PANDA, I LAP YOU!
asal usul ide :
ide cerpen ini mirip dg cerpen berjudul : WO AI NI, PEN.
Tapi di cerpen ini saya mengambil lokasi di Beijing Zoo. Alur cerita dan tokoh juga berbeda. Hanya idenya aja yang mirip.
Dimuat di Ozindo Magazine, April 2009
Seekor beruang panda sedang bermalas-malasan diatas sebatang pohon. Wajahnya disembunyikan di dada. Bulu-bulu di tubuhnya tidak seputih dan sebersih panda dalam gambar dan film-film kartun yang pernah kulihat. Mungkin karena kotoran dan tanah yang melekat sehingga warna putih dari bulu-bulu itu ternoda. Panda asli yang menurutku tak seimut dan selucu panda dalam gambar itu telah membuat pikiranku berkelana ke Jakarta, tepatnya ke masa-masa indah bersama Ben.
“Panda, pinjem catatan pisika, dong!” pinta Ben.
“Boleh aja, tapi….yang bener dong kalo sebut nama gue. VANDA. Coba ulangi!” godaku sambil nyengir jahil. Padahal aku tahu banget, Ben tuh gak mungkin berhasil nyebut huruf V dan F tanpa merubahnya jadi P. Entah kenapa, lidah tuh cowok kuakuuu… sekaleee…kalo ngucapin ke dua huruf favoritku itu.
“Yaaa…Pan.., kalo gak mau kasih pinjem, terus terang aja. Gak usah ngerjain gue!” Wajah Ben langsung berubah. Niat jahilku langsung lenyap. Jelek-jelek gitu, dia sobat cowok yang paling baik di kelasku. Eh, enggak deng…siapa bilang Ben jelek? Ben itu lumayan cakep kok. Cewek-cewek di kelasku dan di kelas sebelah banyak yang naksir dia. Mereka suka nitip salam sama aku karena mereka pikir aku sahabat Ben.
“Ben, kenapa sih elo susah bener ngucapin huruf V dan F? “ tanyaku serius sambil menyerahkan buku catatan Fisika yang mau dipinjamnya.
“Tau nih! Dari kecil, lidah gue udah begini, Pan. Gue udah pontang panting ngebenerin ucapan gue. Tapi hasilnya nihil. Yang ada malah gue diketawain temen-
temen.” Ben berkata, pasrah. Diambilnya buku catatanku. Membolak balik halamannya
dan mulai menyalin. Aku terdiam memandanginya. Akh, kasihan Ben. Padahal, sebagai
cowok dia itu nyaris sempurna. Baik, perhatian, ganteng. Otaknya encer lagi. Sayang…..
“Ben, lo napa seeh …? Gue perhatiin, udah beberapa hari ini lo suka bengong. Lo lagi jatuh cinta ya?” tanyaku suatu hari ketika melihat Ben duduk menyendiri di taman sekolah. Akhir-akhir ini cowok itu emang suka banget melamun.
“Iya, gue lagi jatuh cinta tapi…bingung gimana nyatain perasaan gue ke cewek itu, “ Jawaban Ben membuatku terperangah.
“Wow! Wow! Ben fall in love!” Aku mengedipkan mata. “Sama siapa nih? Namanya gak pake huruf V dan F, ‘kan ?” godaku.
Ben menunduk lesu. “Itu masalahnya. Nama cewek itu pake hurup yang bisa bikin muka gue merah setiap kali menyebutnya. Bikin gue minder dan gak berani nyatain perasaan gue ke dia. Soalnya….nyebut namanya aja gak becus. ” Ujar Ben pelan. Kepalanya makin menunduk dalam. Aku jadi iba. Kutepuk-tepuk bahunya.
“Poor Ben,” gumamku. “Boleh tau gak siapa nama tuh cewek? Kali aja, gue bisa bantu supaya lo bisa sebut namanya tanpa harus ngucapin huruf keramatnya. Misalnya, nama tuh cewek Farida. Lo bisa panggil dia Ida. Atau …Ira, ” Aku memberi contoh.
