RPM, BELENGGU DUNIA MAYA

Membaca berita-berita di media cetak tentang Rancangan Peraturan Menteri (RPM) Komunikasi dan Informatika tentang konten multimedia membuat kepala saya geleng-geleng dan bibir saya berdecak heboh melebihi bisingnya suara cicak kawin. Ck..ck.ck..Kenapa ya…’para orang penting dan berkuasa itu’ pinter banget menyusun Peraturan? Ada masalah sedikit, langsung bikin peraturan. Tapi, anehnya peraturan yang dibikin itu selalu saja tidak dianalisa dulu efek negatifnya. Yang dilihat cuma satu sisi.

Saya yakin, salah satu faktor disusunnya RPM adalah karena semakin banyaknya ABG dan mahasiswi yang dikibulin oleh para lelaki hidung belang via fesbuk. Belum lagi, situs-situs porno dan cyber crime (penipuan, dll) yang semakin marak. Itu baik dan sah-sah saja kalau Pemerintah memikirkan cara untuk menjegal situs-situs porno dan mencegah tindakan cyber crime semakin merajalela. Tetapi….sudahkah RPM itu dipikirkan masak-masak?



Konon, RPM hanya akan menjerat penyelenggara jasa multimedia untuk meminimalkan dampak negatif teknologi informatif. Tidak akan menjerat para pengguna jasa, seperti : pemilik blog, situs berita online, dll. Benarkah? Saya kok nggak yakin peraturan itu nantinya akan diterapkan hanya untuk penyelenggara jasa multimedia. Secara logika saja deh, masa penyelenggara konten (jasa multimedia) harus kena sanksi gara-gara konten yang dibuat oleh si pengguna jasa. Penyelenggara jasa multimedia juga nggak mungkin membaca satu demi satu isi konten yang ada, bukan? Kecuali untuk situs porno memang lebih mudah melacaknya. Toh, ketika membuat blog (misalnya : di blogspot) selalu ditanyakan apakah konten blognya termasuk situs porno.

Ingat saja kasus Prita Mulyasari. Hanya gara-gara curhat di imel, lalu curhatnya disebarkan, dia bisa jadi tersangka. Padahal jelas-jelas imelnya itu hanya berisi curhat, tidak ada maksud menjelek-jelekkan orang lain. Walaupun faktanya, pihak yang ‘dijelek-jelekkan’ itu memang ‘jelek’ a.k.a tindakannya salah. Nah, kalau imel berisi curhat saja bisa jadi kasus besar. Apalagi dengan adanya RPM. Bisa-bisa yang dijerat bukan hanya penyelenggara konten, tetapi juga para pengguna. Hebatnya lagi, semua jeratan sanksi itu timbul cuma karena komentar (pengaduan) seseorang yang – mungkin saja – tidak suka dengan tulisan si pengguna jasa. Sementara, tulisan si pengguna jasa itu sendiri sebenarnya tidak bisa dikategorikan sebagai tulisan yang (misalnya) mengandung unsur SARA atau pornografi.

Tidak heran, bila akan timbul sanksi-sanksi hanya karena pengaduan seseorang yang biasanya bersifat sangat subyektif. Duh, bila ini terjadi alangkah terbelenggunya para manusia yang sering berkeliaran di dunia maya Mau nulis yang rada-rada ekstrem, takut. Mau nyindir-nyindir sedikiiit saja, ngeri. Rasanya, hidup jadi terikat banget. Tidak ada kebebasan berpendapat. Tidak ada kebebasan mengritik. Padahal yang dikritik itu memang patut dikritik biar nyadar sedikit.

Hebatnya lagi, konon dalam RPM diatur mengenai keharusan minta ijin untuk membuat web. Keren banget ya? Lama-lama, bikin blog pun harus ada ijin. O la la…la…Padahal Surat Ijin Usaha Penerbitan saja sudah tidak dibutuhkan/sudah dibuang. Dan,kalau sudah urusan ijin, pasti UUD (ujung-ujungnya duit) juga. Yang kenyang so pasti instansi yang mengeluarkan ijin tersebut. Tau Sama Tau lah….

RPM juga membahayakan kebebasan pers dan bertentangan dengan UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Dalam pasal 4 UU itu diatur tentang kebebasan Pers dimana tidak ada sensor untuk pers. Jadi, kalau ada pengaduan mestinya berdasarkan UU No. 40 tahun 1999 itu. Bukan diselesaikan oleh Tim Konten Multimedia.

Perlu diingat, tingkat UU lebih tinggi ketimbang Peraturan Menteri. Yang diterapkan seharusnya UU, bukan Peraturan Menteri. Peraturan Menteri biasanya dibuat hanya melengkapi UU yang sudah ada. Jadi, alangkah baiknya bila RPM ini diselaraskan dengan UU Pers yang berlaku sehingga jelas aturan mainnya. Jangan malah tumpang tindih.

Well, sekian saja opini dari saya yang sok tahu ini. He he he..



