KETIKA SAYA MULAI MENGELUH

Pernahkah kamu menghitung berapa kali kamu mengeluh sepanjang hidupmu? Berapa kali kamu ngedumel ketika matahari bersinar terlalu terik sehingga kamu merasa gerah luar biasa dan rasanya ingin mandi 10 kali dalam sehari? Berapa kali kamu ngomel ketika hujan turun bagai ditumpahkan dari langit sehingga kamu basah kuyup di tengah perjalanan ke kantor, sementara kamu lupa membawa payung? Berapa kali kamu bersungut-sungut ketika boss-mu menuntut kamu untuk bekerja lebih baik lagi?

Setelah kamu mengingat dan mencoba menghitung jumlah omelan, dumelan dan sungut-sungutmu, coba hitung berapa kali kamu mengucap syukur untuk matahari yang telah mengeringkan semua pakaianmu? Berapa kali kamu berterima kasih untuk air hujan yang menyirami tanamanmu dan menyejukkan udara? Berapa kali kamu bersyukur telah mendapatkan pekerjaan permanen sehingga kamu bisa memenuhi kebutuhan keluargamu?

Mungkin, jumlah sungut-sungut dan omelanmu lebih banyak ketimbang jumlah ucapan syukur kamu. Itu wajar dan manusiawi sekali. Saya pun sering seperti itu. Ketika sedang bete menghadapi papa yang over protektif dan terlalu mau tahu urusan anaknya, saya sering ngedumel dalam hati. Saya mulai ngomel dalam diam karena saya tak berani melawan papa. Saya tak ingin ribut dengan beliau. Tetapi, hati saya mengeluh panjang lebar. Saya merasa hidup ini menyebalkan. Saya ingin berteriak tetapi tidak bisa. Saya mulai bertanya kepada Tuhan : “Mengapa Kau biarkan saya punya papa seperti beliau? Kenapa saya nggak bisa seperti si anu yang papanya sangat demokratis dan selalu memberi kebebasan penuh kepada anak-anaknya? Kenapa..bla bla.bla..Kenapa begini? Kenapa begitu? Sejuta tanya mendengung di benak saya bagai lebah kelaparan.

Dan, ketika saya curhat pada seorang sahabat blogger, dia hanya berkata :



“Gak usah mengeluh, bersyukur aja. Masih banyak orang yang lebih apes ketimbang dirimu. Eh, tapi gue juga nggak tahu ding mereka mengeluh apa enggak. He he he.."

Jawaban yang sederhana tetapi membuat saya tersentak. Yah, kalau dipikir-pikir, memang lebih banyak orang yang tak seberuntung saya. Misalnya : pemulung yang sering lewat di depan rumah saya, penjual jamu gendong yang suka keliling kompleks sambil membawa bakulnya yang lumayan berat, tukang ojek di depan kompleks yang kadang mendapatkan penumpang, kadang tidak, tukang bakso langganan mama saya yang harus teriak-teriak super kencang biar penghuni kompleks tahu kehadirannya dan akhirnya membeli baksonya, dan masih banyak lagi.

Saya renungkan, betapa mereka harus bekerja demikian kerasnya demi sesuap nasi. Harus bangun pagi-pagi, kepanasan di siang terik, kedinginan saat hujan lebat, sementara penghasilan tak seberapa. Bandingkan dengan saya yang kerja di rumah. Meskipun tanggung jawab saya sebagai pemberi jasa hukum cukup berat, tetapi….saya toh tidak harus kepanasan dan kehujanan. Saya juga bebas mengatur waktu saya. Mau bangun pagi, ayoo…bangun siang pun tidak ada yang melarang. Tinggal disetel sesuai kesibukan saya hari itu. Soal penghasilan, otomatis saya mendapatkan lebih banyak daripada mereka. Bahkan, saya bisa melancong ke negara-negara lain (meskipun tidak sering banget, sesuai budget deh).

Lalu, kenapa saya masih saja mengeluh dan ngedumel hanya karena sikap papa saya yang terlalu over protektif da mau ikut campur? Kenapa saya tidak bersyukur saja dengan apa yang Tuhan berikan kepada saya?

Sejak saat itu, nasihat sahabat saya selalu berdenging di telinga setiap kali saya mulai ngedumel dan mengeluh. Saya katakan pada diri saya : “Bersyukurlah selalu sebab masih banyak orang yang lebih apes ketimbang saya.”

