AYAH YANG AROGAN
Yudo adalah seorang pria yang pemarah, kasar dan egois. Suatu hari, ia bertengkar dengan isterinya, Meinar. Di tengah pertengkaran, Yudo mengusir Meinar. Ia berkata :
"Pergi kamu! Tinggalkan aku sendiri dan jangan pernah kembali lagi ke rumah ini. Aku tidak butuh kamu! Tanpa kamu, aku tetap bisa hidup. "
"Baik! Kalau itu maumu, aku akan pergi. " Jawab Meinar tak kalah emosi.
Ketika Meinar sedang memasukkan baju-bajunya ke dalam travel bagnya, kedua anak mereka yang masih kecil-kecil datang menghampiri Yudo.
"Papa, jangan usir mama! Aku nggak bisa tidur kalau nggak ditemani mama. " Rengek si sulung Soni.
"Aku mau ikut mama. Aku benci papa. Papa jahat!! Papa udah ngusir mama. Papa jahaaat!!!" Si bungsu Tania berteriak sambil mencucurkan air mata.
'Kalau kalian mau ikut mama, sana pergi..Pergi semuanya!!! Aku nggak peduli!" Teriak Yudo kesal.
Tanpa banyak bicara, Meinar pun mengajak kedua anaknya pergi bersamanya.
Sejak isterinya pergi dengan kedua anaknya, Yudo tinggal sendirian di rumahnya yang besar. Seorang pembantu rumah tangga setiap pagi datang ke rumah itu untuk membersihkan rumah dan mencuci pakaian Yudo. Setelah beres, pembantu itu kembali ke rumahnya yang terletak di Gang kecil, tak jauh dari Kompleks tempat tinggal Yudo. Yudo sendiri lebih sering berada di kantornya. Pagi-pagi ia sudah berangkat dan pulang saat malam sudah sangat larut.
Hingga suatu hari, ketika baru bangun tidur ia merasakan tubuhnya panas dingin. Kepalanya juga sedikit pusing. Rupanya ia diserang demam. Tapi, tak seorangpun yang bisa dimintai tolong untuk mengambilkan air minum atau memijit tubuhnya yang sakit. Sementara pembantu rumah tangga yang biasanya datang setiap pagi, sedang pulang kampung.
Alhasil, Yudo hanya bisa berbaring di tempat tidurnya yang besar. Matanya terpejam tetapi ia tak bisa tidur sama sekali. Pikirannya menerawang jauh. Ia teringat isterinya Meinar. Mendadak hatinya diliputi rasa rindu kepada sang isteri dan anak-anaknya. Kesepian yang pekat bagai mengepungnya.
Ia merasa sangat menyesal. Tak seharusnya ia mengusir Meinar dan membiarkan Soni dan Tania ikut bersama ibu mereka. Tak seharusnya ia mengumbar kemarahan berlebihan.
Beberapa hari kemudian, setelah kesehatannya pulih, Yudo menelpon Meinar. Ia meminta maaf dan menjemput isteri dan anak-anaknya yang kini tinggal di Bandung, di rumah orang tua Meinar. Untunglah, Meinar adalah seorang wanita berhati lembut. Ia mau memaafkan suaminya dan keluarga muda itu berkumpul kembali.
Sejak saat itu, Yudo tak pernah mengusir Meinar. Jika ada konflik dalam rumah tangga mereka, ia berusaha menyelesaikan dengan bijak. Ia sadar bahwa Meinar dan anak-anaknya adalah orang-orang terpenting dalam hidupnya.
Sobat blogger tercinta, cerita di atas hendaknya menyadarkan kita bahwa seringkali kita meremehkan seseorang dengan berkata : "Aku tidak butuh kamu! Tanpa kamu, aku juga bisa hidup dan semuanya akan berjalan dengan baik."
Padahal, dalam kenyataannya kita sangat membutuhkan orang tersebut. Kita baru menyadari setelah orang itu pergi dari kehidupan kita. Untuk itu, mari kita belajar menghargai suami, isteri, saudara, orang tua, anak-anak dan para sahabat kita. Bahkan, pembantu rumah tangga, supir dan karyawan kita pun harus kita hargai karena tanpa bantuan mereka, kita tidak bisa menjalankan bisnis/pekerjaan kita dengan baik.
NOTE : TERKADANG KITA BARU MENYADARI PENTINGNYA SESEORANG SETELAH IA PERGI.
Komentar
Kita manusia yang hidup emang saling membutuhkan satu sama lain, dan kita tidak bisa hidup dalam kesendirian..karna itu kita butuh tetangga, teman, pendamping hidup...
manusia itu memang baru menyadari ada yg hilang setelah miliknya tdk ada :')
Nice post.
kita tak bisa hidup tanpa orang lain,,
^_^
Menyapa kawan dihari Sumpah Pemuda...
Mohon berpartisipasi dan dukungannya kawan...
Salam Kawan
kunjungan malam sobat...
mungkin klo lg sehat ja tu gx butuh orang laen. coba lg sakit pasti tu minta bantu ama orang. suruh beli obat tw temenin dia ke dokter lah