Ben mengangkat kepalanya. Matanya menatapku lekat-lekat. Ihhh….aku jadi merinding. Tatapan Ben lain banget dari biasanya. Apa dia tersinggung dengan ucapanku barusan? Enggak! Itu bukan tatapan marah! Tapi, tatapan yang dilumuri bingung dan …kayaknya ada binar-binar mesra deh! Apa ini feeling aja, ya?
“Cewek itu bernama Panda Pelicitas. Kan gue gak mungkin manggil dia : NDA! NDA! Kayak orang Jawa lagi nolak sesuatu : Ndak! Ndak! Mau manggil DADA. Kesannya, gak sopan. Kayak lagi nyebut anggota tubuh aja. Kalo gue panggil dia : ANDA. Jelek banget! ANDA? Kamu ? Kau? You? Paling enak memang panggil dia : PANDA. Tapi, kesannya jadi kayak ngejek dia.”
Gubraakkk! Kata-kata Ben yang to the point sontak membuatku nyaris pingsan. Buru-buru, kupindahkan tanganku dari bahunya. Gila banget! Asli gila! Mana mungkin sih Ben mencintaiku? Tepatnya, mana mungkin aku menerima cintanya? Selama ini, aku hanya menganggapnya sahabat. Nggak lebih. Iya, kuakui, Ben cakep, pinter, baik hati dan tidak sombong. Pokoknya, tipe cowok idaman deh! Tapi, aduh…masa iya aku pacaran sama cowok yang ngucapin namaku aja gak becus?
“Ben, lo jangan bercanda dong. Gak mungkinlah elo naksir gue.” Ujarku akhirnya. Bingung sih mesti ngomong apa. Mau nolak, gak enak hati. Tapi menerimanya lebih gak mungkin lagi.
“Maap, Pan. Gue serius kok. Gue sayang sama elo sejak dulu, tapi baru sekarang gue sadar kalo rasa sayang ini bukan sekedar sayang terhadap sahabat.” Ben berkata mantap. Semantap tatapannya yang menghunjamku bagai panah-panah asmara yang dilontarkan sang Cupid.
Aku yang biasanya cuek jadi gelagapan. Honest, it’s really my first experience!
Seumur-umur, baru kali ini ditembak cowok. Kalo diusilin, dijahilin, disuit-suitin sih udah kenyang dan ngadepinnya gampang. Tetapi, ditembak sama sahabat sendiri?
“Pan…,” Tiba-tiba Ben meraih tanganku. Menggenggamnya mesra.
“Gue tau elo pasti kaget sama pernyataan gue tadi. ” Katanya lembut banget. “Gue gak maksa elo kok. Kalo lo gak mau jadi pacar gue, gak pa pa. Tapi, gue minta dengan sangat, jangan ngejauhin gue, ya? Jangan sampai pengakuan gue tadi merusak persahabatan kita.” Pintanya. Mungkin dia pikir aku marah karena aku gak ngasih komentar apapun. Akh, Ben….aku gak marah kok. Aku cuma bingung mesti gimana. Akhirnya, aku hanya bisa mengangguk kaku atas permintaannya.
Persahabatan kami pun terus berlanjut. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Tetapi, sesungguhnya tali persahabatan yang sudah terjalin sejak kami masih kelas II SMP, tidak lagi sekokoh dulu. Sering kali, saat kami sedang bercanda gila-gilaan, keheningan mendadak menyergap. Kami bisa sama-sama terdiam tanpa sebab. Hanya mata saling menatap, yang diakhiri dengan saling buang pandang dengan wajah sama-sama merah. Ada kalanya, tawaku yang membahana seketika berhenti bagai disihir saat kusadari mata Ben sedang menjelajahi wajahku dengan selaksa cinta. Akupun meleleh bagai lilin yang terbakar pelan-pelan.
Tanpa kusadari, ada debar aneh setiap kali berdekatan dengan Ben. Ada rasa kangen yang membuncah bila Ben sakit dan tidak masuk sekolah. Ada api cemburu yang menyala setiap kali menyampaikan salam-salam centil dari fans Ben. Tapi…semua rasa itu kutanam dalam-dalam. Aku tidak mungkin jadian sama Ben. Kecuali…Ben bisa mengucapkan namaku dengan sempurna. VANDA FELICITAS! Aku yang suka kesempurnaan memang gak bisa menolerir ketidaksempurnaan Ben.
