KECURANGAN KECIL
Sudah tanggal 29. Biasanya orang menyebutnya tanggal tua karena pada tanggal tersebut, kantong mulai menipis, bahkan tak jarang bagai telur di ujung tanduk. Dalam keadaan seperti itu, pak Rusli menghadapi godaan berbuat dosa. Seperti biasa ia membeli bensin di POM bensin langganannya. Ia memberikan uang sebesar Rp.11.000,- sesuai harga bensin yang ia beli. Tetapi, si penjual dengan terburu-buru mengembalikan Rp.4.000,- kepadanya. Setelah itu ia kembali sibuk melayani para pembeli lainnya.
Pak Rusli merapihkan jok motornya sambil berpikir, benarkah ia telah memberikan uang rp.15.000,- kepada si penjual. Rasanya, ia memberikan Rp.11.000,- tetapi kenapa dikembalikan Rp.4.000,-.
"Akh, sudahlah...lumayan juga ada Rp.4.000,-. Bisa untuk beli gorengan. " Pikir pak Rusli akhirnya. Tetapi ketika ia hendak pergi dari POM Bensin, tiba-tiba saja perasaannya tidak enak. Maka, ia mendatangi si penjual dan mengembalikan uang Rp. 4.000,- tersebut.
Memang tidak besar, tetapi uang itu lumayan untuk tanggal tua. Namun pak Rusli bersyukur karena Tuhan menolongnya untuk tidak bertindak curang.
Kadang yang membuat orang berbuat curang adalah karena ia merasa itu kecurangan kecil.
"Gak papa, kan cuma Rp.1.000,- Apa sih artinya uang segitu?"
"Sekali-kali nyontek, boleh dong.."
"Jiaah...cuma teh hangat ini. Gak bayar juga gak apa. Toh kita udah bayar makanan ini cukup mahal."
Bahkan, seorang petugas lalu lintas pernah berkata begini : "Ditilang di tempat yah harus bayar dong. Sewajarnya aja deh, pak."
Well, patut diingat perbuatan dosa itu tidak pernah mencapai kata 'puas' dan 'cukup'. Demikian juga kecurangan kecil yang kita lakukan, pasti bisa berkembang menjadi kecurangan yang besar. Seseorang tidak otomatis menjadi seorang koruptor kakap, tetapi dia sudah memulainya dengan kecurangan kecil. Mungkin dia mencatut uang fotocopy, uang pembelian ATK, dll.
NOTE : JANGAN REMEHKAN KECURANGAN KECIL KARENA KECURANGAN KECIL BAGAI BENIH YANG BISA TUMBUH BESAR DAN AKAN BERBUAH.
Pak Rusli merapihkan jok motornya sambil berpikir, benarkah ia telah memberikan uang rp.15.000,- kepada si penjual. Rasanya, ia memberikan Rp.11.000,- tetapi kenapa dikembalikan Rp.4.000,-.
"Akh, sudahlah...lumayan juga ada Rp.4.000,-. Bisa untuk beli gorengan. " Pikir pak Rusli akhirnya. Tetapi ketika ia hendak pergi dari POM Bensin, tiba-tiba saja perasaannya tidak enak. Maka, ia mendatangi si penjual dan mengembalikan uang Rp. 4.000,- tersebut.
Memang tidak besar, tetapi uang itu lumayan untuk tanggal tua. Namun pak Rusli bersyukur karena Tuhan menolongnya untuk tidak bertindak curang.
Kadang yang membuat orang berbuat curang adalah karena ia merasa itu kecurangan kecil.
"Gak papa, kan cuma Rp.1.000,- Apa sih artinya uang segitu?"
"Sekali-kali nyontek, boleh dong.."
"Jiaah...cuma teh hangat ini. Gak bayar juga gak apa. Toh kita udah bayar makanan ini cukup mahal."
Bahkan, seorang petugas lalu lintas pernah berkata begini : "Ditilang di tempat yah harus bayar dong. Sewajarnya aja deh, pak."
Well, patut diingat perbuatan dosa itu tidak pernah mencapai kata 'puas' dan 'cukup'. Demikian juga kecurangan kecil yang kita lakukan, pasti bisa berkembang menjadi kecurangan yang besar. Seseorang tidak otomatis menjadi seorang koruptor kakap, tetapi dia sudah memulainya dengan kecurangan kecil. Mungkin dia mencatut uang fotocopy, uang pembelian ATK, dll.
NOTE : JANGAN REMEHKAN KECURANGAN KECIL KARENA KECURANGAN KECIL BAGAI BENIH YANG BISA TUMBUH BESAR DAN AKAN BERBUAH.
Komentar
jalan-jalan ke sawangan
selalu ada pembenaran
untuk setiap kecurangan
:)
ini buat pelajaran bagi kita semua..
btw, ada award untukmu. silakan ambil di sini :)
http://rikapoerba.blogspot.com/2011/02/award-untuk-sahabat.html
mentolerir kecurangan-kecurangan kecil bisa jadi akan medidik diri utk terbiasa melakukan kecurangan yang lebih besar nantinya...
setujuuuu banget,, yang besar tuh di mulai dari yang kecil ... jelek,, walaupun kecil kalo ditolerir,, pasti ntar ujungnya ke yang gede2 .....
parahnya.. saya ga selalu lulus.. (T.T)
thanks for reminding me, mbak!
Jika sudah menjadi terbesar maka lebih sulit lagi untuk mengehentikannya.
semoga kita terhindarkan.
aku sbg bendhara aja mesti sangat berhati²
Trims sob...,
hehehe...