TERIMALAH DIA APA ADANYA

Riana sedang duduk di ruang istirahat setelah membawakan sebuah seminar bertema keluarga, ketika Lita menghampirinya dan berkata :

“Seminar yang kamu bawakan sangat memberkati para pendengar.”

Riana terdiam. Matanya mulai memerah dan butiran mutiara bening menggenangi pelupuk matanya.

“Semua orang pasti berpikir aku ini isteri yang baik dan bahagia.” Ujarnya.

“Riana, apakah kamu punya masalah serius dalam pernikahanmu? Mengapa kamu tiba-tiba menangis?” Tanya Lita, heran.

“Aku sudah menikah selama 12 tahun dan suamiku adalah pria yang sangat baik. Ia jujur, sabar, penyayang dan memiliki pekerjaan yang mapan. Ia juga penuh perhatian dan selalu menanyakan keadaanku. Ketika aku harus bepergian membawakan seminar, ia selalu menawarkan diri untuk menemani jika ia sedang punya waktu. Ia dengan sukarela menyiapkan alat peraga yang kubutuhkan untuk membawakan seminar, termasuk membawakan alat peraga dan perlengkapan lainnya ke tempat di mana aku membawakan seminar. Ia baik dan menyayangiku.”

“Nah, lalu apa yang kurang dari dirinya?” Lita bertanya, semakin bingung.



“Yah, dia memang suami yang sangat baik. Tapi, aku ingin sosok suami yang bisa memimpin dan bukan melayaniku. Aku ingin dia lebih terkenal dan menjadi pembicara yang hebat. Lebih hebat dari diriku.” Jawab Riana.

Lita memeluk bahu Riana dan memberikan nasihat yang cukup singkat.

“Ingatlah akan janji pernikahan kalian. Bukankah kamu sudah berjanji untuk menerima dia apa adanya?”

Riana terdiam sejenak. Ia mulai menangis dan sejak saat itu ia tidak lagi mengharapkan agar suaminya menjadi sosok yang ia inginkan. Ia mulai mensyukuri kelebihan-kelebihan yang ada dalam diri suaminya dan menerima segala kekurangannya.

Terkadang, kita memang tidak merasa puas dengan kebaikan, perhatian dan sikap melayani dari pasangan kita. Idealisme yang terlalu tinggi tidak jarang membuat kita menetapkan standar tertentu untuk teman hidup kita. Padahal, pasangan kita tak bisa menjadi apa yang kita harapkan, sehingga kita mulai membandingkannya dengan orang lain.

Suami atau isterimu pasti memiliki kekurangan, tetapi ingatlah bahwa dia juga memiliki kelebihan. Bantu pasanganmu untuk mengubah kekurangan di dalam dirinya menjadi kebaikan, tetapi terimalah apa yang tak dapat kamu ubah.

Kasih yang tulus membuat kita menerima ketidaksempurnaan pasangan kita dan tidak mempermasalahkan apalagi meributkannya. Bukankah kamu sudah berjanji untuk menerima dia?

Note : BUKALAH KEDUA MATA KAMU KETIKA MEMILIH TEMAN HIDUP, TETAPI TUTUPLAH SATU MATA KAMU KETIKA SUDAH MENIKAH.

Komentar

Dimas mengatakan…
klo udah menikah satu mata ditutup, biar nggak nyari2 lagi ya mbak..hehe..
Artikel Internet Online mengatakan…
sebelum menikah memang harus jeli dalam memilih pasangan hidup, karena pilihan kita yg akan terus menemani kita hingga akhir hidup..
non inge mengatakan…
kekurangan pasangan merupakan tempat unk kita melengkapi
begitu juga sebaliknya ^^

thx 4 share mba'...
Ivan Kavalera mengatakan…
Renungan yang sangat bermakna. Penting bagi yang belum menikah terutama saya hehehehe...
ellysuryani mengatakan…
Mantap. Apalagi note penutupnya mba.
BaS mengatakan…
Sorry......jika sebelum menikah kita harus jeli dan membuka kedua mata dalam memilih pasangan, kenapa setelah menikah kita harus menutup satu mata?
Bukankah itu agak kontradiktif dengan 'menerima pasangan apa adanya'?
pak tani dan sang sapi mengatakan…
duh no koment ah soalnya belom punya pacar sich.....
untuk mendapatkan cinta saja aku sulit.....
( gaya salah satu iklan tentang membaca )
HB Seven mengatakan…
betul mbak..ikhlas menerima segala kekurangan dan kelebihan pasangan ...
catatan kecilku mengatakan…
Pagi2 dapat renungan yang mencerahkan nih, mbak.
Itulah manusia, seringkali masih memanjakan ego tuk bisa mendapatkan segala hal sesuai dg maunya. ^_^
the others... mengatakan…
Duh Riana.., punya suami spt itu kok ya masih gak ngerasa bahagia sih..?
Wiwied mengatakan…
::: wow..... quote terakhirnya dalem banget ^-^