“Vanda!!” Aku tersentak. Lamunanku buyar. Refleks, kepalaku menoleh. Papa dan mama berjalan menghampiriku. “Ya ampun, Vanda! Kamu kemana aja sih? Mama sampai cemas. Dicari kemana-mana, gak taunya disini. Mama pikir kamu diculik.” Ujar mama setibanya di hadapanku. Dihembuskannya nafas. Kelegaan terpancar di wajahnya. Diculik? Yang bener aja, memang aku anak TK?
“Mama kenapa sih? Sejak tadi Vanda disini terus kok. Ngeliat itu tuh.. teman Vanda yang lagi berjemur, “ Kutunjuk seekor anak panda yang sedang memanjat pohon.
“Mamanya aja yang keluyuran. Bukannya jagain Vanda.” candaku.
‘Iihh, nih anak! Ngajak bercanda lagi. Gak tahu ya, kita semua bingung nyariin kamu!” Mama menjewer kupingku. Aku meringis. Mama nih keterlaluan. Udah gede begini masih aja dijewer. Di depan orang banyak lagi.
“Ma…sudah….sudah.. yang penting kita udah berhasil nemu Vanda.” Tukas Papa lalu menatapku. “Vanda, lain kali kalo mau memisahkan diri dari rombongan, bilang dulu ke mama atau papa. Kasih tahu, kamu mau ke arah mana. Jangan ngeloyor aja, ya?” Papa menegurku, lembut tapi tegas. Aku mengganguk. Tanpa komentar, kuikuti langkah kedua orang tuaku, menghampiri mas Arif - Tour Leader yang mendampingi kami sejak di Jakarta - yang sedang melambai-lambaikan sebuah bendera kecil berwarna biru metalik dengan tulisan GOLD TOUR, nama biro perjalanan yang mengkoordinir acara tour ke China selama 9 hari ini.
Sementara itu, peserta tour lainnya berdiri bergerombol di belakang mas Arif. Beberapa diantara mereka asyik ngobrol dengan mister Lee, pemandu wisata asli Beijing yang disewa GOLD TOUR untuk memimpin acara tour selama di Beijing.
“Miss Vanda! Saya pikir kamu sudah hilang digaet cowok Beijing yang ganteng.” Gurau mister Lee yang fasih berbahasa Indonesia itu, menyambut kedatanganku si anak hilang. Aku tersenyum malu. Gila! Sepertinya, mereka sudah lama mencariku. Padahal aku gak keluar dari area Beijing Zoo ini. Mungkin, tubuh mungilku tertutup tubuh para pengunjung lainnya sehingga gak terlihat mereka. Hari Minggu begini, Beijing Zoo memang gak beda dengan kebun binatang Ragunan. Ramai bo!
***
Usai berfoto ria, aku duduk melepas penat di salah satu anak tangga. Cape banget! Sejak pukul 8 pagi, kakiku tak henti-hentinya berjalan. Dimulai dari lapangan Tian An Men, Mao Tze Dong Memorial Hall, Forbidden City sampai disini, Temple of Heaven yang merupakan tempat kaisar di zaman Ming dan Qing melaksanakan upacara keagamaan. Uf! Kupijat-pijat sepasang betisku yang bentuknya pasti sudah sebesar konde.
“Cape, Van?” Papa duduk disampingku sambil memerhatikan Mama yang sedang sibuk merekam dengan handycam-nya.
“Banget!”
“Tapi seru ‘kan?” Papa mengusap kepalaku. “Gimana? Kamu belum kasih komentar tentang negara ini lho! Biasanya, setiap kita traveling kamu selalu bawel. Sekarang…..kok jadi pendiam gini sih? Ingat Ben, ya? ” goda papa.
“Ih, papa….!” Aku mencibir sebal. “Siapa juga yang mikirin Ben?” Aku berbohong. Padahal ucapan papa tadi betul 100 %. Bayang-bayang Ben memang mengikuti terus sejak hari pertama aku tiba di Beijing. Entah kenapa, acara liburan panjangku bersama papa dan mama kali ini terasa hambar. Padahal, jauh-jauh hari sebelum berangkat aku begitu antusias. Nggak sabar, ingin menyaksikan keindahan alam Negeri Tirai Bambu ini.
