HANYA SIMBOL BELAKA
Pak Audi adalah seorang yang taat beribadah dan selalu memakai kalung salib kemanapun ia pergi. Suatu hari, ia menyewakan rumahnya yang kosong kepada pak Dendi. Pada saat itu, pak Audi bersikap sangat ramah. Bahkan, ia bisa langsung akrab dengan puteranya pak Dendi.
Hingga suatu hari, ketika pak Dendi sudah tinggal di rumah yang disewakan pak Audi, ia mendengar pak Audi marah-marah kepada salah seorang tetangga. Tidak jelas apa persoalannya. Yang pasti, pak Audi bersikap sangat kasar. Semua nama hewan keluar dari mulutnya. Tetangga yang dicaci maki pun hanya bisa diam. Yang mengejutkan adalah peristiwa itu terjadi setelah pak Audi pulang dari acara persekutuan di gerejanya. Pak Audi bahkan masih memegang Bible-nya.
Pak Dendi pun segera bertanya kepada tetangga yang dicaci maki oleh pak Audi tadi.
“Ada masalah apa sih, pak? Kok, pak Audi sampai marah-marah begitu?”
“Masalah kecil kok, pak. Pembantu saya lupa mengembalikan palu yang ia pinjam dari pak Audi.”
“Oh, cuma masalah itu. Tapi kok marahnya sampai begitu hebat ya?” Tanya pak Dendi lagi.
“Itu mah udah biasa, pak. Semua tetangga udah pada tahu kok tabiat pak Audi.”
Setelah kejadian itu, pak Dendi kembali mendengar celetukan dari salah seorang tetangga.
“Setan kok ngusir setan? Apa bisa?”
Rupanya, hari itu pak Audi baru saja dimintai tolong untuk berdoa mengusir setan dari rumah saudaranya.
Kelakuan pak Audi yang tak sesuai dengan simbol kristenan dalam hidupnya sungguh menjadi contoh yang buruk bagi orang-orang di sekitarnya. Kisah seperti ini tentu saja tak hanya terjadi di kalangan umat Kristen. Banyak umat beragama lainnya yang bersikap seperti itu. Dari luar mereka tampak taat menjalankan perintah agama, tetapi dalam kehidupan sehari-hari kelakuan mereka sungguh buruk.
Untuk itu, supaya hidup kita tak hanya bawa simbol, marilah kita hidup dalam kebenaran dan kekudusan.
Note : SIMBOL IMAN ITU BAIK, TETAPI SIMBOL IMAN TIDAK MENOLONG SESEORANG UNTUK MENANG DALAM PEPERANGAN HIDUP.
Komentar
nice..!
nice post
hehehe