Komentar

rita asmara mengatakan…
papa saya juga over proyective, mbak.. Waktu remaja saya suka ngedumel juga kenapa papa melarang saya ini itu.. Intinya apa yg saya lakukan dikontrol.. Setelah dewasa baru saya menyadari, itulah bentuk kasih sayang sejati seorang papa.. Coba kalo beliau tdk protective thd anaknya, entahlah.. Mungkin saya tidak akan menjadi seperti ini.. Thanks papa..
Unknown mengatakan…
kok py ortu protektif dibil apes? mungkin lebih cocok kalau dibilang kurang sreg, karena protektif itu (walau wujudnya gak enak) juga bertujuan menjaga kebersamaan, yg akan tersia jika hanya tinggal kenangan :)
Unknown mengatakan…
@aulawi : maksudnya bukan apes yg gimana. itu cuma ungkapan teman saya aja agar saya tidak terus mengeluh. gitu lho....
joe mengatakan…
mengeluh itu manusiawi kok, sebab kita tidak sesempurna itu ...
Mood mengatakan…
Gw masih suka ngedumel kl kepanasan.
Tapi sering jg mengucap kalimat syukur atas apa yg tlh banyak diberiNya.
Eh mungkin ada baiknya kl kita lebih sering bersyukur, krn itu bisa mencerahkan hati.
warcoff mengatakan…
yasud, nih tak bawain tekwan, model, martabak har ama kopi bali buat bekal wiken hehehehe
I'm The Chakiman mengatakan…
Mba apa kabarnya?
udah lama aku gak mampir kesini
jalani hidup dengan indah hadapi apa yang ada di depan mata

KEEP SPIRIT
God Bless You :)
cerita fiksi mengatakan…
lebih berkata bahwa saya dapat mengeluh sebab keluhan mampu memberikan sedikit gambaran kepda saya ttg objek yg menjadi keluhan tersebut. ia juga manyingkapkan cerita yg lain dimana cerita tsb terlahir kala keluhan terdengar
the others... mengatakan…
Papanya sayang banget tuh ama mbak Fanny, makanya seringkali overprotective..
Enak lagi mbak, disayang dan diperhatikan ortu.. :D
attayaya mengatakan…
yuup bener tuh fan
banyak org yang dalam keadaan tidak seberuntung kita
kristiyana shinta mengatakan…
yah aku juga masih suka ngedumel,, hmmphh payah banget,, susah buat terus inget kalo ngedumel tu ga bagus,,, :(
Ajeng mengatakan…
Mungkin jawaban saya setali tiga uang dg temannya Mbak Fanny. Bahwa kita sudah mendapatkan lebih dari apa yg bisa kita hitung..
Anonim mengatakan…
hebat postingan mbak fanny emank bagus banget...


aku baru sadar..
elok langita mengatakan…
elok juga sering banget ngeluh sampai lupa bersyukur.. T.T
TUKANG COLONG mengatakan…
tetep semangat ya mbak
Okezane mengatakan…
Kata2 bijak...

Selalu tengok ke bawah, kepada orang yang lebih tak mampu, untuk semua yang kita miliki

Maaf baru bisa mampir,
TS Frima mengatakan…
have a nice day :)
melynsalam mengatakan…
siplah,.
mari bersyukur, dimulai dari hal kecil yg kita dapat hari ini. =D
exort mengatakan…
terkadang nasihat nasihat akan lebih mengena bila diucapkan dengan bahasa yg simple
Linda Tan mengatakan…
yup kadang kita manusia suka lupa untuk bersyuur atas smua yang tlah Tuhan berikan.
Naila Zulfa mengatakan…
mengeluh...

rasanya tida hari tanpa mengeluh,,

punya ortu protektif kadang menyebalkan, tapi dibalik itu semua tersimpan sejuta sayang untuk kita,^^
Etha mengatakan…
semua itu pasti ad alasannya ... ^^
Meutia Halida Khairani mengatakan…
saya juga sering melihat tukang ojek, loper koran, tukang baso, dan beberapa orang2 lain yg hidupnya tidak seberuntung saya. kadang saya juga merasa ngga puas dan mengeluh. cuma ketika melihat orang2 itu, saya jadi teringat kalo saya sekarang ini jauuuh lebih beruntung daripada mereka..
Zulfadhli's Family mengatakan…
Wah Mba masih beruntung punya Papi yang protektif. Lah gw mah ga sempet ngerasain berlama2 disayang2 & dimarahin sama Papa gw karena keburu dipanggil Sang Khalik
Unknown mengatakan…
ngga bisa dihitung, tiap hari aja udh g bisa dihitung brp kali saya mengeluh...
ceritatugu mengatakan…
kalau dihitung tapi ngga pakai angka banyak ngeluhnya dari pada mengucap syukur
Umy Diary mengatakan…
salam kenal dari umydiary.blogspot.com
Arum Suryaningtyas mengatakan…
jadi nyadar mbak, tiap hari aku lebih bnyk ngeluh drpd bersyukur.. :(

Postingan populer dari blog ini

MY FIRST KISS

Pengalaman naik taksi online IV : Supir ngotot mau lewat tol

CIRI-CIRI CEWEK SUDAH PUNYA PACAR