JERAT CINTA YANG KELIRU
Asal usul ide : Ketika masih bekerja, aku punya atasan yang lumayan keren. Teman-temanku banyak yang naksir sama atasanku ini. Padahal, dia sudah beristeri dan punya 2 orang anak lho. Saking kesengsemnya mereka sama atasanku, sampai-sampai salah seorang dari temanku pernah berkata begini :
“Fan, gue mau duduk di bangku elo deh. Asal bisa deket sama pak Danu (nama samaran atasan saya). “
Waktu itu, mejaku memang bersebelahan dengan meja pak Danu, tapi aku sih biasa saja. Sebab, sekeren dan seganteng apapun seorang cowok kalau sudah married berarti kartu mati. Enggak boleh diganggu gugat, meskipun hanya naksir. Tentu saja, pendapatku ini ditentang abis-abisan oleh teman-teman. Akh, dasar pada pecicilan. Apanya yang mau digebet coba? Wong, udah bekas kok. He he he…
Selain atasan yang keren, di kantorku dulu pernah ada anak baru dari Departemen marketing. Wah, cantik sekali deh! Rambutnya panjang sebahu, matanya indah, senyumnya apalagi. Pokoknya, kayak model deh. Semua anak cowok langsung melirik kalo dia lewat. Tapi, kerjanya nggak lama sih. Cuma 3 bulan terus resign. Gak tahu kenapa.
Pengalaman punya atasan ganteng yang ditaksir banyak orang dan teman sekantor yang cantik banget, akhinya menimbulkan ide cerpen ini. Padahal, antara mereka berdua nggak ada hubungan apa-apa. Tapi, dikait-kaitkan aja. He hehe…
Note : Judul cerpen ini pada awalnya adalah JATUH CINTA YANG SALAH (terinspirasi oleh lagu Agnes Monica, ‘Salah jatuh cinta’), tetapi oleh seorang teman editor dirubah menjadi Jerat Cinta Yang keliru. Pernah dipuji oleh teman editor tapi nggak bisa dimuat karena terlalu panjang.
Lalu, aku kirim saja ke majalah Sekar, eh dimuat. Tapi, perjuangannya panjang banget. Mbak Editor dari majalah Sekar memintaku mengedit cerpen ini karena masih kelebihan sekitar 800-an kata. Fiuh! Untunglah berhasil aku edit dan kurangi kata-katanya. Kalo nggak, bisa batal diterbitkan nih. Padahal, cerpen ini termasuk cerpen favoritku lho. Dan, ketika cerpen ini selesai kutulis, aku punya keyakinan kuat kalau karyaku ini pasti bisa dimuat. Ternyata keyakinan itu menjadi kenyataan.
Dimuat di Majalah SEKAR, terbitan tgl 23 September – 7 Oktober 2009
Lubuk hati Quinnetta
Boss datang. Sosok tegap itu melintasi mejaku. Hmmm….harum parfumnya yang lembut, tapi maskulin menerpa hidungku. Sontak, tanganku yang sedang sibuk mengetik berhenti di udara, dan tanpa peringatan lebih dulu, virus aneh itu menyerangku lagi. Jantung berdentam riuh. Perut bergolak. Seluruh persendian pun terasa mau lepas dari engselnya.
Aduh! Kenapa aku selalu begini setiap dia berada di dekatku? Baru menghirup parfumnya saja, perasaanku sudah jungkir balik. Apalagi, kalau diajak bicara dan ditatap matanya, hatiku bagai dilanda gempa bumi berkekuatan 5,9 Richter. Seperti kemarin, saat aku diajak survei ke sebuah pabrik kaca milik seorang prospek. Duduk berdua dalam mobil ber AC, tapi peluh terus membasahi punggungku. Jangan ditanya soal perasaanku. Bagai kapas yang melayang tak tentu arah. Belum lagi, mulut yang bagai dilem dan tenggorokan yang mendadak kering sampai harus mendegut ludah berkali-kali setiap menjawab pertanyaannya. Mungkinkah aku sudah jatuh cinta padanya? Nggak! Aku nggak mungkin jatuh cinta padanya! Dia itu bossku. Sudah beristri dan berbuntut pula. Bagaimana mungkin aku bisa mencintai pria yang sudah menikah?
