SENJA HABIS HUJAN (Bagian II)
Kisah sebelumnya : Stella dan Nicky adalah murid-murid terpandai yang selalu mendapat juara umum di sekolah. Tetapi, mereka tidak pernah akur dan selalu bersaing. Mereka juga punya kelompok yang selalu mendukung mereka. Hanya 1 orang di kelas mereka yang bersifat netral dan tidak memihak salah satu dari mereka. Wita,cewek tomboy ini berusaha mendamaikan mereka. Apakah usaha Wita berhasil?
Dimuat di Album Cerpen Mitra
Lama, Stella merenungkan kata-kata Wita tempo hari. Sudah damai saja. Yang untungkan kamu sendiri. Lagipula si Nicky cukup tampan. Ugh! Si tomboy itu seenaknya aja bicara. Tapi… akh, mengapa harus menipu diri sendiri? Nicky memang tampan kan? Bah! Persetan dengan ketampanannya itu! Pokoknya aku tidak sudi minta tolong padanya. Apalagi disuruh damai, wuih… nanti dulu ya!
Kamu memang sombong Stella! Apa sih enaknya musuhan? Bisa peot kamu kalau terus-terusan keki, hanya karena nilai dia lebih tinggi. Uf! Stella memukul lengan sofa. Dia benar-banar bingung. Ingin baikan dengan Nicky tapi gengsi. Ingin terus musuhan alamat jatuh nilai fisikanya. Lagipula, dia sudah bosan dengan pertengkaran-pertengkaran itu.
Di tempat lain, di kamarnya yang super acak-acakan, Nicky berbaring menatap langit-langit kamar Ditelinganya berdengung ucapan Wita. Apa sih ruginya minta diajarin Stella? Ya…. apaaa? batinnya.
Kemudian tanpa disadarinya, wajah Stella bermain-main di pelupuk matanya. Wita bilang, Stella cantik. Uh, apanya yang cantik? Hei, Nick… jangan membalikkan fakta. Nyatanya, dia memang menarik, ayu dan ..Ops! Nicky memejamkan mata. Ia berusaha mengusir wajah Stella, tapi semakin dicoba semakin jelas paras ayu itu tergambar di benaknya. Senyumnya, matanya, bibirnya,.. akh, semua ini gara-gara Wita brengsek itu! Nicky melempar bantal gulingnya. Kesal.
“Apaaaa?! Damaaaiii?!” Melengking suara Inge mendengar kata-kata Stella.
“Hus! Pelan sedikit kek!” Stella mengibaskan tangannya. Inge menutup mulutnya.
“Eh, sorry. Abis aku tidak menduga akan begini jadinya,” katanya.
“Menurutmu, gimana?” Stella minta pendapat.
“Aku sih …ngikutin kamu aja!”
Pada saat yang sama, di rumah Andre.
“Akhirnya runtuh juga pertahananmu, Nick!” Andre meninju bahu Nicky.
“Ya, aku sudah bosan perperang terus. Kalau terlalu lama bisa sakit jantung.”
“Mm, aku sih mau saja. Kalau boss memang ingin damai, anak buah siap mengikuti,” kata Andre seraya membungkuk hormat.
oOo
Senja habis hujan.
Sebuah Honda bebek dan sebuah bajaj berhenti bersamaan di depan rumah Wita. Nicky turun dari boncengan. Andre memarkir motornya. Berjarak tiga meter, tampak Stella tengah membayar ongkos bajaj. Di sampingnya berdiri Inge.
“Mau apa mereka ke rumah Wita?” bisik Inge.
Stella menatap dua sosok tubuh itu. “Wah, gimana ya? Kita pulang aja yok. Nggak lucu kalau mereka tahu maksud kedatangan kita, “ Ujarnya gelisah.
“Eh, jangan dong. Kita ‘kan udah cape-cape kemari. Tunggu aja deh sampai mereka pulang.”
“Mm…… iya deh.” Stella mengangguk.
Di depan pintu pagar, ke empat remaja itu tertegun. Tangan Inge bersamaan dengan tangan Andre ingin memijit bel, ketika Wita muncul.
“Hei, ada apa nih?” katanya, “Wah, mau keroyok aku, ya?”
“Bukan Wit, kami….”
“Buka dulu dong pintunya,” tukas Nicky memotong ucapan Inge.
Bergegas Wita membuka pintu pagar. “Silahkan masuk tuan-tuan dan nona-nona,” katanya lucu.
Di ruang tamu yang sejuk, Stella duduk diapit Wita dan Inge. Dihadapan mereka dua buah sofa ditempati Andre dan Nicky.
“Bik, minumnya lima gelas! Yang dingin ya?” teriak Wita memerintah pembantunya.
“Ngga usah repot-repot Wit. Kami cuma sebentar kok,” Stella buka suara.
“Sebenarnya, ada apa sih? Kok rame-rame kemari?” Wita membetulkan duduknya.
“Anu… Wit… Nicky tidak meneruskan kata-katanya. Disenggolnya lengan Andre.
“Aku ingin membicarakan sesuatu tapi.harus empat mata.” Ujar Andre.
“Aku juga Wit,” Inge menukas.
Wita garuk-garuk kepala. “Waduh siapa duluan nih? Kamu dulu deh, An, Inge, sabar ya?”
Inge mengangguk.
“Yuk, An! Kita ke halaman belakang,” Ajak Wita menarik tangan Andre.
Beberapa menit berlalu. Andre kembali ke ruang tamu.
“Miss Inge!” panggil Wita. Lagaknya sudah seperti suster memanggil pasien yang sedang antre di ruang tunggu. Inge beranjak menemui Wita.
Tak lama kemudian, Inge dan Wita sudah berada kembali di ruang tamu.
“Oh, damai di bumi! Damai di hati!” seru Wita. Tangan kanannya meraih tangan Stella, tangan kirinya memegang tangan Nicky. Kedua tangan kawannya itu dipertemukan.
Nicky tersenyum menjabat tangan Stella. Stella balas tersenyum
“Nah, gitu donk! Jangan cekcok terus,” Wita tertawa. “Sebagai generasi penerus kita mesti bersatu, karena bersatu kita teguh bercerai kita….”
“Nikah lagi!” potong Andre.
“Hush!” Wita melotot
Dan, gelak tawa pun memenuhi ruangan itu. Ah, senja yang membawa damai, mungkin juga cinta bagi Nicky dan Stella.
Komentar
maaf ya baru sempat berkunjung. jarang online.
:)
jadian gag tuh si Nicky ma Stella mbak??hehe,,
mba fanny, maap yah baru berkunjung skrng..
kbar dede-nya baik2 aja mba, salam ktnya dr dede :D
cinta yang membawa damai... hihi
aku suka sama nicky,,
ada-ada aja nih
oh iya mbak, maaf baru bisa komen sekarang. internet di linggau lagi putus 2 hari kemarin :(