JANGAN MENGHAKIMI

Seorang wanita bernama Bulan hamil di luar nikah ketika usianya baru 15 tahun. Pacarnya yang menolak bertanggung jawab sehingga ia harus menanggung aib itu sendirian. Ia berjuang dengan perasaan bercampur aduk. Menyesal, malu, kecewa dan merasa ditinggalkan.

Orang tuanya berusaha membangun kepercayaan dirinya untuk bangkit dari keterpurukan masa lalu, memperbaiki hidupnya dan terutama memelihara janin dalam rahimnya. Dengan berjalannya waktu, Bulan pun mampu melalui hari-harinya dengan harapan yang baru. Walau usianya masih muda, tetapi ia berusaha membesarkan anaknya dengan kasih sayang dan juga mulai mendekatkan diri kepada Tuhan. Tapi, tidak sedikit orang yang selalu memandangnya secara negatif. Mereka hanya terpaku pada kegagalannya di masa lalu. Mereka menilainya tak lebih dari seorang wanita yang hamil di luar nikah.

Ada banyak wanita yang seperti Bulan. Lalu, bagaimana cara kita memandang orang-orang seperti Bulan atau…terhadap mereka yang melahirkan karena diperkosa? Mengapa kita tak bisa memandang mereka sebagai manusia yang tak luput dari kesalahan? Pernahkah kita berpikir bahwa perjuangan mereka membesarkan anaknya sebagai single parent adalah sesuatu yang patut dihargai?

Kadang, kita memang lebih pandai menilai orang lain kemudian menghakimi mereka. Daripada menilai diri sendiri dan mengubah kelemahan kita. Kita cenderung menganggap diri sempurna dan orang lain yang salah.

Seorang rabi bernama Hillel mengatakan : “Jangan menilai atau menghakimi orang lain sebelum engkau sendiri mengalami keadaan atau situasi orang tersebut.”

Kita memang tidak bisa memahami sepenuhnya situasi yang sedang dihadapi seseorang. Masa lalunya, orang tuanya, keadaan ekonominya atau masalah hidup yang sedang ia hadapi. Karena itulah jangan mudah menghakimi. Hanya Tuhan yang layak menilai dan menghakimi seseorang.

NOTE : KAMU BOLEH MENGHAKIMI SESAMAMU, JIKA KAMU TIDAK PERNAH BERBUAT SALAH.


Komentar

BeBek mengatakan…
Kunjungan pagi sudah mendapat petuah yang bagus...
Have a nice day :)
Puspita mengatakan…
Beberapa siswa saya mengalami permasalahan seperti bulan. Yang menyedihkan lagi mereka sebagian besar berasal dari keluarga miskin. Saya hanya bisa menyarankan supaya mereka mengikuti kejar paket C. Sehingga tetap memiliki ijasah setingkat SLTA. Mereka juga masih berhak meraih mimpinya.
Gaphe mengatakan…
sebetulnya, emang bukan hasil akhir yang seharusnya dihakimi.. tapi lebih berharga prosesnya, kenapa sampai sedemikian itu.
Hariyanti Sukma mengatakan…
Mbak Fanny ...... makasih ya renungan paginya. Dan makasih juga atas kunjungannya ke posting2 lamaku.
joe mengatakan…
dalam hal ini, baik diperkosa ataupun berdasarkan suka sama suka, pihak wanita selalu saja berada di pihak yang dirugikan
etikush mengatakan…
gimana klo Bulan ikut memberi arahan pada remaja agar remaja yang lain tidak bernasib seperti dirinya,
misalnya dengan dia memaparkan secara jelas mengapa dirinya sampai bisa hamil,
sehingga para remaja tidak mengulangi hal serupa...
Mood mengatakan…
Kasian juga bila orang seperti itu masih diomongin yang jelek jeleknya saja, ibarat kata sudah jatuh tertimpa tangga.
Semoga kita bisa terhindar dari hal hal jelek yang merugikan orang dan diri sendiri ya Mbak.