Seumur hidup, aku selalu berusaha menaati perintah Tuhan. Tapi, sekarang aku yang takut berbuat dosa - sekecil apapun itu - harus berjuang mengatasi dosa yang bisa menghancurkan rumah tangga orang lain. Dosa yang belum terwujud dalam tindakan, tapi sudah gentayangan di benakku. Semua karena kehadiran Frans Ajinugroho, Manager Marketing yang baru 3 bulan menjadi atasanku.
Lubuk hati Frans
Akhir-akhir ini, aku merasa semangat kerjaku meningkat. Aku selalu lebih awal tiba di kantor dan lebih lambat pulang ke rumah. Bukan! Bukan karena aku baru pindah kerja dan menempati posisi bagus dengan penghasilan yang lebih besar di sebuah perusahaan finance yang sedang berkembang.
Aku bersemangat dan bergairah karena Quinnetta Ferrel SE, salah seorang staff
ku. Gadis berusia 23 tahun, fresh, smart, dengan kecantikan setara model. Bukan aku saja yang terpesona pada kecantikannya. Beberapa pria di kantorku (single maupun yang sudah beristeri) juga terpikat padanya. Malah ada yang berusaha merebut hatinya, membuatku dilanda api cemburu.
Honest! Sepanjang usia perkawinanku, aku belum pernah berselingkuh dengan wanita lain. Hati, pikiran dan tubuhku telah kuberikan seutuhnya untuk isteriku, Livy. Tapi sejak bertemu dengan Quinnetta, cinta dan kesetiaan yang selama ini kupertahankan tampaknya mulai agak goyah.
Padahal, Livy adalah isteri yang bisa dibilang sempurna. Cantik, baik hati, pengertian dan sangat mencintaiku. Sebagai ibu, dia sangat menyayangi anak-anaknya. Bahkan, demi bisa mengasuh sendiri dua orang putri kami, Livy rela melepaskan jabatannya sebagai Deputy Manager Finance di sebuah perusahaan asing. Meskipun saat itu dia sedang dipromosikan menjadi Manager Finance dengan gaji dan fasilitas yang menggiurkan. Tapi tulah Livy. Dia lebih mementingkan keluarga daripada karirnya yang menanjak. Mengingat semua pengorbanan dan pengabdian Livy, masih sanggupkah aku
berselingkuh? Walaupun perselingkuhan itu baru sebatas angan?
Keputusan Quinnetta
Sesungguhnya, aku betah sekali bekerja di perusahaan ini. Gaji lumayan. Fasilitas oke. Hubungan dengan para atasan dan rekan kerja berlangsung harmonis. Walau kadang ada konflik, tapi itu ‘kan biasa. Mana ada sih jalan tol super lancar di dunia kerja?
Namun, semua perasaan nyaman dan damai itu telah berlalu. Tepatnya, sejak sosok pak Frans menjadi ‘hantu’ di pikiranku. Yah, kuakui semakin hari rasa cintaku padanya semakin mendalam. Bila ia tidak masuk kantor entah karena sakit atau tugas ke luar kota, aku merasa kerinduan yang amat sangat menggigit kalbuku.
Parahnya lagi, aku mulai diserbu seribu satu hasrat. Aku ingin bersandar di dada bidangnya, mendengar detak jantungnya dan tak jarang aku membayangkan diriku bercinta dengannya. Oh, Nooo!! Aku harus berhenti memikirkannya! Aku tidak bisa
terus-terusan begini. 
Akh, kenapa aku harus jatuh cinta padanya? Kenapa aku tidak bisa mencintai
pria-pria muda yang sebaya denganku yang lebih ganteng, masih single dan banyak
berseliweran di kantorku? Hmm, mungkin itulah misteri cinta. Aku bukannya tidak pernah jatuh cinta. Aku pernah berpacaran dengan seorang teman kuliah, tetapi perasaanku pada kekasihku saat itu tidaklah sedalam ini.
Aku sendiri merasa heran. Mengapa aku merasa nyaman saat bersama pak Frans? Aku merasa dia begitu mature dan kebapakan. Bersamanya, aku merasa seperti seekor burung kecil dalam naungan kepak sayap rajawali yang perkasa. Aneh! Tapi, itulah kenyataannya.
