua aja ya 2minggu deh hehehe *hlo kok mbahas sprei hahaha*
good luck kontesnya ya mbaa