OH, DONI ….. (KULIHAT CINTA DI MATANYA)
Asal usul :
Sebagian besar kisah ini diambil dari kisah nyata salah seorang sobat SMA-ku. Cerpen jadul banget deh. Dibuat waktu kelas 1 SMA atas permintaan sobatku itu.
Pesan yang ingin kusampaikan dalam cerpen ini adalah : LEBIH BAIK DICINTAI KETIMBANG MENCINTAI. Khususnya buat para cewek nih. Jangan sekali-kali mengejar cowok lebih dulu karena cowok bukan mahluk yang dikejar tapi dia diciptakan untuk mengejar cewek.
Lagipula, berdasarkan pengalaman dari orang-orang tua, seorang pria biasanya akan lebih setia kepada pasangan yang ia cintai lebih dulu. Apalagi bila wanita itu didapatkan dengan susah payah (susah ditaklukkan hatinya).
Btw, tokoh JILL di cerpen ini adalah saya sendiri yang memang pernah berusaha membantu Kely agar bisa jadian dengan Rio. Sayangnya, usaha saya gagal. Enggak bakat jadi mak comblang nih. Hiks….
Note : Judul cerpen ini sebenarnya adalah KULIHAT CINTA DIMATANYA, tetapi entah kenapa, dirubah oleh redaksi menjadi OH, DONI….. Malah, jadi aneh deh judulnya. Tapi gak bisa protes nih karena tahunya setelah cerpen dipublikasikan. Hiks…enggak rela deh..diganti judulnya.)
Dimuat di Harian Indonesia Minggu
Kely berusaha menekan gemuruh di dadanya, ketika Rio mengembalikan catatannya. Ada sesuatu yang aneh di hatinya. Sesuatu yang indah. Manis dan… ah… Kely serasa ingin berteriak pada seluruh dunia bahwa ia mencintai Rio.
“Trim’s ya, Kel,” Rio berucap singkat lalu meninggalkan Kely yang termangu, Ah, dia selalu begitu. Kely membatin. Dia selalu tak acuh. Kadang ramah kadang tak peduli.
Memikirkan hal itu Kely jadi resah sendiri. Dihampirinya Jill yang tengah mencatat rumus-rumus kimia.
“Jill,” panggil Kely sambil meletakkan pantatnya, duduk pas di sisi Jill.
“Hm,” Jill mengangkat wajahnya sebentar lalu menulis lagi.
“Jill, dengar-dengar Rio sudah putus dengan ceweknya ya?” Kely berkata setengah berbisik.
Kali ini Jill berhenti menulis. Dicopotnya kaca mata minus duanya. “Kamu dengar dari siapa Kel?” tanyanya sambil melap kaca matanya.
“Dari Lani,” jawab Kely. “Eng… benar ya mereka sudah putus?”
“Kurang tahu ya. Rio nggak pernah cerita sih.”
Kely diam.
“Jill, aku mau bicara empat mata denganmu. Ke kantin yuk,” katanya kemudian.
“Enam mata, bukan empat,” Jill memakai kaca matanya. Kely tertawa, Ditariknnya tangan Jill. Beriringan mereka menuju kantin.
“Mau makan apa Jill?” Kely buka suara setibanya mereka di kantin.
“Minum aja deh. Es Jerman.”
“Es Jerman?” Kening Kely berkerut. Tak mengerti.
“Jeruk manis non.” Jill berkata sambil menowel hidung Kely yang bangir.
“Oke, es jeruknya dua pak!” Kely memesan pada pemilik Kantin.
“Sebenarnya kamu mau ngomong apa sih?” Jill bertanya tak sabar sementara menunggu pesanan mereka.
Kely menoleh ke kiri dan ke kanan seolah takut akan ada yang nguping pembicaraan mereka, lalu membisikkan sesuatu di telinga Jill. Sesaat Jill melongo. Ditatapnya Kely tajam-tajam.
“Serius nih?” tanyanya.
“Iya.” Kely mengangguk. “Kamu mau bantuin aku ‘kan?” Tanya gadis itu setengah mendesak.
“Siplah..!” Jill mengacungkan jempol kanannya. “Tapi…gimana caranya?”
Kely tersenyum. Wajahnya membias ceria.
“Gini.. kamu cari informasi tentang Rio, apakah benar dia sudah putus dengan ceweknya. Gampang ‘kan?”
Sejenak Jill termangu sebelum berkata :
“Ok. Titah tuan putri akan segera hamba laksanakan.”
