LAYAK DI HADAPAN TUHAN

Suatu hari, Ferdi mendatangi kakeknya yang tinggal di sebuah lereng gunung, di rumahnya yang sederhana. Kakeknya memang sengaja pindah ke desa terpencil begitu memasuki masa pensiun. Ia ingin menikmati masa tuanya di tempat yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota besar. Kakeknya memang orang yang sangat sederhana, meskipun dia memiliki banyak tanah dan harta.

Karena penasaran akan gaya hidup yang dipilih kakeknya itu, Ferdi pun bertanya :"Kek, kenapa sih kakek berpenampilan seperti ini? Padahal, di jaman sekarang orang berlomba-lomba untuk memiliki penampilan yang baik."

Sambil tersenyum si kakek melepaskan kalung yang dikenakannya dan menyerahkannya kepada Ferdi. Kakek berkata : "Bawa kalung ini ke pasar dan jual dengan harga satu keping emas."

"Yaah...kakek...! Gimana mungkin orang mau beli kalung ini dengan harga satu keping emas? Kayaknya kalung ini gak ada harganya deh." Ferdi berkata heran. Dia menimang-nimang kalung itu.

"Coba kamu tawarkan dulu..Belum dicoba kok sudah bilang gak ada harganya." Ujar si kakek sambil mengedipkan mata penuh arti.



Ferdi pun mengantongi kalung itu dan pergi ke pasar di pusat kota. Ia menawarkan kalung itu kepada pedagang tempe, pedagang daging ayam, pedagang kain dan pedagang buah-buahan tetapi mereka semua menolak membeli kalung itu.

Ferdi pulang dengan kecewa dan tubuh lelah. Dia mengeluh kepada kakeknya.
"Tuh, kan saya bilang juga apa, kek. Kalung ini gak ada harganya. Gak ada seorangpun pedagang yang mau membelinya."

"Kalau begitu, coba kamu tawarkan ke toko emas yang ada di pasar itu." Ujar kakek.

Ferdi mentaati perintah kakeknya. Ia kembali ke pasar dan menawarkannya kepada pemilik toko emas. Tak lama berselang, ia pulang menemui kakeknya.

"Kek..Kakek...saya berhasil menjual kalung itu. Ternyata pedagang di pasar tidak tahu menilai barang yang mahal. Hanya si pemilik toko emas yang mengerti akan nilai kalung itu. Dia berani membelinya dengan harga 10 keping emas. " Ujar Ferdi girang.

Kakek tertawa. "Nah, sekarang pertanyaanmu sudah terjawab cucuku....Kita tak bisa menilai orang dari pakaiannya. Para pedagang lain memiliki penilaian yang rendah terhadap kalung itu karena penampilan kalung itu tidak menarik. Mereka berpikir, kalung itu tak ada harganya sama sekali jadi untuk apa dibeli walau hanya dengan satu keping emas. Tetapi pedagang emas tidak. Ia bisa menilai dengan baik betapa berharganya kalung itu sehingga berani membelinya dengan harga 10 keping emas."

Mendengar penjelasan sang kakek, Ferdi pun manggut-manggut mengerti.

Well, jangan pernah menilai orang berdasarkan penampilan fisiknya. Karena itu adalah filosofi dunia. Jangan pula menentukan nilai diri kamu berdasarkan mewahnya tempat tinggal, pakaian dan penampilan fisik kamu,karena Tuhan tidak pernah menilai kamu berdasarkan itu. Tuhan melihat kedalaman hati seseorang. Ia melihat sikap hati dan apa yang kamu pikirkan. Begitu banyak orang yang memiliki pola penilaian yang salah baik terhadap sesama maupun diri sendiri.

Mari menilai segala sesuatu berdasarkan penilaian Tuhan, sehingga kita akan mengejar apa yang bernilai bagi Tuhan dan bukan apa yang bernilai bagi manusia. Niscaya, kita akan dapatkan penghargaan yang layak dari Tuhan.

NOTE : LAYAK DI HADAPAN MANUSIA BUKAN BERARTI KAMU JUGA LAYAK DI HADAPAN TUHAN.

