PENGORBANAN SEORANG PENJAGA JEMBATAN

Sebuah jembatan putar membentang di atas sungai yang cukup besar. Jika tidak sedang digunakan jembatan ini dipasang sejajar dengan tepi sungai, sehingga kapal-kapal bisa melintas dengan bebas. Tetapi, pada waktu-waktu tertentu setiap harinya, ada kereta api yang lewat sehingga jembatan harus diputar 90 persen melintasi sungai agar kereta api bisa menyeberangi sungai melalui jembatan tersebut.

Penjaga jembatan selalu duduk di sebuah pos di salah satu sisi sungai sehingga ia bisa mengoperasikan alat pengontrol. Suatu sore ketika sedang menunggu kereta terakhir, dalam keremangan cahaya senja penjaga jembatan melihat lampu kereta api dari kejauhan. Ia melangkah mendekati alat pengontrol dan menunggu hingga kereta berada pada jarak yang tepat. Beberapa saat kemudian ia pun memutar jembatan dalam posisi melintasi sungai, namun betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa alat pengunci tidak bisa bekerja dengan baik. Jika jembatan tidak terkunci dengan baik, pasti akan goyang ketika kereta melintas dan ini bisa mengakibatkan kereta keluar dari rel dan tercebur ke sungai.

Padahal kereta yang akan lewat adalah kereta dengan penumpang yang cukup banyak di dalamnya. Serentak ia berlari ke seberang menuju tepian sungai lainnya, dimana terdapat alat pengunci manual berupa pendongkel. Dengan segenap tenaga ia menumpukan berat badannya untuk mengunci jembatan. Ia menekan dan harus terus melakukannya dengan sempurna karena banyak nyawa yang bergantung kepadanya.

Kemudian dari sisi jembatan yang lain, anak laki-lakinya yang baru berusia 5 tahun sedang melintasi jembatan sambil memanggil-manggilnya. Sang penjaga jembatan terkejut dan berteriak : “Lari, nak! Lariii…!!”



Tetapi kereta api sudah sangat dekat dan kaki kecil si anak tidak mungkin bisa mengalahkan kecepatan kereta. Ayahnya nyaris meninggalkan alat pendongkrak yang ditekannya dan menyelamatkan anaknya, tetapi ia sadar bahwa itu artinya ia akan mengorbankan banyak sekali nyawa yang ada di dalam kereta. Ia tidak punya cukup waktu untuk memilih, menyelamatkan orang banyak dalam kereta atau anaknya.

Kereta melintasi jembatan dengan aman, sementara sebuah tubuh kecil hancur di bawahnya. Penjaga jembatan berjalan lunglai pulang ke rumah dan menceritakan kepada isterinya. Meski hatinya hancur ketika mengorbankan anaknya tetapi ia harus melakukannya agar yang lain bisa hidup.

NOTE : TAK ADA KASIH YANG LEBIH BESAR, DARIPADA KASIH SESEORANG YANG RELA MENYERAHKAN NYAWANYA BAGI ORANG LAIN.

Komentar

Arjuna mengatakan…
TAK ADA KASIH YANG LEBIH BESAR, DARIPADA KASIH SESEORANG YANG RELA MENYERAHKAN NYAWANYA BAGI ORANG LAIN


yups bener sekali
begitu besar sekali pengorbanan penjaga itu ya,,,
nice..
alamendah mengatakan…
(maaf) izin mengamankan KETIGA dulu. Boleh kan?!
sebuah kisah yang membuat bulu kudu merinding.....
ceritatugu mengatakan…
selamat malam mba, baru bisa berkunjung nih. wah kasihan sekali si anak kecil dia hidup baru sebentar udah kembali lagi
achen mengatakan…
wah, membayangkannya penjaganya adalah saya, saya tak tahu bisa berkorban seperti itu nggak ya... duh....
buwel mengatakan…
thanks neh mbak sharenya...... sungguh mencerahkan..
warcoff mengatakan…
mengenaskan kalau ini kisah nyata ya...btw tq dah berbagi :)
aulawi ahmad mengatakan…
semoga kita bisa mengambil hikmahnya...
U-marr mengatakan…
wah sangat mulia sekali penjaga jembatan itu,
rela mengorbankan anaknya demi menyelamatkan orang banyak, walupun sebenarnya hatinya hancur setelah melakukannya..
Nikmatnya Hidup mengatakan…
sebuah pilihan yang sulit diambil..... menyedihkan
Sohra Rusdi mengatakan…
sebuah pengorbanan besar tak tahu apakah kita bisa sperti itu jika kita yang mengalaminya
Arum Suryaningtyas mengatakan…
mbak fanny.. kisahnya mengharukan sekali...
sampe merinding aku bacanya.. hikz..hikzz.. :(

setuju banget mbak sama note nya...
Kang Sugeng mengatakan…
emang keretanya ndak bisa direm ya Mbak, duh kasian anaknya jai korban kereta
Unknown mengatakan…
Yah emang sulit menemukan orang yang mau berkorban untuk kita apalagi dengan nyawa
ARUS RASYID mengatakan…
Cerita yang menarik. Andai politisi kita yang duduk enak di DPR/DPRD juga seperti penjaga jembatan itu, negeri ini tentu sudah lama sejahtera.
catatan kecilku mengatakan…
Wah mbak.., tercekat nafasku membaca kisah di atas.
Aku yakin... tak banyak orang yg rela berkorban spt penjaga jembatan itu.
Dan aku yakin... aku tak sanggup.
exort mengatakan…
jangan sampe suatu saat nanti gw ngalamin yg kaya gini deh bisa2 nanti gw gila karena nyelamatin ratusan nyawa rg tp ngorbanin anak sendiri
NIRMANA mengatakan…
heroik sekali yah,,,
Zulfadhli's Family mengatakan…
Pengorbanan yang sangat mulia. Enta gimana kalo kita2 berada posisi penjaga itu, apakah akan memilih menyelamatkan penumpang yang banyak ato anak darah daging sendiri??
rosanakmami mengatakan…
ceritanya bener-bener euy, bikin merinding,
kayaknya saya aja belum tentu bisa kayak gitu, hiks..

Postingan populer dari blog ini

MY FIRST KISS

Pengalaman naik taksi online IV : Supir ngotot mau lewat tol

CIRI-CIRI CEWEK SUDAH PUNYA PACAR