***
Bel tanda istirahat berdering. Jill bergegas menuju aula. Di belakangnya, Rio mengikuti. Mereka sudah janjian mau ketemu di aula.
Di aula hanya ada satu dua orang siswa sedang mendiskusikan sesuatu. Jill mengambil tempat agak di sudut. Gadis itu duduk berhadapan dengan Rio.
“Ri..langsung ke pokok masalah nih.” Jill membuka percakapan. “Mmm..… aku mau… tanya tentang…. hubunganmu dengan Ira.”
“Maksudmu?” Tanya Rio, agak terperanjat.
“Ng .. anu … kalian udah putus ya?”
“Kalau iya, kenapa?” Rio bertanya setengah menggoda. “Mau mengganti kedudukan Ira, ya?”
“Sembarangan! Bukan aku… tapi …” Jill tak meneruskan ucapannya. Ia tersenyum penuh arti.
“Siapa? Emang ada yang naksir aku ya? Siapa sih? Cantik nggak orangnya?” Tanya Rio penasaran. Jill tersenyum geli.
“Orangnya begini deh! “ Jill mengacungkan jempolnya, “Tapi … apa kamu sudah siap mencari pengganti Ira? Eh, tunggu dulu. Kalian udah putus ‘kan?”
“Ya, kami sudah putus. Tapi…untuk saat ini ….aku ingin bebas dulu.”
Jill mendegut ludah. Wajahnya membiaskan kekecewaan.
“Hm, kalo gitu ya… udah deh.” Uarnya lalu bangkit dari duduknya.
“Jill! ” Rio menarik tangan Jill. “Kamu belum memberi tahu siapa gadis itu?”
“Yee…. rahasia donk!” Jill tersenyum sebelum meninggalkan Rio yang termangu bingung.
***
“Payah! Dia masih ingin bebas, Kel.” Lapor Jill keesokan harinya ketika Kely berkunjung kerumahnya.
“Dia sudah tau kalau aku yang ….”
“Enggak. Aku gak sebodoh itu, Kel. Aku belum ngasih tau dia siapa nama cewek yang naksir dirinya saat ini.”
“Syukurlah. kalau enggak.. mau taruh di mana nih muka?” Kely menarik nafas lega. Jill tersenyum.
“Sekarang apa langkah kita selanjutnya?” tanya Jill.
“Langkah apa lagi? Sudah jelas dia masih ingin bebas!”
“Tapi, dia belum tahu kalau kamu yang naksir. Nah, siapa tau diam-diam dia juga naksir kamu…”
“Enggak mungkin!” Kely menggeleng.
“Aduh…. jangan putus asa dulu donk! Kita pake taktik supaya dia tau kalau kamu ehem..ehem…sama dia, oke?”
“Iya… tapi gimana caranya?”
“Tolil amat sih! Sini aku bisikkin!” Jill medekatkan tubuhnya ke arah Kely.
Beberapa saat Kely terdiam. Lalu mengangguk setuju.
“Nah gitu donk!” Jill tertawa. “Jamin deh pasti kamu jadi doinya Rio.”
***
Sore hari, Rio baru saja pulang dari latihan karate ketika adiknya mengulurkan sepucuk surat.
“Dari siapa Ning?” Rio membalik-balik amplop merah jambu tanpa nama si pengirim itu.
“Gak tau.., Lupa nanya namanya. Tapi..yang ngasih sih cewek cakep. Pacar kakak kali.” Ning tertawa menggoda.
“Hush, anak kecil! Jangan sok tahu,” Tangan Rio mengacak-acak rambut Ning. Ning menepis tangan kakaknya.
“Awas lho, nanti Ning lapor sama mama kalau kak Rio pacaran!” Katanya.
Rio tertawa, “Silahkan anak manis, kak Rio juga akan lapor kalau Ning enggak tidur siang kemarin.
“Jangan dong, kak….” Ning merengek.
“Ok, seri satu satu ya?”
“Ya deh. Ning janji nggak lapor!”
“Nah, sekarang sana pergi. Kak Rio mau baca surat nih.”
“Oke, boss!” Ning memberi hormat. Rio tertawa geli melihat tingkah adiknya yang masih duduk di bangku SD kelas 5 itu.
