KISAH SI JOJO
Jojo adalah seorang pemuda pengangguran yang tidak berpendidikan tinggi, tapi ia suka sekali pamer sana pamer sini. Dan, ia sangat suka dipuja-puji. Suatu hari ia pergi ke pasar dengan memakai kemeja yang rapi layaknya seorang karyawan. Tak lupa, ia menaruh sebuah pulpen di saku kemejanya.
Dengan lagak seperti pegawai kantoran, Jojo mulai berjalan-jalan keliling pasar. Seorang pedagang tempe yang melihatnya pun berkata kepada temannya, si pedagang ikan.
“Wah, wah..pemuda itu pasti seorang karyawan. Lihat saja kemejanya yang rapi dan ada sebuah pulpen di kantong kemejanya.”
“Benar, dia tampaknya orang yang berpendidikan tinggi ya?” Kata si pedagang ikan, menyetujui ucapan si pedagang tempe.
Jojo yang mendengar percakapan itu, menjadi sangat bangga. Maka, keesokan harinya ia kembali berjalan-jalan di pasar dengan meminjam kemeja kakaknya. Karena kemeja yang sebelumnya ia pakai telah ia cuci dan sedang dijemur. Tak lupa ia taruh dua buah pulpen di saku kemejanya.
Seorang pedagang buah yang melihat penampilan Jojo menyapanya ramah.
“Mas..mas..sampeyan seorang mahasiswa ya? Keliatannya terpelajar banget. Sampai bawa 2 pulpen di kantong kemeja.”
Hidung Jojo kembang kempis saking bangganya. Wah, dia disangka mahasiswa. Padahal, SD saja nggak tamat.
Esok harinya, Jojo pun kembali mengenakan kemejanya yang sudah kering dan disetrika rapi. Tak lupa ia menaruh 3 buah pulpen di saku kemeja. Ia berpikir, semakin banyak pulpen yang ia taruh di saku kemejanya, maka orang akan semakin menilai dirinya sebagai seorang yang berpendidikan dan punya pekerjaan keren.
Dugaannya tak meleset. Ketika ia berjalan-jalan di pasar, ia berpapasan dengan seorang tukang bakso. Mas Tukang bakso menegurnya dengan ramah.
“Mas..mas..pekerjaannya Wartawan ya? Kok, bawa pulpen sampai tiga buah? Wawancarai saya dong.”
Jojo mesem-mesem dan berkata : “Kapan-kapan deh, saya wawancarai kamu.”
Keesokan harinya, Jojo kembali mengenakan kemeja kakaknya karena kemejanya yang kemarin sudah dicuci dan belum kering. Kali ini ia menaruh 6 pulpen di saku kemejanya.
Di tengah jalan menuju ke pasar, ia bertemu seorang tukang siomay. Si tukang siomay menyapanya : “Mas…..boleh saya minta bantuannya?”
“Bantuan apa? “ Tanya Jojo sambil merapikan rambutnya yang tertiup angin.
“Gini mas, anak saya pulpennya rusak. Mas bisa benerin kan? “
“Lho, pulpen anaknya rusak kok nanya ke saya? Mana bisa saya benerin pulpen rusak.” Jojo memandang si tukang siomay rada jengkel.
“Mas pasti bisa. Wong, si mas ini kan tukang servis pulpen.” Kata si tukang siomay ngotot.
“Siapa bilang saya tukang servis pulpen? Apa di jidat saya tertulis begini : SAYA TUKANG SERVIS PULPEN?” Tanya Jojo kesal.
“Bukan tukang servis pulpen kok bawa pulpen enam buah?” Si tukang siomay memandang Jojo dengan bingung.
Ups! Jojo hanya bisa menggaruk-garuk pantatnya yang tak gatal.
Well, kisah di atas memang hanya sebuah illustrasi. Tetapi betapa seringnya kita bersikap seperti Jojo yang suka pamer dengan harapan dipuji orang sekampung, bila perlu sedunia. Memang dipuji itu menyenangkan, tetapi terlalu mengharapkan pujian hanya akan membawa kita terperosok ke jurang kesombongan. Bahkan, pujian bisa menjadi arang yang mencoreng wajah kita.
Komentar
tau diri
hehe
:p hehehe
@agenda ibu rumah tangga : terima kasih.
karena begitu pengennya dipuji >.<
Kalo namanya meleset sedikit bahaya tuh.. hihi... hahahaha,....
salam persahabatan