MY FIRST KISS
Dimuat di MEDIA KAWASAN edisi Februari 2010.jpg)
Asal usul ide : Ide cerpen ini muncul ketika saya iseng-iseng nanya sama pembantu saya, gimana rasanya ciuman pertama kamu? Ha ha ha…dasar Fanny jail! Pengen tahu aja gitu lho. Malah, saya pengen juga tuh ngadain survei ke anak-anak remaja tentang ciuman pertama mereka. He he he….
Cerpen yang saya posting di sini lebih panjang ketimbang yang dimuat di majalah Media Kawasan, karena memang ini adalah naskah asli sebelum saya pangkas kata-katanya. Menurut Editornya masih terlalu panjang jadi saya edit lagi. Padahal, menurut saya lebih bagus naskah aslinya. Tapi, saya kan harus mematuhi syarat dan ketentuan redaktur.
Mata Gea membelalak. Mulutnya celangap lebar. Saking lebarnya, nyaris aja seekor lalat hijau yang tersesat nyelonong masuk. Untung tangan kanan Gea sigap mengusirnya.
“Hah? Jadi, udah setua ini elo belum pernah di kiss cowok? Emangnya, elo ngapain aja kalo pacaran sama si Rio? “ tanya Gea, heran ketika Ita, sohibnya menanyakan gimana rasanya di kiss cowok. .jpg)
“Ngobrol, diskusi about everything, makan bareng, nonton and kalo lagi ada pameran buku, kita suka hunting buku-buku murah tapi bermutu, “ jawab Ita kalem.
“Yaaaa….itu sih gaya pacaran jadul,! Mana seru? Lagian, si Rio kok pasif amat sih? Seharusnya sebagai cowok, dia lebih agresif sedikit. Masa, cewek secakep elo dianggurin gitu aja? Apa dia nggak tergoda buat nge-kiss elo sekaliii aja?” cerocos Gea penasaran.
“Mmm….anu…mmm…sebenarnya sih, Rio pernah nge-kiss gue. Tapi, di sini…” Ita menunjuk pipinya yang mendadak bersemu dadu. Terbayang dibenaknya saat pertama kali Rio nyolong cium pipinya. Rasanya, dunia jadi indaaaah banget! Hati meleleh, wajah menghangat, tangan dan kaki panas dingin. And, malunyaaaa….ampun deh! Sungguh suatu moment yang gak akan terlupakan.
“Aduh, si non ini! Kalo cuma di pipi mah biasa. Si Bleky aja suka nyium pipi gue. Yang gue maksud tuh, di situ!” Gea menunjuk bibir mungil Ita.
“Kalo di sini sih, belum pernah tuh.” Kata Ita polos. “Elo udah sering ya, Ge? “ Ditatapnya Gea dengan pandangan innocent-nya yang selalu menggemaskan hati para cowok.
“Bukan sering lagi. Segala macam gaya kissing udah gue praktekin. “ sahut Gea
cuek membuat Ita melongo ora mudeng.
“Emang, ada berapa gaya kissing?” tanyanya blo’on.
“Buanyak! Ntar, elo juga ngerti sendiri kalo udah ngalamin rasanya di kiss ” Gea tersenyum penuh arti.
“Kok, Rio gak pernah nge-kiss gue, ya? Apa dia gak sayang sama gue? ” tanya Ita nyaris tak terdengar. Dipandanginya Gea, jealous. Pasti Gea udah ‘kenyang’ di kiss sama Sean, boy friendnya yang orang Amrik itu.
“Elo mau di kiss sama Rio?” tanya Gea kemudian. Ita mengangguk malu. Pipinya memerah.
“Ya ampun, Ta! Belum di kiss aja muka lo udah pinky gitu. Gimana kalo udah di kiss beneran? Merah darah kali, yee?” Gea tersenyum geli melihat sobatnya yang lugu, rada pemalu, pendiam dan pemaaf itu. “Sini gue kasih tahu caranya “ Ujarnya lalu berbisik di telinga Ita.
Berulang kali Ita menghela nafas. Hatinya resah. Matanya menyimpan gelisah. Disibaknya rambut panjangnya yang indah. Diliuk-liukkannya bibir ranumnya yang berlapis lipstik merah meriah. Terasa lengket dan basah. Sebenarnya, Ita tak suka warna lipstik yang terlalu ‘wah’. Tapi, kata Gea, warna lipstik ini menggoda dan mengundang. Entah apa yang digoda dan diundang. Ita tak terlalu paham. Dia hanya percaya, dengan memakai lipstik ini Rio akan mencium bibirnya. Oh, bayangkan! Ciuman pertama yang akan ia rasakan dari orang yang sangat dicintai.
“What’s up, honey? Kok, duduknya gelisah begitu? Mau pipis ya?” Tanya Rio
sambil menutup Daftar Menu. Ditatapnya Ita sekilas lalu melambaikan tangan pada seorang waitress yang berdiri tak jauh dari meja mereka. “Mbak, saya pesan chicken steak dan lemon tea. Dan, untuk teman saya….Honey, what do you want?” Rio memandang Ita yang sedang menunduk membaca Daftar Menu tapi pikirannya melayang tak tentu arah.