Komentar

Gaphe mengatakan…
super sekali mbak..
yang buruk bagi kita pun sbenarnya belum tentu buruk juga dihadapan Tuhan..

ngomong2, jadi penasaran bentuk kalungnya gimana?
Rela Rahmah mengatakan…
padahal kalo si pedagang tempe ngebeli kalung itu dengan 1 keping emas, dia bisa punya untung 9 keping emas dong. waah rugi banget cuma gara-gara ngeliat luarnya doang..
Rezky Pratama mengatakan…
maaf mbak OOT
heheheh
andai saja punya kalung,,,,,
tapi kalung yang harganya 81 m,,,
sapa yang kira2 mau beli ya
hehehe
ivan kavalera mengatakan…
Yg nampak dari luar memang kadang menyilaukan ya?
ajurNA mengatakan…
Wah, ceritanya bisa buat pemanasan blogwalking nih mbak..........
sekalian segenap ajurna.net turut mengucapkan selamat hari raya idul fiti 1431 H..... mohon maaf lahir dan batin. maaf baru sempat BW setelah hari raya........
atanotonogoro mengatakan…
maaf lahir batin ya kak ☺ yang penting berusaha untuk layak dimata keduanya.
Joddie mengatakan…
Amiiiiiiiien... ^^
bliyanbayem mengatakan…
seperti kata pepatah... jangan melihat buku dari sampulnya!!
combrok mengatakan…
Itu kalo orang jawa bilang,kencono katon wingko..! tapi arti persisnya nggak ngerti aku..! Rajin komen ni mbak,mumpung ada bonus pulsa gratis,he heh..!
Ferdinand mengatakan…
Setuju banget.... untungnya Tuhan gak pernah mandang kita kaya manusia mandang kita hhe......
NOOR'S mengatakan…
Wah..renungan yang mantap ! kita memang tidak bisa menilai seseorang dari penampilan fisiknya saja...

Eh..kebetulan saya ada kalung dirumah nih, kalo saya bawa ke toko emas kira2 dapet 10 keping emas juga ngga ya ? hehehe

Salam hangat & sehat selalu...
Aulawi Ahmad mengatakan…
iya memang jgn suka menilai sesuatu dari tampilan luar ya :) btw tanah itu ceritanya dah dibeli fan :)
Iyut A.C.N mengatakan…
blog walking. salam kenal. pengen banget bisa nulis cerpen
Bekti mengatakan…
Ya rite, cara pandang Tuhan tentunya lebih akurat ya dalam menilai manusia?
warcoff mengatakan…
nah itu dia, aktanya ttd camat bukan notaris, rencananye mau di ttd notaris dulu stlh ada duit bru di sertifikat :)
attayaya lampu colok mengatakan…
tampilan luar sering sangat mengecoh
*mengangguk -angguk setuju*
bener2 mba aku juga gak suka sama orang yg suka menilai segala sesuatu dari fisik luarnya saja >,<

eh iya mba ap kbr
lama ak gak mampir kesini *kedip-kedip*
Dinoe mengatakan…
Cerita yg sangat bermakna mbak, memberi kita hikmah bahwa penampilan luar bukanlah ukuran segala-galanya
si biskut mengatakan…
emangnya kita selama ini begitu ya,memandang hanya dari luaran aja.Terima kasih mbak.
Linda Tan mengatakan…
Yup aku ikut setuju ama isi postingan M'Fan, kadang kita manusia dengan gampangnya menilai seseorang hanya dari penampilan padahal...semua harus berubah dan dirubah tentang bagaimana kita menilai seseorang.
Sukadi Brotoadmojo mengatakan…
Mencari kelayakan dihadapan manusia lebih mudah dibandingkan mencari kelayakan di hadapan TUHAN
Fanda mengatakan…
Betul. Tak masalah kalau orang lain tak bisa menghargai 'emas' kita, toh kita percaya Dia pasti melihat
Adi Yulianto mengatakan…
sayangnya, tidak semua manusia memiliki pemikiran seperti ini..:)

sungguh indah, seandenya semua berpikiran jangan lihat orang dari luarnya, fisiknya atau apalah yang terlihat. tapi coba lihat lebih dalam lagi..

salam kenal, dan ijin follow..^_^
Seiri Hanako mengatakan…
kelayakan di hadapan-Nya
membuatku merenung panjang....
exort mengatakan…
manusia dan Tuhan mempunyai penilaian masing-masing dan sering kali point-point saling bertentangan
AISHALIFE-LINE mengatakan…
Bagusnya luar dalam serasi ya,sist hehehe
the others... mengatakan…
Yups setuju... seringkali penampilan seseorang itu menipu.

Maaf mbak.., lama gak bisa BW..
Mood mengatakan…
Penampilan memang kadang menipu dan menyesatkan ya mbak.
andri K wahab mengatakan…
..."layak di hadapan manusia bukan berarti kamu juga layak di hadapan tuhan"... beuuhhh merinding pas ngebacanya mbak...

* ceritanya bgs sekali mbak...^_^

Postingan populer dari blog ini

MY FIRST KISS

Pengalaman naik taksi online IV : Supir ngotot mau lewat tol

CIRI-CIRI CEWEK SUDAH PUNYA PACAR