Di kamarnya yang bercat hijau muda, Rio membaca surat berukuran mini itu. Kertas yang dipakai tampaknya bukan kertas surat tapi kertas bekas sobekan buku Agenda. Isinya begini :
Rio yang …. (isi sendiri deh)
Di sini,
menanti sekuntum bunga
dalam sunyi kalbu
bila sang kumbang datang
dengan …. kasihnya?
Bingkisan buat yang sedang berulang tahun.
Dari : Hati yang menanti.
“Hmmm …. siapa yang nulis surat ini ya?” Tanya Rio pada dirinya sendiri. Dia tampak bingung, tapi…ada sebersit rasa senang di sudut hatinya.
***
Pelajaran Geografi sedang berlangsung. Suasana kelas hening. Anak-anak kelas 2 F 2 sibuk mencatat. Rio hendak meminjam penghapus ketika matanya menangkap sesuatu di meja Kely. Sebuah buku Agenda. Rio membelalakan matanya lebar-lebar.
“Jangan…jangan.. Kely yang menulis surat itu…” Rio menebak dalam hati.
“Tapi, apa iya dia? Akh, aku harus menyelidikinya.”
Ketika jam istirahat pertama tiba, Rio segera menghampiri Kely yang sedang bercakap-cakap dengan Jill.
“Kel trim’s ya. Aku sendiri lupa dengan ulang tahunku!” katanya sambil tersenyum. “Puisimu bagus, romantis lagi,” lanjutnya dengan nada penuh arti.
Kely terkejut mendengar pujian Rio. Hatinya seketika berdendang riang. Sementara itu, Jill tersenyum menggoda.
“Ri…tau nggak si Kely lagi jatuh cinta lho!” Jill berkata, memancing.
“Oh ya? Sama siapa?” Rio puta-pura enggak tau.
“Ada deeeh…..” Jill terkikik. Kely tersipu, malu.
“Tuh… Kely jadi kayak apel mukanya. Kamu sih, Jill.” Rio menyalahkan Jill.
Ampuuunn!! Kely mengeluh dalam hati. Malunya makin menjadi. Dan..Rio sangat paham apa arti wajah Kely yang tersipu malu. Tapi…. dia tidak berminat menjadi kumbang seperti yang diharapkan Kely.
“Yuk ah! Aku mau ke kantin.” Ujar Rio kemudian. Ditinggalkannya kedua gadis itu. Dia tidak tahan melihat wajah penuh harap dan debar dari Kely. Ya,.. cinta memang tak bisa dipaksakan.
“Yaaah.. ..kok, kayaknya dia nggak tau maksudmu sih. Atau pura-pura nggak tau. “Jill memandang kepergian Rio dengan lesu.
“Dia tahu cuma pura-pura enggak tau. Aku saja yang bodoh. Terlalu mengharapkan yang tak mungkin!” gumam Kely sedih.
“Padahal rencana kita berhasil. Dia pasti melihat agendamu. “Jill membetulkan letak kaca matanya.
“Sudahlah. Dunia enggak selebar daun kangkung, Masih ada cowok cakep dan baik buat kamu, Kel. “Lanjut Jill, mencoba menghibur sahabatnya. Kely hanya tersenyum pahit. Benar-benar pahit. Pil kina mungkin kalah.
***
Rasanya ingin meledak tangis Kely, ketika Nana mengatakan Rio lagi ngincar anak SMEA kelas satu TB I. Untunglah dia masih ingat di mana dia berada. Kalau tidak, mungkin sudah pecah tangisnya sejak tadi.
“Namanya Tika, “ ujar Nana.
“Anaknya pendiam, “ Hesti menambahkan.
Masih banyak cerita dan komentar tentang Tika. Dan Kely tak kuat lagi mendengarnya. Semuanya terasa menyakitkan. Perih menusuk-nusuk ulu hatinya. Terlebih lagi bila ingat sikap Rio yang berubah. Tentu saja Kely tidak tahu kalau Rio merasa enggak enak hati setiap kali mereka bertemu pandang. Dia merasa berdosa telah mengecewakan Kely.
Jill yang baru datang dari perpustakaan jadi bertanya-tanya melihat Kely yang duduk termenung. Ditepuknya lembut bahu sahabatnya itu.
“Melamun terus, kesambet tuyul lho nanti!”
“Kamu kenal Tika nggak?” tanya Kely antusias begitu melihat kehadiran Jill.
“Tika? Yang anak SMEA itu?” Kening Jill berkerut.
Kely mengangguk, “Rio naksir dia, “ bisiknya.
