SAAT JALAN HIDUP TERASA BERAT
Otot-otot kakiku sudah terasa pegal bukan main. Pinggangku rasanya juga mau patah. Padahal,aku dan ayahku baru berjalan sekitar satu kilometer saja. Tetapi, untuk anak seusiaku yang baru berusia 8 tahun, berjalan satu kilometer sudah terasa jauh sekali.
Ketika aku tak tahan lagi, aku bertanya kepada ayah.
“Masih jauh ya?”
“Sebentar lagi, nak. “ Ayah tersenyum. Digandengnya tanganku. “Jalannya pelan-pelan saja. “ Kata ayah.
Aku pun seperti mendapat kekuatan lagi saat tangan kokoh ayah menggandeng tangan mungilku. Akhirnya, tak terasa kami sampai di tempat tujuan.
Pengalaman di masa kecil itu membuatku merenung. Mengapa waktu itu aku merasa letih sekali? Karena perhatianku terpusat pada jauh dan beratnya perjalanan yang harus kutemph. Aku juga sadar mengapa ketika digandeng oleh ayah, aku merasa kuat kembali. Itu karena aku melihat ayahku dengan senyumnya yang penuh kasih dan tangannya yang kuat terulur menggenggam tangan kecilku.
Sama halnya dengan perjalanan hidup. Seringkali kita merasakan perjalanan hidup ini begitu berat seakan-akan tidak sampai-sampai ke tempat tujuan yang diimpikan. Jangan fokus hanya pada masalah yang bisa membuat kita kian gelisah. Sadar dan rasakan bahwa tangan Tuhan sedang menggandeng tangan kita sehingga kita bisa tiba di tempat tujuan bersama kasihNya.
Komentar
jangan lupa berdoa juga
kisah yang denotatif
sarat makna dan memang sering kali diabaikan
semoga kita bisa selalu bijak menyikapi hikmah dibalik semua cerita
dan memang, keadilan tidak selalu kasat mata
dengan bergandengan kita sedikit mendapatkan kekuatan moral..
ada jalan jk kita mau^^
semangat
Yakin karna pasti kita dapat menempuh perjalanan ini hingga finish..
met sore Mba.
kata mas bondan : semua ini belum berakhir.
thank you...
it's encouraging
tapi lain kali kalo gak kuat jalan coba aja naek becak. hihihi...