CAPE OF GOOD HOPE
Cape of good hope alias Tanjung Harapan merupakan sebuah tanjung bebatuan yang terletak di pantai yang menghadap Samudera Atlantik di Afrika Selatan. Cerita Tanjung Harapan diawali dengan ekspedisi yang dilakukan Bartolomeus Dias dan rombongannya. Pada bulan Januari 1488, sebuah badai besar mengamuk di sepanjang sebuah tanjung selama 3 minggu lamanya. Ketika Diaz dan rombongannya bisa terlepas dari amukan badai itu, maka mereka berlayar ke arah utara lalu menyisiri pantai. Pada minggu ke tiga bulan Pebruari, mereka sampai di sebuah teluk yang berjarak kira-kira 170 mil dari tanjung tersebut. Mereka melihat banyak kawanan ternak yang sedang digembalakan oleh penduduk setempat. Rombongan itu terus berjalan menyusuri pantai, tetapi karena kekuatiran yang tiba-tiba datang menyelimuti banyak orang dari rombongan itu, maka Dias memutuskan untuk kembali.
Dalam perjalanan pulang, rombongan ini berhenti di sebuah tanjung yang lain dan menghabiskan waktu sebulan di sana untuk membuat peta. Beberapa waktu kemudian, rombongan kembali ke Lisbon, Portugal dengan membawa berita tentang penemuan "Cabo Tormentoso" atau Tanjung Badai. Tetapi, para donatur yang membiayai ekspedisi Dias (khususnya John II, Raja ke 13 Portugal) menyebut tanjung itu sebagai TANJUNG HARAPAN. Mereka memiliki harapan untuk menemukan jalan menuju India atau Dunia Timur.
Sepuluh tahun kemudian, Vasco da Gama mengikuti rute yang dibuat Dias, melalui Tanjung Harapan menuju India dan berhasil membuka rute laut bagi perdagangan rempah-rempah.
Jika kita perhatikan kisah ini, maka ada tiga pihak yang berbeda yang akhirnya menghasilkan karya besar bagi kepentingan banyak orang. Tentu saja ini menjadi keuntungan bagi perdagangan Portugal.
Bartolomeus Dias mewakili orang-orang yang yang membuka jalan. Walaupun berhenti di tengah jalan, tapi apa yang dilakukannya cukup membuka mata 'teman-temannya'.
Raja John II adalah mewakili orang-orang yang memiliki visi atau mampu melihat ke depan. Dengan kekayaan yang ia miliki maka Bartolomeus Dias bisa melakukan ekspedisinya.
Vasco da Gama mewakili orang-orang yang meneruskan perjuangan untuk mencapai visi.
Jika ketiga pihak ini berjalan sendiri-sendiri maka tidak akan menghasilkan karya besar. Bartolomeus Dias berhenti di jalan. Raja John II hanya punya visi dan tidak mengerjakan. Vasco da Gama belum punya rute perjalanan sendiri. Tetapi karena ada penyatuan ketiga pihak itu, maka hasilnya sungguh luar biasa.
NOTE : MATA MELIHAT, KAKI MELANGKAH, TANGAN BEKERJA, MAKA HASILNYA LUAR BIASA.
Komentar
Nice posting Mbak.
Salam hangat selalu.
mencari setiap amanat dri setiap tokohna.
q ja sampe g kpikiran :D
lam kenal smw
Salam hangat & sehat selalu....
maka dari itu human sulit komen
salam human. hahaha
salam human ,. hahaha