SI MISKIN YANG TAK MERASA MISKIN
Suatu ketika negara Arkansas ingin memperbesar dana kesejahteraan bagi para fakir miskin. Salah satu dari fakir miskin itu adalah seorang nenek yang tinggal di sebuah pondok yang reot. Pondok itu tak mampu menahan hembusan angin di musim dingin dan saat musim panas, pondok itu terasa sangat pengap.
Tempat tidur nenek itu pun hanya berupa beberapa lembar papan yang dipaku menjadi satu dan kasurnya berupa daun-daun pinus. Terdapat juga sebuah selimut tipis dan perapian kecil untuk melindunginya dari hawa dingin. Selain itu ada sebuah meja, dua buah kursi yang terbuat dari papan-papan kasar. Nenek itu tidak punya lemari es, televisi dan telepon. Satu-satunya hiburannya hanya sebuah radio butut. Kebun kecil di belakang pondoknya ditanami sayuran hijau, labu dan lobak. Di depan pondoknya terdapat taman kecil yang indah.
Nenek itu pun menjadi salah seorang dari fakir miskin yang akan diwawancarai televisi setempat. Pada waktu yang telah ditentukan, kru dari pihak televisi tiba dan mulai menyiapkan kamera besar mereka yang mahal. Wajah nenek itu disorot beserta pondoknya. Wawancara diakhiri dengan sebuah pertanyaan :
“Jika pemerintah memberikan uang sebesar 200 USD per bulan, apa yang akan anda lakukan dengan uang itu?”
Tanpa ragu, nenek itu menjawab : “Aku akan memberikannya kepada orang-orang miskin.”
Luar biasa! Jawaban nenek itu membuat semua orang yang mendengarnya (termasuk para pemirsa) berdecak kagum dan heran. Dari jawabannya, kita pun bisa memetika 2 pelajaran yaitu :
1. Kita bisa menentukan apakah kita orang miskin atau tidak.
Nenek dalam kisah di atas tidak menganggap dirinya miskin. Walaupun orang-orang yang melihat kondisi rumahnya akan menganggap ia miskin. Tetapi ia tak pernah beranggapan demikian. Ia cukup bersyukur dengan keadaannya, yang masih bisa makan dan bisa berpakaian.
Bandingkan dengan diri kita yang sering merasa tidak puas meskipun sudah menerima banyak berkat dari Tuhan. Kita sering merasa miskin dan tak mampu. Sepatutnyalah kita melihat orang-orang yang jauh lebih menderita daripada kita, sehingga kita bisa bersyukur akan keberadaan kita. Jika masih bisa makan, berpakaian dan sehat, bersyukurlah.
2. Nenek itu memiliki kepedulian pada sesamanya.
Ia bisa saja menggunakan uang yang akan diberikan pemerintah hanya untuk dirinya sendiri. Tetapi ia sadar bahwa ada orang-orang yang jauh lebih menderita hidupnya. Ia ingin membantu mereka. Bisakah kita memiliki sikap seperti nenek itu?
NOTE : KEPUASAN YANG DISERTAI RASA SYUKUR AKAN MEMBUAT KITA MERASA KAYA MESKIPUN TIDAK MEMILIKI BANYAK HARTA.
Komentar
bersyukur memang jadi jawaban yang paling pasti apabila banyak yang mempertanyakan soal kaya atau miskin. Nenek itu hebat, masih mau berbagi dalam keterbatasannya.
makasih mbak renungannya, bisa belajar dr si nenek ya, mbak
*follower baru minta yang aneh-aneh*
masih saja tidak puas dengan apa yg dimiliki skrg..
Thanks Mba Fanny, Postingannya bagus
kebanyakan orang akan berkata "aku sendiri miskin, kenapa harus kuberikan pada orang lain"
walaupun secara ekonomi kurang mampu, tapi jangan sampai menjatuhkan harga diri. jangan mau dianggap miskin, kekayaan jangan selalu dihitung dengan harta.
miskin harta boleh
miskin hati jangan
miskin iman naudzubillah,,,,
ketika ada pendataan warga yang layak mendapatkan bantuan banyak yang mendaftar , padahal saat itu dia sudah memakai perhiasan yang tidak murah.
memberi dalam keterbatasan membuka tangan Tuhan slalu memberkati kita