Komentar

Elsa mengatakan…
sebenarnya, niatnya baik. itu patut kita hargai
cuma formulanya yang gak tepat.

aku sih berharap, jangan sampe ada kejadian lagi seperti UU ITE itu, yang seharusnya gak bersalah seperti kasus Bu Prita, divonis bersalah. itu karena UU nya yang kurang beres...
Edo Belva mengatakan…
wah, bahaya nih, ntar kalo kita2 salah tulis, bisa masuk penjara..serem dah..
padahal kita kan cuma ingin berpendapat, mengeluarkan apa yang ada di pikiran kita melalui sebuah tulisan. Dan media yang menurutku paling mudah untuk menyalurkannya hanya lewat blog..masak harus minta ijin segala sih, aneh2 aja..
Thariq mengatakan…
yah ternyata gagal...

btw kita liat aja (kata-kata paling bijak yang bisa kukeluarin...wakakakak) gimana hasilnya ntar..kalo memang begitu kita harus menggerakkan blogger anti RPM nih...
SunDhe mengatakan…
setuju ama Alrezamittariq!!
klo dah da hasilnya tar qt sepakat ajah menggerakkan blogger anti RPM. heheeheh
Anonim mengatakan…
jadi harap-harap cemas juga, padahal kita ngeblog kan tujuannya hanya ingin berbagi, sama sekali bukan ingin dipenjara kayak prita mulyasari...
NOOR'S mengatakan…
Upsss...galak juga ternyata ! tapi memang sepertinya RPM membelengu kreativitas, bang Pendi jadi ngeri2 kalau asal njeplak nih...
Aulawi Ahmad mengatakan…
yg penting kita sebagai blogger tunjukkan dan buktikan pada dunia (jhiaaa) bahwa apa yg kita buat adalah karya yg bermutu dan santun :)
Fi mengatakan…
aku juga heran...kenapa mesti diatur2 sih yang maya. Orang ngatur yang dunia nyata aja belum becus kok,
Arum Suryaningtyas mengatakan…
UU ITE aja masih terus jadi pro dan kontra kok ya udah mau ada RPM...

Hmm..katanya negara demokrasi..menghargai pendapat.. tapi kok malah bkin peraturan yang justru akan mematikan pendapat dan pemikiran orang lain gitu..
Riesta Emy Susanti mengatakan…
harus makin hati-hati niy...
^_^
Syifa Ahira mengatakan…
hihi.. blogger anti RPM boleh juga tuh..

kalo emang bener2 udah ditetapkan, bisa terancam juga kita. salah tulis dikit bisa masuk bui...
ga bisa bebas berekspresi lagi dong..
the others... mengatakan…
Aduh segitu ribetnya peraturan yang ada kini...
Aku sih pengennya bisa ngeblog dengan nyaman aja, toh aku tak membuat tulisan yang mencemarkan nama baik seseorang...
Arum Suryaningtyas mengatakan…
Mbak fanny.....ada award buatmu...
diambil yach... :D
Unknown mengatakan…
@ieyaz : makasih ya, nanti saya ambil.

@reni : iya, serem nih. makanya mesti lebih hati2.

@fi : yup...
melly mengatakan…
mudah mudahan yang buat undang2 sudah memikirkan nya secara matang...sehingga gk ada pihak yg di rugi khan
ellysuryani mengatakan…
Hehe, iya mbak pemerintah kita sering salah membidik mana yang lebih penting diurusin mana yang kurang penting. Beginilah kondisi kita.
WONDEFULL UMROH - SUGENG mengatakan…
Ada yang punya konsep RPM nya nggak? Saya diemail dong... biar saya komentarnya bener2 objektif, tidak sekedar apa kata orang. Saya nggak berani ikut berkomentar soale saya belum baca.
Ali Masadi mengatakan…
klo itu bener membelenggu kebebasan kita para blogger untuk menuangkan sesuatu di blog.. berarti harus dicegah.. tapi RPM itu isinya apaan sih aku belum pernah baca .. udah pada tahu blum point point yg diatur di dalamnya.. maksudnya draftnya kek apa sih..
exort mengatakan…
ayo dukung TOLAK RPM KONTEN di facebook
a-chen mengatakan…
moga ajah praktisi hukum kitah bener tangguh yah... hihihihih, ngoment opo aku iki...
buwel mengatakan…
memang bila dilihat niatnya baik ya mbak...
hmmm moga pinter dan cerdas wes yang bikin uu ini hingga tak menimbulkan kontroversi di belakang hari atau pun kesalahan pemahaman arti tentang hukum ini..
Sari mengatakan…
Mbak, twenks banget infonya, karena kebetulan aku blom begitu memahami tentang RPM ini.
RUANG RINDU mengatakan…
hemm.... saya juja gag setuju dgn adanya RPM. Keterlaluan itu ... aturan sih blh ada, tapi dgn adanya RPM itu kita jadi gag bebas berkarya. STOP RPM !!!!
lovepassword mengatakan…
Moga-moga emang niatnya baik.. :) Bukan karena sedang lagi bummnya ada kasus lalu memanfaatkan itu. Semoga...

Postingan populer dari blog ini

MY FIRST KISS

Pengalaman naik taksi online IV : Supir ngotot mau lewat tol

CIRI-CIRI CEWEK SUDAH PUNYA PACAR