KISAH SI KIKIR
Prakata : Dapat imel keren lagi nih. Cocok banget dibaca buat yang merasa ‘kikir’. He he he..enggak ding, buat siapa saja agar menyadari bahwa kikir itu sifat yang enggak banget dueeh.
Setelah bekerja keras, berdagang dan meminjamkan (uang) si kikir telah menumpuk harta, tiga milyar dollar dan lain-lain asset yang tak ternilai harganya. Ia memiliki tanah luas dan banyak gedung, kendaraan mewah, dan segala macam harta benda.
Kemudian ia memutuskan untuk beristirahat selama satu tahun, hidup nyaman, dan kemudian menentukan mengenai bagaimana masa depannya. Tetapi, segera setelah ia berhenti mengumpulkan uang, ketika itu juga muncul Malaikat Maut di hadapannya untuk mencabut nyawanya.
Si kikir pun berusaha dengan segala daya upaya, agar Malaikat Maut yang pantang menyerah itu, tidak jadi menjalankan tugasnya. Ia berkata:
"Bantulah aku, hanya tiga hari saja, dan akan kuberikan sepertiga hartaku."
Malaikat Maut menolak, dan mulai menarik nyawa si kikir. Kemudian si kikir berkata lagi:
"Jika engkau membolehkan aku tinggal dua hari lagi, akan kuberi engkau 2/3 hartaku dari gudangku."
Tetapi sang Malaikat Maut tidak mau mendengarkannya. Bahkan ia menolak memberi tambahan tiga hari demi seluruh hartanya. Kemudian si kikir berkata:
"Tolonglah, kalau begitu beri aku waktu untuk menulis sebentar."
Kali ini Malaikat Maut mengizinkannya, dan si kikir menulis dengan darahnya sendiri.
"Wahai manusia, manfaatkan hidupmu. Aku tidak dapat membelinya dengan tiga milyar dollar bahkan seluruh hartaku. Pastikan bahwa engkau menyadari nilai dari waktu yang engkau miliki."
Komentar
Sebuah kisah yang mendorong kita untuk menjauhi sifat kikir. Makasih banyak mbak.
OOTS : Mohon maaf, koneksi saya lemot, dihapus aja komentnya yang dobel mbak.
Nice posting sob ..
pada saat tua nanti, ia baru akan menikmati hasil jerih payahnya, padahal belum tentu ia masih punya umur......
Btw bener yah jeng kalo gw ke Jakarta ditraktir duren beserta emang2nya. Hihihi. Oya, gw selama merid bari 1x bikin puisi Mba (kalo Mba mo baca silahkan buka file Januari, judulnya Sepenggal Puisi Cinta untuk Suamiku). Ga tau deh apa otak masih bisa bikin naskah teater :-)
Ia bagai pedang. Jika kita tak bijak menggunakannya, ia akan balik menebas empunya.
tak ada yang bisa menghalangi
harta tak ada artinya, saat - saat maut menjemput...
salam silaturahmi...
gw tertarik dengan novel Girls from Riyadh (eh betul kaga yah judulnya)? Kalo mo ngasih kado ultah boleh juga tuh ditambahin sama yang James Petterson Roses are Red (hihihi ngarep!!)
suka cerita ini...:)
salam kenal..
Bukan harta yang harus dikumpulkan selama kita di dunia ^_____^
jadi mengingatkan lagi...
hehe..
btw..pilihan novelku tetap..:)