“Cemburu ya?” Jill tersenyum menggoda.
“Nggak… Cuma ….”
“Alaaa… ngaku aja deh!”
“Iya… iya deh. Tapi aku mau liat nih. Seperti apa sih Tika itu?”
“Seperti …. Tuh dia orangnya,” Jill menunjuk seorang gadis mungil yang melewati kelas mereka. Kely menatapnya tak berkedip. Gadis sederhana seperti itu yang disukai Rio. God! Betapa sesungguhnya kecantikan bukan faktor utama yang membuat seorang cowok jatuh cinta. Ah… aku saja yang bodoh. Aku malu, Kely membatin sedih.
“Gadis yang biasa saja dengan kecantikan standard. Tetapi…Rio menyukainya” Ujar Jill seolah bisa membaca pikiran Kely. “Mmm…sebaiknya kamu lupakan Rio. Cari yang lain aja deh.” Lanjutnya.
Saat itu Doni muncul di ambang pintu. Senyumnya langsung merekah sewaktu melihat Kely yang secara tak sengaja memandangnya.
“Nah sama dia aja,” bisik Jill. “Biar tampang pas-pasan, yang penting hatinya.”
Kely diam saja. Selintas kenangan membayang di benaknya. Doni yang selalu memperhatikannya dan siap menolongnya bila ada kesulitan. Doni yang ramah dan masih menantikan jawabannya. Ah, dia memang tidak setampan Rio tapi hatinya selembut salju.
“Don, ntar malam apelin Kely, ya?” Suara Jill memecah kebisuan.
Doni tertegun sesaat.
“Beneran nih? Aku boleh ke rumahmu, Kel?” tanyanya ragu. Kely tak menjawab. Ditatapnya Doni. Doni balas menatap mesra. Kely tersipu.
“Duuuh, kulihat cinta dimatanya….,” Jill menangkup kedua tangannya di dada membuat wajah Doni tak kalah merahnya dengan wajah Kely. Akh…..
(KADO KECIL BUAT SOBATKU : KELY)
Komentar
Absen dulu deh
"wakks"
baca lagi ahh...
baca lagi ahh....
bukannya kumbang itu pasangannya sepeda???
jadi seharusnya sepeda kumbang... >.<
baca lagi ahh...
koq ga ada nama joe di atas??? sekali-kali bikin cerpen yang ada nama joe-nya teh, terserah deh sebagai apa, sebagai pot bunga kah, pager sekolah, kentongan satpam, yang penting ada joe nya hikz...
yawdah dehh... aku pulang kalo gitu...
walaahhh Kelly akhirnya sama Doni, cinta memang gak bisa dipaksa. Eh jill kan mbak fanny sendiri yak, ehm seandainya mbak fanny dulu satu sekolah sama aq pasti sudah kusuruh nyomblangin aq sama 'dia' *membayangkan* xixixixixixi
ella jadi inget ma lagunya CIARA yg Never Ever...liriknya gini
If that boy don't love you by now
He will never ever, never ever love you
dia sedang beli popok
cewek untuk dikejar cowok
kok malah mengejar cowok
Kayaknya Karin lebih ngeh ama judul "Kulihat Cinta Dimatanya" daripada "Oh, Doni" kesannya agak2 gmn... gt...
Btw, lam kenal!
:)
ets!...itu joni oh joni ding mba, salah aku, bru inget..hehhehhe...
kita ternyata sama2 pernah jadi mak comblang. malah klo aku, cowoknya malah jadian ama aku heheheheh
nice post...
aku ga mau ngejar2 cowok lagi ah... nanti suamiku ngamuk hahahaha
Ada saatnya dikejar
ada saatnya harus melaui hansip
Pesan yang di sampaikan mengena banget, memang bila sesuatu itu susahlah di kejar kejar teruslah jangan putus asa. Sebelum janur kuning melengkung ...*LhO*...
hihihihihi
:)
lama amat neh berbukanya
ini nggak usah dipublikasina yaa....
salam mbak...
selamat ya...
oia..aku enggak ngerti niih maksud dari pesan mbak yang dishoutmix aku,,apa maksudnya??
bwakakakkakaka
nice story,Gan!
:)
Memang lebih baik di cintai dari pada mencintai tapi, kadang hati susah untuk dapat menerima cinta seseorang yang mencintai kita tapi kita tidak cinta.
I try to learn that but really hard.
mencintai adalah anugrah yach aku setuju.