INGIN BERJUMPA DENGAN TUHAN
Didit yang baru berusia 10 tahun ingin sekali berjumpa dengan Tuhan. Ia berpikir untuk ketemu Tuhan harus melakukan perjalanan yang jauh. Maka, disiapkannya ransel yang berisi makanan dan minuman serta beberapa potong pakaian.
Pada hari yang telah ia tentukan, Didit pamit pada sang ibu. Mulanya sang ibu melarangnya pergi tetapi Didit berjanji akan segera kembali setelah ia bertemu Tuhan.
Di tengah perjalanan, Didit bertemu dengan seorang nenek yang sedang duduk di sebuah bangku di taman kota. Nenek itu sedang asyik mengamati burung merpati yang tengah mencari makan di sekitar taman.
Didit duduk di samping nenek itu dan mulai membuka ranselnya. Ia mengeluarkan dua potong roti dan dua buah teh kotak. Diberikannya sepotong roti dan sebuah teh kotak kepada si nenek. Nenek itu yang memang sedang lapar, menerima pemberian Didit sambil tersenyum manis sekali. Begitu manisnya senyum itu, membuat Didit ingin melihat senyum itu terus menerus.
Didit dan si nenek pun tersenyum sambil menikmati roti yang lezat. Ketika senja tiba, Didit menyadari bahwa ia begitu lelah dan harus pergi. Sebelum pergi, ia menghampiri si nenek dan memeluknya. Nenek itu kembali memperlihatkan senyumnya yang indah.
Setibanya di rumah, Didit disambut sang ibu dengan pertanyaan :
“Mengapa kamu kembali begitu cepat, nak? Katanya, kamu mau ketemu Tuhan.”
“Saya sudah ketemu Tuhan, bu. Ia memiliki senyum yang sangat indah yang belum pernah saya lihat.” Jawab Didit.
Sementara nenek di taman itu pulang ke rumahnya dengan gembira. Ketika tetangganya melihat wajahnya yang begitu ceria, ia bertanya :
“Nenek dari mana saja? Kok, tampak gembira sekali.”
“Saya baru saja ketemu Tuhan. Ternyata dia sangat muda dari yang pernah kubayangkan.” Jawab si nenek.
Jelas sudah, dari kisah diatas kita bisa melihat bahwa dari sikap dan tindakan kita, orang bisa melihat apakah Tuhan ada di dalam hidup kita atau tidak. Seringkali kita sulit menjelaskan mengenai Tuhan kepada orang-orang tertentu, tetapi kita dapat menyatakan bagaimanakah Tuhan melalui sikap hidup kita setiap hari.
Karena itu jangan putus asa bila kita tidak punya kemampuan untuk menjelaskan Tuhan melalui kata-kata. Untuk menjelaskan Tuhan yang pengasih, kasihilah sesama. Untuk menjelaskan Tuhan yang pengampun, ampunilah sesama.
Komentar
tapi sebenarnya TUhan itu sangat dekat, ada di dalam hati dan Jiwa kita, kyakinan lah yg mendekatkan kita.
bagus banget mbak Fani postingannya. pantes dijadiin bahan renungan di pagi hari :)
tapi saya gakk setuju mbak kalo tuhan itu kita melihatnya dari manusia juga,
karena saya rasa tuhan itu adalah yang menciptakan kita dan gak mungkin berperilaku seperti manusia dah,hehe,,just my opinion,hehe
Selamat cuti bersama y...
simple...
yet so deep....
menyentuh. hehee
Sebelum beres baca ceritanya, pas baca bagian si anak itu ditanyain sama ibunya, berkesan bahwa Tuhan itu adalah seorang wanita ;_;
cerpen yang musti dibaca sampe beres agar tidak menimbulkan salah paham
makasih utk mengingatkan Mba...
Tuhan selalu ada di dalam jiwa, di dalam pikiran dan disetiap langkah kaki kita...
very nice post... keren ^^