KARENA RAGU-RAGU
Dalam sebuah pendakian bersama tiga orang temannya, seorang pendaki gunung memutuskan untuk meneruskan pendakian terlebih dulu. Sementara teman-temannya maish tidur. Meskipun mendaki gunung pada malam hari sangat tidak lazim dan ia lakukan seorang diri, tetapi ia tetap bersemangat. Ia membawa tali dan pengait di punggungnya. Ketika ia naik, cahaya bulan membantu dirinya sehingga cepat tiba di atas. Rasa percaya dirinya makin besar ketika mendekati puncak, tapi sayang..kabut tebal dan salju mulai tampak di sekitarnya.
Cuaca memburuk dan tampaknya badai musim dingin sedang datang. Beberapa menit kemudian ia tak bisa melihat apa-apa lagi. Mau turun tidak mungkin. Akhirnya ia siapkan tali di punggungnya dan menancapkan beberapa pengait. Ia terus mendaki melalui batu-batu terjal dengan harapan badai akan berlalu. Sementara bergerak dalam kegelapan, ia tiba di sebuah batu. Saat itu ia putuskan untuk meluncur turun melalui punggung gunung. Karena tali-tali yang ada pada tubuhnya maka ia masih hidup meskipun saat itu tubuhnya menggelantung di udara dan tidak bisa melihat apa-apa. Tetapi, udara malam yang dingin menyusup ke tubuhnya hingga tulang-tulangnya mulai terasa kaku. Mau memakai jaket tebalnya tak mungkin lagi karena ransel dan perlengkapan lainnya telah tiada. Satu-satunya benda yang terselip di ikat pinggangnya hanya sebilah pisau. Dalam keputusasaan, ia berteriak : “Tuhan, tolong aku!!”
Ia merasakan dorongan kuat untuk memotong tali itu. Tetapi ia ragu karena jika ia memotong tali itu maka ia bisa terjatuh ke atas bebatuan terjal dan mati. Akhirnya ia urungkan niatnya itu.
Beberapa hari kemudian, seorang pendaki lain menemukan tubuh pendaki itu mati tergantung karena kedinginan. Padahal, jarak antara orang yang tergantung itu dengan tanah hanya beberapa meter. Seandainya ia potong tali itu, ia bisa tiba di bawah dan menyalakan api untuk menghangatkan tubuhnya.
Hal yang sama terjadi pada kita. Sering kita bertanya, mengapa seakan-akan Tuhan membisu dan membiarkan masalah kita tanpa penyelesaian? Mengapa Dia biarkan badai menghalangi perjalanan hidup kita? Kadang-kadang, keraguanlah yang membuat kita tidak merasakan pertolonganNya. Bagaikan besi, sesungguhnya Tuhan sedang menempa, membentuk dan mengasah kita agar kita percaya sepenuhnya kepadaNya. Jika kita percaya kepadaNya maka kita akan berani ‘memotong tali pengait’ itu, merelakan apa yang selama ini kita pegang erat, lalu jatuh ke dalam tangan belas kasihan Tuhan.
NOTE : KEBIMBANGAN SERING MEMBUAT KITA TAK BISA MELIHAT PERTOLONGAN TUHAN.
Komentar
begitukah mbak the maksudnya?
makasih sebelumnya..
Jangan pernah ragu dalam bertindak :)
Betul, itu salah satu ujian Tuhan untuk kita, dan kita harus meresponnya dgn cepat.. sebelum semua terlambat..
mbak, boleh diadaptasi jadi cerpen?
hmmm khan gelap, mana nampak
Untuk menjadi intan yang cantik, batu itu harus dipotong, dibakar, ditempa.. begitulah hidup.
No pain No Gain..
ciehhhhhhhhhhh
*panjang.
tapi bukannya mati itu sudah ketetapan Tuhan? dan dia yang mati kedinginan, jangan-jangan memang sudah takdirnya demikian.
maka dia tidak akan mati
kisah di atas dapat dijadikan pelajaran yang berharga
* Nice Post