JANGAN MENAHAN KEBAIKAN
Prakata : Seorang teman menceritakan kisah menarik ini kepada saya. Karena kisahnya begitu indah dan menyentuh, saya pun mencoba menuliskan cerita itu untuk teman-teman semua.
Seorang pengemis wanita yang sudah tua memasuki sebuah Toko pakaian terkemuka di Amerika. Toko tersebut dipenuhi dengan hiasan-hiasan indah dan lantainya dilapisi karpet mewah. Namun, pengemis wanita itu tak peduli. Dengan percaya diri, dia melangkah masuk ke dalam toko tersebut.
Pakaiannya yang kotor, compang-camping dan bau segera saja menarik perhatian orang di toko itu, termasuk seorang pendeta wanita yang sengaja mengikutinya dari belakang dengan maksud membela pengemis itu jika ada yang melarangnya masuk.
Di benak sang pendeta, sudah terbayang jelas kalau sang pengemis ini akan diusir oleh pramuniaga toko. Karena para pengunjung toko itu rata-rata adalah orang-orang kaya yang mengenakan pakaian bagus dan mahal. Namun, ternyata tak ada seorang pun pramuniaga di toko itu melarang sang pengemis untuk masuk ke dalam. Bahkan, ketika sang pengemis memegang sebuah gaun yang mahal, seorang pramuniaga dengan ramah menyapanya.
“Ada yang bisa saya bantu, bu?”
“Oh, saya ingin mencoba gaun ini.” Jawab sang pengemis sambil mengelus gaun mahal itu.
“Berapa ukuran ibu?” Tanya sang pramuniaga masih dengan suara yang ramah.
Sang pengemis menyebutkan ukurannya, dan sang pramuniaga mencari-cari gaun yang dikehendaki sesuai ukuran tubuh sang pengemis.
“Cobalah gaun ini.” Ujar sang pramuniaga setelah mendapatkan ukuran yang cocok.
Sang pengemis mencobanya tapi ia tidak membelinya karena memang ia tak sanggup membeli gaun tersebut. Tetapi, hari itu ia keluar dengan sukacita karena ia telah diperlakukan dengan sangat manusiawi, bahkan istimewa meskipun ia hanya seorang pengemis.
Pendeta wanita yang menyaksikan hal itu merasa penasaran dan bertanya pada sang pramuniaga.
“Mengapa kamu membiarkan pengemis itu mencoba gaun mahal itu?”
“Karena sudah menjadi tugas saya untuk melayani dengan baik.” Jawab sang pramuniaga sambil tersenyum.
“Tapi….pengemis itu tidak mungkin membeli gaun mahal itu.” Kata si pendeta lagi.
“Maaf, saya tidak mau menilai dan menghakimi pelanggan. Tugas saya hanya melayani dengan baik.”
Sang pendeta sangat terkesan dengan jawaban itu, sehingga ketika hari Minggu tiba ia berkhotbah dengan tema : INJIL MENURUT TOKO SERBA ADA. Khotbahnya sangat menyentuh dan diberitakan di surat kabar sehingga banyak orang datang berbelanja di toko tersebut. Pengemis wanita itu memang tidak membeli apa-apa, tetapi karena perlakuan yang ia terima, pada bulan itu hasil penjualan toko meningkat drastis dan keuntungan naik hingga 48 persen.
Bandingkan dengan para pramuniaga di Department Store ternama di Indonesia! Seringkali, kita yang berpenampilan sederhana (tapi bersih, tidak compang-camping dan tidak bau) dianggap remeh oleh mereka. Bahkan, dipandangi dengan curiga ketika tangan kita mulai menyentuh barang-barang mahal yang dipajang di counter mereka. Seolah-olah mereka berkata : “Megang-megang doang! Mampu beli gak sih? Tampangnya aja kayak orang bokek. Wah, jangan-jangan mau nyolong nih.”
Tapi itulah sifat manusia. Seringkali menghakimi seseorang hanya dari penampilan luarnya.
Komentar
Pembelajaran untuk para pramuniaga.
Kebaikan bukan diukur dari apa yang kita berikan, tapi berbuatlah yang baik untuk melayani sesama adalah sejatinya sebuah kebaikan.
Pasti deh, makin banyak yang seneng dengan pelayanannya...
Kita dapat mengambil suatu pelajarn penting, bahwa kita jangan menilai seseorang dari penampilan...
Dan..selalu bersikap ramah pada siapapun :)
Ternyata aku masih harus belajar banyak ya!
awal membaca tulisan ini aku berpikir pasti pengemis ini akan diusir oleh pramuniaga toko nya ternyata dugaanku salah.
hemm,...pembelajaran yg bgs mba.
kita tidak boleh menilai sesuatu dari penampilan luar nya saja...
what a great posting to share...
Nice story. xo
or.. jangan-jangan malah mengucilkan si pramuniaga yang mempersilakan si pengemis tadi masuk toko!? hehehe19
iya mbak, ternyata untuk berkonsistensi itu sangatlah sulit!?
kuliahku juga udah lumayan berat soalnya..:)
dan juga lupa dengan tugas pokok tuk melakukan apa yangg sudah menjadi tugasnya terkadang sering terabaikan...
nice posting embak...
Jika pemilik toko 'jahat' pasti pramuniaga tak akan berani memberikan pelayanan baik juga kepada seorang pengemis.
Makasih ceritanya mbak.. Bagus sekali.