Salam.. .
etikush mengatakan…
pantunnya terlewat :)

ke toko membeli sajadah
ke toko membeli gelas
menghakimi menjadi mudah
saat kasusnya tak jelas
Nyitnyit mengatakan…
betul mbak fany menghakimi dan menyalahkan orang itu memang mudah...
melihat sesuatu kesalahan tanpa melihat alasan kenapa kesalahan itu bisa terjadi biasanya lepas dari mata kita...
Lebih baik memperbaiki kesalahan itu daripada menambah kesalahan lain lagi..

Pencerahan di pagi yang indah...mb fany...OIA salam kenal mbak dariku..
Ummi Ubay mengatakan…
chika pernah mendapati orang seperti bulan, dikucilkan dan dihina besar-besaran...

tapi dibalik itu ada hikmah, yang mengajarkannya untuk lebih sabar
Unknown mengatakan…
bener bgt mba. Orang lain memandang kita bukan dengan hati dan perasaan mereka namun dgn mata mereka yg hnya bisa melihat kita dari depan tanpa mereka tau apa yang terjadi di belakang kita.
villa kunang kunang mengatakan…
Semoga kita dapat mengambil kesimpulan dari cerita bulan, malang sekali nasibnya dan semoga bulan diberi hikmah dalam peristiwa itu. Amiinnnnnnn....
Terima kasih atas posingannya.
Ritma mengatakan…
makasih ea mbak buat renungannya...
Have a nice day
-Gek- mengatakan…
kan semua manusia pasti punya dosa, toh.. jangan hakimi ariel.. freedom for ariel.. (Loh!!!)
Rahman Raden mengatakan…
menurutku jika siswi mengalami hal di alami oleh bulan, sekolah yg notabene lembaga pendidikan harus memberi jalan terbaik misalnya dibawa ke lembaga perlindungan anak dan perempuan dan paket c solusi terbaik juga untuk masa depannya
Putri Indah Purnama Sari mengatakan…
Hal seperti in imemang tabu di lingkungan masyarakat kita shg membuat org hanya berfikir sisi negatifnya. Tapi dr contoh kasus ini cobalah kita utk mengambil sisi positifnya. Tidak selalu orang yang memiliki masalalu buruk kedepannya tidak bisa berhasil.
Malah dengan pengalaman itu mereka mencoba bangkit utk lebih baik lagi
Muhammad A Vip mengatakan…
pak hakim di pengadilan suka menghakimi hayooo, atau dia sudah diberi kepercayaan sama Tuhan?
Mulyani Adini mengatakan…
Benar sekali, tidak banyak orang bisa menerima keadaan yang dialami oleh Bulan...walaupun sebenarnya kita seharusnya membantu untuk memudahkannya.
Tindakkan menghakimi selalu saja terjadi tanpa sadar belum tentu apa yang kita lakukan juga baik dimata Tuhan.
Lebih kepada diri sendiri dulu..
Muhammad Choirul A. mengatakan…
cerita yang bisa membukakan hati seseorang,,,mengajarkan bagaimana harus bersikap..
terimakasih..
tomtomz mengatakan…
pernah ada satu liputan TV about pernikahan dini sperti itu, sama- dia juga berumur ANAK SMP an lah...tp si laki2 mau tnggung jawab tapi hidup mereka tak jauh dari emperan jalan metropolitan jakarta...kasihan dan penuh penuh perjuangan demi sesuap nasi .

jangan salahkan mereka...walau terkadang mereka berbuat dosa (zina) tapi kenapa musti ada orang seperti mereka...jangan salahkan mereka karna ada mereka kita bisa lebih mawasdiri dan saling memberi kasih sayng..
attayaya_alam mengatakan…
jadi inget ma judge bao
Ajeng Sari Rahayu mengatakan…
Benar, hanya Tuhan yang berhak menghakimi.


