MAAFKAN SAYA, SOBAT.
Kemarin saya sempat chat dengan seorang sobat blogger cewek yang tinggal di luar Jakarta (masih di pulau Jawa sih). Dalam chatting itu, dia mengatakan akan ke Jakarta bulan Nopember nanti, khusus buat menemui saya. Tapi, karena dia seorang wanita yang masih single, dia meminta saya untuk menemaninya nginep di hotel. Dia nggak berani nginep sendirian di hotel walaupun dia pernah beberapa kali ke Jakarta.
Saya bisa mengerti perasaannya karena saya juga cewek single. Yasuds, saya menyanggupinya. Bahkan, saya bilang, akan menjemputnya di Bandara begitu ia tiba di Jakarta asal jangan malam aja. Secara saya tuh jarang keluar malam kecuali diantar supir atau kawan.
Rencananya, setelah jemput dia di Bandara, saya akan temanin dia check in di hotel, lalu saya akan ajak dia ke rumah. Saya akan kenalin dia ke papa dan mama saya. Biar papa saya lihat, ini lho teman cewek yang baru datang dari daerah yang harus saya temani nginep di hotel. Kalo enggak gitu, nanti papa saya pikir, saya nginep di hotel sama siapa lagi. Walah..walah..berbahaya kan!
Sebenarnya, kalau rumah saya ada kamar tamu, saya pasti akan memintanya nginap di rumah saya. Tapi hal itu nggak mungkin karena rumah saya kecil. Selain itu,saya masih tinggal sama ortu. Kalau ada tamu yang mau nginap di rumah, pasti harus minta approval ortu kan?
Malam harinya, saya cerita ke papa tentang seorang kenalan di blog yang mau datang. Saya jelaskan juga kalau saya akan nemenin dia nginep di sebuah hotel yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah. Tetapi, papa saya langsung melarang saya untuk nemenin kawan blogger ini nginep karena saya hanya mengenalnya via inet. Meskipun dia seorang teman cewek dan saya yakin banget kalau dia orang baik-baik.
Saya cukup kenal teman blogger ini tetapi papa saya tetap melarang saya. Karena sekarang ini banyak kejahatan terjadi. Begitu kata papa saya. Yah, sebagai anak saya harus patuh dong. Lagipula, apa yang dikatakan papa saya ada benarnya. Meskipun saya percaya teman blogger ini bukan orang jahat.
So, dengan sangat amat menyesal saya meminta maaf pada teman blogger tersebut. Untunglah dia mau mengerti. Lucunya lagi, dia pun dilarang sama mamanya ketika dia bilang nanti di Jakarta akan ditemani saya nginep di hotel. Alasannya sama pula. Kan cuma kenal di inet.
Saya tidak menyebutkan siapa nama teman blogger yang akan kopdar sama saya tetapi….lewat blog ini sekali lagi saya ingin minta maaf sama dia.
Saya percaya kamu,sobat. Tapi, saya tidak bisa meyakinkan papa saya. Lagipula, papa mana ngerti soal inet dan blog. Jadi, agak susah menjelaskannya. Tapi, saya yakin kalau suatu hari nanti kita pasti bisa kopdar. Doakan saja, saya – tiba-tiba – harus ke kota tempatmu tinggal karena ada acara penting dari organisasi profesi yang saya ikutin. Atau…tahu-tahu ada ajakan dari teman untuk melancong ke kotamu. Bukankah tak ada yang tak mungkin di dunia ini?
Komentar
pertamaaaaaaaaaaaaaaaxxxzzz
MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA
Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaank
I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll
sekali lagi Maaf yaaa..
pokoknya senang hati bisa dapat pertamaaxz di sini..
*di jewer*
Kadang untuk menyadari apa yang menjadi dasar pertimbangan orang tua, perlu waktu yang cukup lama bagi anak-anak untuk memahaminya bahkan tak jarang harus menunggu dulu sampai mereka menjadi orang tua.
Sikapmu itu sungguh bijaksana anakku.
lanjutkan perjuanganmu.
wakakakaka
mngkn kopdarannya di suatu tempat pd siang hari aja kali ya..
jd satu sama lain merasa aman dan bahagia plus damai dan sentosa... (hasyah!)
ntar pasti ada saatnya deh buat kopdar lagi...
eh kok jadi ngomongin kucing ya..
begini mbak..
kadang sebagai sahabat kita belumbisa memenuhi segala sesuatu yag diinginkan
sebagai sahabat pasti mengerti
coba kalo sobatnya dah di jakrta..kan jadi ribet ya mba....
semangad mbak
All the best Fan!
jelas bukan aku, kr aku ga ada bilang mu ke jakarta, lha wong jelas aku ga di jawa. hiii
Mungkin lain kali ketemunya di tempat netral. kek pos ronda atw gdng olah raga. Oya siapa tau jga dia itu sebenarnya musang hi.. takut diemut.