MARAH YANG TAK TERKENDALI

Alin adalah seorang janda miskin yang memiliki seorang puteri berusia 7 tahun, namanya Alisa. Untuk mempertahankan hidupnya, Alin membuat kue dan menjajakannya di pasar. Hanya itu keahliannya. Kondisi ini sangat dipahami anaknya, maka tidak ada istilah ‘bermanja-manja’ dalam hidup Alisa.

Suatu hari, di musim dingin ketika sudah selesai membuat kue, Alin melihat keranjang penjaja kuenya rusak berat. Maka ia bermaksud pergi ke pasar untuk membeli keranjang baru.

“Mama akan ke pasar sebentar. Kamu di rumah saja ya, nak. Jangan kemana-mana.” Pesan Alin pada Alisa.

Tetapi sepulang dari pasar, Alin menemukan pintu rumah tak terkunci dan Alisa tak ada di rumah. Alin marah-marah.

“Dasar anak bandel! Sudah hidup susah masih aja suka keluyuran bermain dengan teman-temannya.”

Segera setelah masuk rumah, Alin mulai menyusun kue ke dalam keranjang sambil ngedumel. Setelah selesai, dia keluar rumah bermaksud untuk menjajakan kuenya. Salju dan cuaca yang begitu dingin bukan penghalang yang berarti baginya, karena dia dituntut untuk mendapatkan uang guna menyambung hidupnya.

Ketika ia kembali dari menjajakan kue, Alisa belum pulang juga. Alin kesal bukan main.

“Kemana sih tuh anak? Awas! Akan kuhukum dia. Dia harus diberi pelajaran karena sudah melanggar perintah.”

Maka Alin mengunci pintu rumahnya lalu pergi ke pasar untuk membeli sayur mayur dan daging. Karena ia harus memasak untuk makan malam. Namun, ketika ia pulang dan hampir sampai di depan rumahnya, ia melihat seorang anak kecil tergeletak di depan rumahnya. Alin langsung berlari menemui anak itu dan ternyata anak itu adalah Alisa. Alin segera menggendong anaknya masuk ke rumah dan membaringkannya di atas ranjang. Dia berteriak memanggil nama anaknya dan menggoncang-goncangkan tubuh anak itu. Tetapi, Alisa tetap tidak bergerak. Dia sudah meninggal.

Alin pun menangis sejadi-jadinya. Dalam keadaan menangis itulah dia menemukan sebuah bungkusan kecil yang terjatuh dari tangan anaknya. Bungkusan itu berisi biskuit dan secarik kertas kecil yang bertuliskan :



“Mama pasti lupa kalau hari ini adalah hari ultahnya. Aku tak punya uang dan hanya biskuit ini yang bisa kubeli. Selamat ulang tahun, mama.”

Alin terhenyak. Sejuta penyesalan bagai merajam hatinya. Tapi semuanya sudah terlambat. Kemarahan yang berlebihan telah membuat nyawa buah hatinya melayang.

NOTE : MARAH ITU MANUSIAWI, TETAPI BODOHLAH ORANG YANG TERUS DIKUASAI OLEH KEMARAHAN YANG TAK TERKENDALI.


Komentar

Bener gan..., Saya setuju..., kemarahan yang tidak terkendali itu bukan saja merugikan orang lain tapi juga merugikan diri sendiri
Radhitya Notes mengatakan…
Iktu nyimak dulu gan...., by the way saja juga orangnya emosian...., hehehehehehehe

Tapi laptopku selalu bisa menenagkan hatiku...
ga ada laptop berarti masalah besar... * alh alah...
hihihihihihihi
mert pagi dan met beraktivitas Gan
Dengan lebih mendekatkan diri dengan yang maha kuasa maka dengan sendirinya Amarh tersebut diredam perlahanan....

Met Pagi Gan.....
A. Moses Levitt mengatakan…
ending kisahx mengharukan...jgn smpe istri gw suatu hari kelak lakuin kayak gitu...gw bisa gila...(kisahx keren)
Unknown mengatakan…
tragis banget mbak kisahnya. aku merinding nih,

makanya, jangan suka marah2 lagi ya mbak... loh? hahahaha
kristiyana shinta mengatakan…
ga tega aq ngebayangin kalo kejadian itu aq lihat di depan mata,, :(
sediihhh
warcoff mengatakan…
tq dah berbagi, sekalian bawain kopi :)
attayaya mengatakan…
marah itu bawaan setan
nietha mengatakan…
tragis benar nasib anaknya, padahal niatnya baik.marah tak terkendali memang nggak ada gunanya
WONDEFULL UMROH - SUGENG mengatakan…
Wah pasti nyesel ya...
kadang komunikasinya nggak nya,bung
kampret mengatakan…
sediiiihhh... :(

makanya byk yg bilang, "marah2 itu hanyalah sebuah kesia2an belaka"

semangaaatt!! :)
Aulawi Ahmad mengatakan…
makanya jangan mudah berburuk sangka :)
catatan kecilku mengatakan…
Mbak.., aku menangis membacanya..
Tragis sekali.. :((
Winny Widyawati mengatakan…
Betul mbak, aku jg gak kuat meneteskan air mata. Menyesal sekali....
zakiya mengatakan…
Alisa mati karena apa??
ada penyakit atau kedinginan..kalau daerah bersalju pasti alisa memang sdh memakai baju tebal dunk..

heheheehe...ceritanya enak tapi ada yg kurang rasanya...
shidiq OPEN MIND mengatakan…
marah...sifat amarah, ya bila tak mampu mengendalikan diri, marah bisa berakibat fatal...kasian si alisa, ortu kudu lebih memahami anak ni
elok langita mengatakan…
harus jadi penyabar.. ^_____^
Arum Suryaningtyas mengatakan…
Kemarahan hanya membuat semuanya tambah jadi berantakan... >.<
rita asmara mengatakan…
ceritanya begitu mwnywntuh mbak..
Eysa mengatakan…
Masih belum donk dengan penyebab kematiannya Alin Mbak, Emang kaena kesalahannya Ibunya yang Marah?
Yah moga saja semuanya saja bisa mengendalikan dengan bijak sifat Amarah.....
Oiya Mbak, bukan blognya achen atau buwel tapi blognya ney yang dibikinin achen untuk ney, namanya diganti EYSA-AFIF karena nama yang kemarin itu kenangan ceweknya achen, dan ney marah2 supaya namnya diganti menjadi perpaduan nama aseli antara ney dan achen ... :-))
Unknown mengatakan…
@eysa : bukan, tapi karena cuaca yg terlalu dingin dan mereka kan bukan orang mampu sehingga gizinya kurang mencukupi, makanya meninggal dunia.

btw, oh...pantesan mirip dg blog Achen.
exort mengatakan…
waahhh gw harus bisa mengedalikan amarah nih biar ga dibilang bodoh :)
Unknown mengatakan…
serem...

*kurangi marah*
Justmeilani mengatakan…
mbak sedih aq membaca renungannya so jd teringat kala aku sering memarahi anak2...

Postingan populer dari blog ini

MY FIRST KISS

Pengalaman naik taksi online IV : Supir ngotot mau lewat tol

CIRI-CIRI CEWEK SUDAH PUNYA PACAR