Memang terkadang orang-orang suka menilai si A buruk dsb ketika situasi yang dinilai seperti yang di atas itu. Tapi bagi sebagian orang yang memiliki perasaan yang halus dan mau berempati, mereka tidak akan memaki atau mencap yang tidak2...tapi lebih ke dorongan, do'a juga semangat untuk yang bersangkutan agar lebih tabah menjalani.




Semoga kasus2 seperti di atas itu nggak ada lagi mbak,
Amy mengatakan…
Semoga bulan lebih tegar, tidak ada seorang manusia pun yang luput dari kesalahan. Jangan penah menilai & menghakimi org lain dr luarnya saja karena sesungguhnya kita tidak tau sebenarnya apa yang terjadi padanya.
catatan kecilku mengatakan…
Ups... aku juga tak luput dari salah, jadi aku tak pantas menghakimi orang lain ya mbak..?
the other mengatakan…
Memang selama ini label "hamil di luar nikah" itu sulit banget dilepaskan dan akan tetap melekat selamanya... walaupun dia sudah membuktikan bahwa dia berubah menjadi lebih baik. Itulah kejamnya sebuah penilaian negatif.
Rela Rahmah mengatakan…
yup, bener banget mbak.. apalagi perempuan yg hamil di luar nikah itu masih mau merawat anaknya, itu bener-bener patut dihargai.. daripada anaknya malah digugurkan?
HoneyBUZZin mengatakan…
Berat mata memandang..berat lagi bahu yang memikul...
Tidak perlulah kita menghakimi orang lain..diri kita juga tidak sempurna. Semoga kita mendapat teladan dari cerita ini. Thanks Fan for sharing!
Si gadis yang jadi korban dan keluarganya telah mendapatkan sanksi berat, terlebih berat lagi klo sampai sekolah mengeluarkan dia dari sekolah untuk kedisiplinan dan menjunjung tinggi aturan tetang siswa hamil di luar nikah.
ghost mengatakan…
karena mereka bukan hakim kita..
exort mengatakan…
betul tuh jangan suka menghakimi atau menilai salah atas perbuatan orang itu, apalagi bila kita tidak mengetahui latar belakang yang sebenarnya
ceritatugu mengatakan…
belum lama ini terpaksa seorang siswi harus keluar sekolah sehingga batal tidak bisa ikut ujian gara-gara hamil, kalau peristiwa ini bisa dikatakan menghakimi tidak mba, soalnya sekolah kan ngga mungkin menerima siswa yang sedang hamil
fianagus mengatakan…
nice share gan,..,
salam kenal dari pekanbaru
Ninda Rahadi mengatakan…
wah bener mbak.... hmm smg saya semakin wise juga
Irma Senja mengatakan…
setuju mba,...jangan pernah menghakimi seseorg,seburuk apapun... ^^

selamat malam mba fanny ^^
tiwi mengatakan…
Selamat pagi, merinding bacanya..., krn sy mempy 2 putri yg msh kecil, semoga Tuhan selalu melindungi keduanya dan dihindarkan dr hal2 buruk....Amin. Mengenai Bulan dan jg Bulan2 di luaran sana... yg penting adalah memperbaiki kualitas diri, baik spiritual maupun kecakapan, spy tetap bisa meraih sukses dunia-akhirat...Amin.
Zulfadhli's Family mengatakan…
Jangan pernah menghakimi seseorang karena kita pun belum tentu benar. Tapi satu yang pasti jangan meniru perbuatan buruk tersebut
mamadimas mengatakan…
Great post. Yg bisa menghakimi adalah Tuhan. Thanks for sharing :)
Anonim mengatakan…
benar sekali
saya sering liat banyak ibu2 yg menghakimi ibu lain yg memberi anaknya asi dan sufor.
kita smua tau asi adalah yg terbaik dan smua ibu ingin kasi yg terbaik buat buahatinya
jadi pasti si ibu mempunyai alasan kenapa ibu tsb memberi sufor pada anaknya!

Postingan populer dari blog ini

MY FIRST KISS

Pengalaman naik taksi online IV : Supir ngotot mau lewat tol

CIRI-CIRI CEWEK SUDAH PUNYA PACAR