KISAH ERIC LIDDLE
Eric Liddle adalah seorang anak misionaris yang lahir di Cina tetapi bersekolah di Inggris sejak usia 7 tahun. Dengan demikian sebagian besar masa kecilnya dihabiskan jauh dari orang tua. Di sekolahnya, Eric dipandang sebagai murid yang berbakat di bidang olahraga dan ia didorong untuk menjadi atlet. Tak heran, jika Eric menjadi rajin berlatih fisik. Namun, selain latihan fisik, Eric juga melatih rohaninya dengan berdoa setiap pagi dan membaca firman Tuhan.
Ketika duduk di bangku kuliah, prestasi Eric di bidang olahraga kian menonjol. Ia sering memenangi berbagai kejuaraan dan menerima banyak sekali penghargaan sampai tidak ada lagi tempat untuk menaruh penghargaan yang ia terima.
Suatu hari seorang penginjil Skotlandia bernama DP. Thomson mengundang Eric untuk tampil di hadapan sekelompok orang dan memberikan kesaksian. Hingga suatu ketika ia tampil di Olimpiade Paris, orang banyak sudah mengenalnya sebagai atlet yang patut diperhitungkan, juga sebagai orang Kristen yang taat. Padahal ia selalu menolak berlomba di hari Minggu, tetapi ia tetap mendapatkan medali emas.
Namun ketenaran yang diperolehnya tidak membutakan hati Eric. Bahkan di kemudian hari dia memilih menjadi penginjil dengan segala konsekuensinya. Pada tahun 1937 Jepang menyerang, tetapi Eric tidak berusah meloloskan diri. Ia tetap tinggal di Cina melakukan tugas mulianya.
Pada tahun 1943, ia ditempatkan di kamp yang kondisinya amat buruk. Namun ia tetap setia melayani. Dia bersaksi, berdoa bagi yang sakit, dan melatih anak-anak. Ia melakukan semua itu di sela-sela rasa sakit yang sering dirasakan di kepalanya. Pada tahun 1945 ia meninggal dan hasil otopsi menunjukkan adanya tumor otak yang sudah semakin besar di otaknya.
Ketika salah seorang penghuni kamp ditanya kesannya terhadap Eric selama di Kamp, ia menjawab : “setiap pukul 6 pagi Eric bangun dan menyalakan lentera berbahan bakar minyak kacang. Meletakkannya di atas meja yang kecil yang cukup untuk menerangi alkitab dan buku catatannya. Di dalam hening pagi ia mencari Tuhan untuk mengawali harinya. Itu merupakan kebiasaan selama hidupnya.”
Kasih Eric kepada Tuhan membuatnya tak lagi menaruh keinginan dan pengharapan yang besar pada kenyamanan dunia. Dia tahu bahwa semua yang ada di dunia ini entah itu uang atau ketenaran, hanya bersifat sementara.
Dunia dan segala fasilitas yang ada di dalamnya akan lenyap, tetapi ketaatan kepada Tuhan membawa kita pada kemuliaan yang abadi.
NOTE : KEJARLAH SESUATU YANG BERNILAI KEKAL, KARENA SEMUA YANG ADA DI DUNIA HANYA BERSIFAT SEMENTARA.
Komentar
yang diperlukan...
btw, pa kbr? dah lama nih gak blogging :'(
salut untuk Eric yang mengabdikan hidupnya untuk sesama.
salam human. hahha