Seringkali aku bertanya. Bagaimana mungkin aku bisa punya perasaan sedemikian kuatnya terhadap pak Frans? Aku baru mengenalnya selama 3 bulan. Dan, dalam kurun waktu itu, pembicaraan kami hanya berkisar pada pekerjaan. Jarang sekali, kami bercakap-cakap soal urusan pribadi. Apalagi, pak Frans termasuk manusia sibuk. Mana sempat sih ngobrol ngalor ngidul yang tidak penting?
Namun, naluriku sebagai seorang wanita mengatakan adanya perhatian lebih dari pak Frans kepadaku. Dia memang tidak banyak bicara. Tetapi, bila ada prospek kelas kakap yang akan mengambil kredit di kantor kami, dia sering melibatkan aku. Padahal, aku masih tergolong Staff Yunior di Departemen Marketing. Masa kerjaku di perusahaan ini cuma lebih tua 5 bulan ketimbang pak Frans.
Tak jarang pula, pak Frans mengajakku ikut survei ke pabrik-pabrik atau tempat usaha prospek kami. Berdua saja. Bayangkan! Betapa kikuknya aku duduk di sampingnya. Dan….betapa seringnya aku melirik ke samping, ke sosok gagah pak Frans, yang entah mengapa lebih suka mengemudi mobilnya sendiri. Padahal sebagai seorang Manager, dia bukan hanya mendapatkan fasilitas mobil tapi juga seorang sopir yang siap mengantar kemanapun ia pergi. Hmm, apakah karena ia ingin pergi berduaan denganku saja?
Yang lebih gawat, sepanjang perjalanan - yang mendebarkan hatiku - aku sering
dilanda keinginan gila untuk membelai dagunya yang persegi. Oh, my God! Aku tak bisa membiarkan pikiran-pikiran nakal itu memenuhi otakku terus-menerus. Maka, setelah mempertimbangkan masak-masak, aku pun memutuskan untuk resign. Aku takut, suatu saat aku tak bisa mengontrol perasaanku lagi. Sebab, aku tahu…kadang-kadang cinta tak kenal logika. Apalagi, jika ternyata pak Frans mempunyai perasaan yang sama.
Galau di hati Frans
Gila!! Aku pasti sudah gila!! Dalam sebulan ini, aku sudah membiarkan perasaanku pada Quinnetta turut andil dalam melakukan pekerjaanku. Aku lebih suka mengajak Quinnetta pergi survei ke tempat-tempat usaha prospek yang potensial daripada mengajak staffku yang lain. Aku juga lebih sering berdiskusi dengannya bila ada job-job besar.
Di malam-malam sepi, saat Livy dan anak-anakku sudah tidur, pikiranku berkelana ke sosok rampingnya. Sejuta rindu yang membuncah bagai ingin melumatku. Aku ingin membelai rambut hitamnya yang lebat dan panjang sebahu. Aku ingin mengecup bibir ranumnya. Aku ingin memeluk tubuh langsingnya yang belia. Aku ingin…
Stoooppp!! Stoooppp!!! Aku menggeleng kuat-kuat. Aku tidak boleh membiarkan imajinasiku yang liar menggerogoti cinta dan kesetiaanku pada Livy. Aku tidak mau melukai hati Livy. Aku sangat mencintainya, tapi aku juga tidak dapat mengenyahkan bayang-bayang Quinnetta dari benakku. Semakin aku berjuang untuk mengusirnya, semakin kuat rasa itu mencengkeram hatiku.
Oh, Tuhan….. apa yang harus kulakukan? Lima hari dalam seminggu aku selalu bertemu dengannya. Bagaimana mungkin aku bisa dengan mudah melepaskan diri dari jerat pesonanya?
Aku harus pergi
Semua orang termasuk pak Frans tampak terkejut dengan rencana pengunduran diriku yang tiba-tiba. Tapi, tekadku sudah bulat. Aku tidak mau terperangkap lebih dalam lagi pada jerat cinta yang keliru. Dan, saat semua mata memandangku heran, sarat dengan sejuta tanya, aku hanya memberi satu alasan : “Aku dapat pekerjaan yang lebih baik.”
