CHITA DAN RIANA
Usia sudah setuwir ini tapi masih dianggap anak kecil yang harus dijaga, dilindungi dan selalu diatur. Hufff! Beteeeee deeeeh! Bayangken, seorang wanita karir yang sudah punya usaha sendiri dan sudah bisa mengatur para karyawannya meskipun cuma 2 orang, tapiiii....di rumah masih diatur ortu. sigh....mode on.
Well, that's a life. Chita hanya bisa membiarkan ortu (especially her dad) mengatur seluruh hidupnya. Lha, sekalinya Chita sempat protes karena tidak setuju dengan segala bentuk pengaturan aneh itu, sang ayah langsung bilang :
"Begini nih, kalo anak sudah bisa cari duit sendiri. Mentang-mentang udah sukses, jadi merasa pinter sendiri."
Alamaak! Capcai deh! Terpaksa, Chita mengalah dan mengikuti apa kemauan sang ayah.
Walaupun ia tahu, kehendak sang ayah itu tidak selalu benar. Tapi demi mencegah pertempuran dalam rumah mereka, Chita harus patuh.
Siapakah Chita? Chita tak lain adalah salah satu jiwa yang bersemayam dalam diri saya. Chita adalah saya. Chita adalah sisi lain dalam diri saya. Chita adalah sekeping beling yang menancap di hati saya, tapi tak pernah bisa saya lepaskan. Karena beling itu sudah terlalu lama mendekam di sana. Bila saya coba mencabutnya, saya pasti berdarah. Saya pasti menangis. Tangisan saya bisa membanjiri Jakarta dan sekitarnya.
Maka, saya biarkan Chita tetap hidup di sisi lain dalam hidup saya. Saya biarkan dia berdampingan dengan Riana, jiwa lain yang juga ada di diri saya. Riana yang gokil, ceria dan hobi melucu. Riana yang easy going, periang dan cuek abis.
Saya lebih suka Riana menguasai jiwa saya seutuhnya tapi saya tak bisa mengusir Chita. Chita akan tetap ada selama sang ayah masih saja suka mengatur hidup anaknya. Selama sang ayah selalu memperlakukan Chita sebagai boneka porselen yang harus dilindungi agar tak seorangpun melukainya.
Untunglah, Chita dan Riana bisa bersahabat dan saling melengkapi sehingga kehidupan saya menjadi seimbang. Riana sering menghibur Chita. Chita sering menasihati Riana agar lebih kalem dan tidak grasa grusu.
Tapi, kadang-kadang Chita tak sabar. Dia ingin segera lari dari sang ayah. Dia ingin merdeka. Chita ingin segera menyatu menjadi Riana sepenuhnya. Dia bosan dibelenggu oleh aturan-aturan yang memusingkan. Tapi, dia tak tahu bilakah semua itu menjadi kenyataan?
Chita bertanya pada langit biru, tapi langit membisu. Chita berteriak pada malam, tapi malam hanya mendesah. Dan....Riana pun muncul menutupi kegundahan Chita. Riana dengan sikap cueknya, menghapus air mata di pipi Chita.
Note : Postingan terjadwal yang ditulis setahun lalu saat hati sedang gundah.
Komentar
erm... satu tahun yang lalu yah mba'...
bagaimana keadaan sekarang???
Salam hangat selalu...
Aku dari sekolah dasar sampai menegah, semua ikut kata Bapak..jadi tidak ada pilihanku untuk masuk sekolah apa..
alhasil aku menikmatinya..karna tidak rugi juga utk mengikuti kata mereka
Orang tua adalah wakil Tuhan, walau bagaimanapun kita harus ttp sayang n menghormatinya...ya gak say? hehehe
mampir kerumah ku juga ya say...
Saya ga banyak komen ah, nanti kelepasan. ^^
Lagi malas update mbakkkkkkkkkkkk...
(T.T)
@fanda : yup. setuju. Tapi sbg manusia kadang2 bisa bete juga dong.
@Lisna : ya dong...tetap sayang dan hormat.
cerita punya 2 kepribadian mba :D
keren euy
kayag sodara kembar tp punya watak berbeda :D
eh fan elo punya kepribadaian multiple gitu?
cool hehehe
* nice note mbak...