“Salad dan sup aja. Minumnya, juice strawberry.” sahut Ita tak berselera.
“Hey, are you getting on a diet? Kamu sudah langsing kok. “ Rio tersenyum lembut. “Aku gak mau kamu sakit gara-gara diet lho. “ Jemari Rio menggenggam tangan Ita.
“Enggak…aku….gak sedang diet kok. Cuma….lagi gak nafsu makan aja.” Ita mendegut ludah. Duh, gimana mau makan? Kalo yang ada dibenaknya saat ini adalah…. Ups! Pipi Ita langsung merah. Untung, lampu di resto ini tidak terlalu benderang. If not, pastilah Rio akan melihat keanehan di pipi Ita.
“Mungkin kamu kecapean. Jadi, gak pengen makan. Belajarnya SKS sih. Sistem Kebut Semalam. Waktu aku kuliah dulu, biarpun gak ada ujian aku tetap rajin belajar. So, begitu ada ujian, aku nyante aja.” Rio menasihati. Huh, sok tua! Mentang-mentang umurnya lebih tua 6 tahun. Bukannya merhatiin nih bibir gue yang berkilau sensual, eh…malah ngasih petuah. Ugh! Sebel deh! Ita ngomel dalam hati.
***
“Masa? Dia gak merasa aneh sedikitpun ngeliat lipstik kinclong elo?” tanya Gea tak percaya. Ita menggeleng lesu.
“Wah, jangan-jangan dia buta warna.” Gea berkata asal. Ita mendelik.
“Gak mungkin! Dia sering kok muji gue cakep kalo pake baju warna pink. “
“Yah, buta warna kan macam-macam. Ada yang buta sama satu warna tapi sama warna lainnya enggak. Nah, si Rio pasti buta warna merah terang. Bukan warna pink. “
“Jangan ngelantur deh. Sekarang, elo punya cara lain gak?”
“Gak…..eh, punya deh! Gea gitu lho! Mana pernah kehabisan akal!” Gea mengedipkan matanya yang berbulu lentik aduhai itu.
Malam sudah cukup larut. Bulan seiris timbul tenggelam di antara pohon-pohon yang menjulang. Sebuah sedan warna silver berhenti di depan rumah Ita. Rio turun dari sedan itu dan membukakan pintu mobil bagi penumpang yang duduk di sebelahnya. “Kita sudah sampai, tuan putri….” Katanya sambil mengulurkan tangan kanannya dengan santun. Ita tersenyum. Disambutnya uluran tangan Rio. Rio menggenggam tangan Ita mesra. Diantarkannya sang kekasih sampai di depan pintu pagar rumahnya.
“Sampai besok ya ….” Rio menyibak poni rambut Ita yang berantakan tertiup angin malam. Ita mengangguk, kecewa. Harapannya pupus. Untuk ke sekian kalinya, dia tak berhasil mendapatkan ciuman pertamanya. Padahal, di bioskop tadi - saat layar menayangkan adegan romantis - Ita sudah beraksi. Menyandarkan kepalanya di dada Rio. Menggenggam lembut tangannya. Tapi….Rio hanya merengkuh bahunya. Membelai-belai rambutnya. Huh! Jangan-jangan, Rio emang gak cinta nih sama gue. Batin Ita, kesal.
“Kenapa? Kok, keliatan bete gitu? Masih gak mau pisah sama aku, ya? ” Rio tersenyum.
“Ah, gak kok. Ge-er amat sih. Udah ya, aku ngantuk nih. “ Suara Ita agak ketus. Dibalikkannya tubuh semampainya, siap masuk ke dalam rumah.
“Eeeh…tunggu dulu dong! “ Rio menarik tangan Ita lembut. Dengan enggan tapi deg-degan, Ita berdiri berhadapan dengan Rio. Is it the time? My first kiss. Hmm, jadi gak sabar deh!
“Ciuman selamat malamnya, mana?” Rio menyodorkan pipinya.
***
Ita menguap panjang. Aduh, rese banget sih! Pagi-pagi begini Rio sudah berkunjung. Ganggu orang tidur aja. Kangen sih kangen tapi apa gak bisa nunggu agak siang sedikit? Ini kan hari Minggu. Waktunya bobo sampai siang.
“Halo, puteri tidur! Enak banget sih bobonya. Mimpi ketemu aku, ya?” Rio menyapa Ita yang baru keluar dari kamarnya dengan langkah sempoyongan, mata belekan, rambut awul-awulan dan mulut bau naga.
“Ada apa sih? Aku masih ngantuk neh.” Ita melempar tubuhnya ke sofa panjang. Matanya terpejam seketika siap melanjutkan tidurnya.
“Duuh, cewek kok hobi bangun siang sih? Ini sudah jam 7, honey. Gimana mau nyiapin sarapan buat aku kalo bangunnya aja siang gini.” Rio menghampiri Ita.