Meskipun pak Frans mencecarku dengan berbagai pertanyaan plus setengah memaksaku untuk stay, aku tetap teguh pada keputusanku.
Kubiarkan ia pergi
Quinnetta mengundurkan diri. Benar-benar mengejutkan. Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba saja dia memutuskan untuk resign. Hanya dengan satu alasan klise : dapat pekerjaan yang lebih baik. Pekerjaan apa? Dimana? Apakah pekerjaannya di kantor ini kurang baik? Apakah gajinya kurang besar? Fasilitas tidak oke? Mengapa harus resign bila masalahnya cuma karena gaji dan fasilitas yang kurang? Bukankah sebagai atasannya, aku bisa membantunya? Aku bisa membicarakannya pada Direksi untuk menaikkan salary-nya, seandainya itu yang jadi masalah. Pertanyaan demi pertanyaan meluncur dari bibirku. Namun, Quinnetta hanya menjawab :
“Terima kasih atas perhatian Bapak. Tetapi, bukan gaji dan fasilitas yang jadi
masalah. Saya hanya ingin mencari pengalaman di tempat yang baru.”
Well, aku harus bilang apa lagi? Aku rasa, aku sudah cukup memaksanya untuk bertahan. Apakah aku harus terus mendesaknya sampai ia menyerah? Meskipun dia tergolong karyawati yang smart dan berprestasi tetapi…staff ku bukan hanya dia seorang. Banyak yang lebih potensial dan layak diperhatikan. Apa untungnya buat perusahaan jika aku ngotot memintanya untuk stay? Tidak ada. Kecuali keuntungan bagiku yang sudah terjerat pesonanya. Sebab, sesungguhnya aku tak ingin dia pergi.
Namun, sisi lain hatiku berkata : Mungkin ini jalan Tuhan. Dia tak ingin aku ‘jatuh’ semakin dalam. Mungkin, kalau Quinnetta tidak lagi bekerja di sini, rasa cintaku padanya akan memudar. Alhasil, dengan berat hati, aku mengabulkan permohonan pengunduran diri Quinnetta. Yah, aku rasa itu yang terbaik. Sebab, aku tidak bisa melarang seekor burung terbang melintas di atas kepala tapi aku bisa mencegah burung itu hinggap di atas kepalaku. Sama seperti aku tak bisa menghindari timbulnya benih-benih cinta di hatiku pada Quinnetta, tetapi aku bisa mencegah rasa cinta itu agar tidak berkembang biak.
Selamat tinggal, cinta yang salah….
Satu bulan sejak permohonan pengunduran diriku disetujui, the last day itu tiba. Aku pun menyalami pak Frans sambil dalam hati berjuang mengendalikan air mata yang hendak tumpah ke luar. Ah, selamat tinggal, cinta yang salah.
Komentar
Aku punya juga teman yang terjerat cinta yang salah... tapi dia tak bisa menghindar darinya, bahkan telah terjadi kedekatan selama 3 tahun lamanya.
Seperti yang aku ceritakan dalam "ketika cinta kembali"
fiuh pe ngantuk
saya setuju dengan mbak ..
"sekeren dan seganteng apapun seorang cowok kalau sudah married berarti kartu mati"
kalau baca judulnya "jerat cinta yang salah" aku jadi inget masa lalu mbak...
Ntar aku mau bikin juga ah, judulnya "Salah Pancingan" Wuakakak :D
tp cerpen.a bgs kok kak fanny!!! :)
bagus, sihh.. :))
out standing..!
standing party, alah!
cerpen yang sangat bener buat pria ganteng yang udah beristri , hayooooooooo capa yang ngerasa, aku pengen ketemu Quinnetta dech Bu', pengen ngasih dia ucapan , kamu hebat !! mustahil bangettttt!!
buat quineta cintanya lbh dr ingin d perhatikan,sedang sang manager
puber k 2
hahahaha hati2 buat laki2 ada masa puber ke 2 lhoooo
jadi aman dech
hehehehehe
udah di transfer nih kayaknya??hehehe
traktirrrrrrrrr
siiiippp
btw, salam kenal :)