“Oke deh, Vanda mau ngasih komentar. “ sergahku cepat sebelum papa membuka mulutnya lagi. “Vanda suka negeri ini, pa. Terutama Great Wall-nya. Fantastik! Kok bisa sih mereka bikin tembok sepanjang itu? Vanda juga suka ngeliat ketangkasan para pemain akrobat China. Huebatt! Pasti berat banget latihannya, ya? Tapi, Vanda benci WC nya! Jorok dan bau. Dari jauh udah tercium harumnya. Nggak pernah disiram dan dibersihin tuh. Udah gitu, penduduk di sini suka buang ludah sembarangan. ‘Kan jijik! Apa mereka gak diajar gimana caranya menjaga kebersihan?”
Papa tertawa. Dibelainya rambutku dengan sayang.
“Negeri ini memang luar biasa, Van.” Puji papa. “tapi, ada kekurangannya. Salah
satunya yaaa… itu tadi. Harum Pesing-nya bikin kepala pusing dan membuatnya… TIDAK SEMPURNA,“ lanjut papa penuh arti. “Sama seperti kita. Papa, mama, kamu dan ….Ben. Nggak ada yang sempurna. Masing-masing punya kelebihan, juga kekurangan. Hanya Tuhan yang sempurna.”
Ben lagi! Papa ini kenapa sih kok nyebut nama itu terus? Dari WC yang bau, kok nyerempet ke Ben? Umm…. aku memang dekat sih sama papa dan sering banget curhat termasuk soal Ben. Gak heran, kalo papa bisa merasakan kegalauan hatiku.
“Pa….plis….jangan sebut nama Ben lagi dong!” Aku memohon.
“Vanda,” Papa menghela nafas. Kedua tangannya menangkup wajahku. Matanya menatapku lembut. “Papa cuma mau bilang. Ben itu anak baik. Jangan tutup hatimu hanya karena retakan kecil tak berarti. Sebab, cinta sejati bisa menerima ketidaksempurnaan. Kamu ngerti maksud papa, ‘kan?”
Aku mendesah sebelum mengangguk pelan.
***
Malam harinya, aku bermimpi ketemu Ben. Cowok itu sedang duduk di teras rumahku. Dipangkuannya ada sebuah boneka panda yang besar. Sambil memeluk boneka itu, Ben berkata : Panda, I lap you! Ah, Ben….. I love you, too!
Komentar
belom mosting award
hehehehe bejibun
PANDA. Tapi, kesannya jadi kayak ngejek dia.”
=======
Persis saat aku manggil dikau : Pan..Pan...hallo. Pani...Pani...:) (ngakak mode on)
Hallo bu pan pan, pa kabar ???
hehehehehe
beneran itu mbak??? wah,,kasian juga tuh si ben.
bisa-bisa dia "ngaji" tiap hari hanya utnuk ngerubah "ep" sama "pe"
hehehehehe
kalau kepasar tolong belikan
akan tiba bulan Ramadhan
salah, khilaf bamz mohon dimaafkan
pan..pan.. pan bener orang betawi,..
Disanding elok degan berlian,
Berhubung sabtu udah Ramadhan,,
Salah dan Khilaf mohon dimaafkan
ha..ha
Fauzan NR [ fhom.blogspot.com ]
Sukses selalu
Fauzan NR [ fhom.blogspot.com ]
Memang nyebelin Fan kalo ada yg ga bisa ngomong F dan V. Kalo namamu masih jadi Panny, kalo aku kan jadi Panda....
Mbak, mohon maaf atas segala khilaf. Sepertinya, nanti saya jarang mampir ke rumah mbak... :)
maklum dah malem mata dah setengah watt
lam kenal dar elmoudy, mbak
Bisa aja niy mbak Fanny buat ceritanya..
Kalo aku sejak dulu curhat apa-2 ya sama ibu, gak pernah sama ayah mbak..
Kangen cerpen cerpennya Mbak Fanny, numpang baca ya mbak, sambil nunggu buka puasa.