“Emang, aku pembantumu? Mesti nyiapin sarapan segala?” Ita ngomel dengan suara kantuknya.
“Kamu memang bukan pembantuku. Tapi kamu bakal jadi isteriku. Soooo….”
“So, what? Langsung aja deh, mau ngapain pagi-pagi ke sini?” Tukas Ita jutek
tanpa membuka matanya sedikitpun. Oh, I really want to sleep.
“I just wanna…..” Sepasang tangan kokoh mengangkat kepala Ita, lembut. Menyibak rambutnya mesra. Ita membuka matanya, bibirnya ingin ngomel tapi bibir maskulin Rio telah mengusap bibirnya dengan lembut. Kantuk yang menggayut di mata Ita raib seketika. Gadis itu melotot kaget. Jantungnya berdebar riuh. Angin puting beliung menghantam dirinya. Tubuhnya mengejang sesaat sebelum lemas mendadak. Semakin lemas dan tak bertenaga saat ciuman Rio semakin mesra dan berirama. Sangat menghanyutkan. Dan, tanpa disadari - seolah mendapat energi - kedua tangan Ita terangkat. Merengkuh leher Rio dan bibirnya pun bereaksi. Membalas ciuman Rio dengan hangat. Hmm…untung, mama dan bik Sum lagi ke pasar. Kalo enggak…tak tahulah awak ni!
“Happy Birthday, honey….” Bisik Rio dengan mata penuh cinta saat bibir mereka saling memisahkan diri. Ita tersipu. Dirabanya bibirnya. Akh, kehangatan bibir Rio dan rasa mint dari mulutnya masih melekat. Well, ternyata kissing itu mengasyikkan (meskipun diantara bau jigong dan mata belekan), tapi…duh, kenapa tadi gue ngebalas ciuman Rio, ya? Bikin malu aja deh… Batinnya sebel. Senang betul, maksudnya.
“Kenapa? Mau nambah lagi?” Goda Rio, tersenyum geli melihat pipi Ita yang merah bak kepiting goreng.
“Iiih, apaan sih!” Ita mencubit pinggang Rio. Rio tertawa. Sepasang tangannya menangkup wajah mungil Ita.
“Kamu suka kado ultahku tadi?” tanyanya lembut. Ita mengangguk malu-malu.
“Sudah lama aku ingin ngasih kado spesial kayak tadi. Tapi…aku berusaha menahannya. Aku ingin memberikannya saat kamu ultah yang ke 20. Biar lebih berkesan gitu.” Jemari Rio mengusap pipi Ita.
“Kamu tahu gak, Rio….. Tadinya, aku pikir kamu gak cinta aku soalnya….kamu gak pernah nge kiss aku.” Ujar Ita jujur. Mendengar pengakuan Ita, Rio tersenyum. Akh, betapa lugunya gadis ini. Tapi, justru keluguannya yang bikin aku semakin mengasihinya, bisik hati Rio.
“Honey, rasa cinta gak selalu harus diungkapkan dengan kissing. Apalah artinya sebuah ciuman? For example, seorang wanita nakal dan seorang lelaki hidung belang bisa melakukan kissing anytime, bahkan making love. Tapi apakah mereka saling mencintai? Belum tentu ‘kan? So, jangan pernah lagi meragukan cintaku, sebab yang terpenting adalah hati yang tulus dalam mencintai. “ Tutur Rio bijak membuat Ita merasa sebagai wanita yang paling beruntung di dunia.
“Thanks ya, Rio…I’m so happy, “ Bisik Ita.
“You mean…happy for the kiss? ” Rio mengedipkan mata.
“Rioooo!!” Ita menggebuk bahu Rio, gemas.
Komentar
numpang blajar bole ?
:)
hahhh... jadi inget yang iya-iya aja nih Fanny. Tulisane easy going banget! Salam Kenal ya...
@mahesa : lam kenal juga.
@anitut : terima kasih.
@cerita tugu : hehhee..inget apa nih?
di kiss pas ultah... ga bakal terlupaka itu..first kiss pula. jadi pengen dicium... hahahahha
'hahahahahahaaa'... *ah achen jail... xixixiixxi*
jadi lupa
tapi hasilnya mantap neh sis
aku sukaaa
dr dulu pengen bs bikn cerpen tp ga bakat jadi ga jadi2 hehehe :P
tapi sampe sekarang belom pernah kissing juga neh aye..
pembantunya mbak fanny pasti gelagapan tuh jawabnya pas ditanyain mbak fanny soal first kiss_nya..
hahaaa.. :P
well, anyway, jdi kpengen blajar nlis sm kak Fenny nih. Bleh ya? ;)
no comment deh..
he..^___^v
hmm..kapan yaa??
bibir ini akan aku jaga sampai ada wanita suci yg sah untukku..
@achen : maksudnya senang betul gitu? wah, kalo pertama yg lain tuh apa ya?
i think nothing wrong with that.
Aku juga dikatakan lugu ama temen-temen but it's fine for me
jdi inget ama "my first love and my first kissing"...
heheheh........