::: yang baru di home ^-^v, mampir yah
Main Kata mengatakan…
::: kapan yah punya pacar lagi T___T
xixixi,,,, so much for confession ^-^
Irma Senja mengatakan…
bagus sekali makna yg mba fanny tulis diakhir postingan mba.

itu yg seharunsya ya mba ^^

selamat pagi mba,..long weekend nih,mau kemana mba??
Unknown mengatakan…
Mbak Fanny... Novelnya sudah sampai dengan selamat...

makasih banyak ya mbak... :D

saya akan rajin2 membaca mulai sekarang. Paling tidak, novel Orange. hehehe
Unknown mengatakan…
HAHAHAHA...

becanda kok mbak. makasih ya mbak... senangnya... :D
Unknown mengatakan…
Hm..seandainya aku ini orang beken, aku nggak mau suamiku lebih beken dariku. Coz nanti resikonya, anak kami keilangan privacy lantaran kedua bonyoknya sama-sama beken.

Jadi lebih baik tetap punya suami yang juga punya kelebihan, tapi kelebihan itu ada pada bidang lain.
windflowers mengatakan…
mmhhh..hanya ketulusan yg membuat mampu menerima pasangan kita apa adanya...:) have a great day..
antoninilez mengatakan…
mengingatkan setiap pasangan akan janji pernikahan mereka...intinya setia sampe mati///
lucunya kadang ada istri/ perempuan yg konservatif kayak gitu, mau suami jadi kepala keluarga yg mentereng, istri nebeng...di jaman seperti ini?
tha mengatakan…
wah..... terimakasih untuk renungannya.
sangat menginspirasi..

^_^
Rubiyant|Photo mengatakan…
Bantu pasanganmu untuk mengubah kekurangan di dalam dirinya menjadi kebaikan, tetapi terimalah apa yang tak dapat kamu ubah.

aku setuju banget sama yang ini mba'....
karena pada intinya pasangan yang baik adalah yang saling membantu untuk kebaikan.
Unknown mengatakan…
@Bas : maksudnya gini : sebelum menikah, kalo cari pasangan tuh yg teliti dan jeli. jangan sampai spt beli kucing dalam karung. Tetapi, kalo toh akhirnya dpt kucing garong, padahal udah terlanjur married, ya..kita mesti tutup sebelah mata. mesti terima dia apa adanya. Masa mau cerai? kasihan anak2 dong.
attayaya mengatakan…
kalo nutup mata ntar kesandung
Aulawi Ahmad mengatakan…
menutup satu mata itu perlu ketika dah nikah, karena pada dasarnya gak orang yg bisa menerima apa adanya kekurangan seseorang, yg bisa dilakukan hanya "memahami dan memaklumi" :)
♥ria♥ mengatakan…
kalo ada yg ga bs nerima pasangan apa adanya
berarti dia sesungguhnya belum siap menikah :p
Mood mengatakan…
Hixz hixz, ..
Jd sedih ngebacanya, inget ma janji yg dl terucap didpn pak penghulu.
Satu mata, .. Okeh deh Mbak.
Zulfadhli's Family mengatakan…
I love u, my husband. Mmmuuuaaaccchhh :-)
kristiyana shinta mengatakan…
benar sekali itu aq setuju,,
tapi pasti sulit rasanya meneguhkan hati untuk memilih satu cinta,, hhmmpphh :)
Zippy mengatakan…
Wah..saya tersentuh bacanya.
Bener2 cerita yang menggugah hati.
Ini nih yang layak dibaca oleh mereka2 yang sukanya bercerai.
Dunia Hape mengatakan…
Jadikan kekurangan pasangan kita menjadi suatu kelebihan tersendiri.
Tapi emang, manusia gak ada puasnya.
Brrrrgh...
iswady mengatakan…
begitulah pernikahan, kita harusnya menerima kekurangan pasangan kita masing-masing
exort mengatakan…
mmmm...blm siap nih kayanya gw buat nutup mata, masih banyak pemandangan indah diluar sana yang harus dipandangi :)
Linda Tan mengatakan…
Like your last note, bener2 harus buka mata nich agar tidak salah pilih!!! Thanks yach Mba
Eysa mengatakan…
quotesnya indah.
ceritatugu mengatakan…
kalau semua istri atau suami selalu ingat akan janji perkawinan, kayaknya perceraian bisa dihindari
TUKANG COLONG mengatakan…
menerima apa adanya karena dia apa-apa ada.:)
Unknown mengatakan…
manggut-manggut,,, terimakasih mbak sharenya... :)
Falra mengatakan…
hmmm,,, makasiiih. :D
saya akan ingat nasehatnya mba'...

Postingan populer dari blog ini

MY FIRST KISS

Pengalaman naik taksi online IV : Supir ngotot mau lewat tol

CIRI-CIRI CEWEK SUDAH PUNYA PACAR